Sertifikasi Halal Dorong Ekspansi UMKM di Tengah Tekanan Ekonomi

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal ketiga tahun ini, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, ...

Aug 07, 2026 - 17:09
0 0
Sertifikasi Halal Dorong Ekspansi UMKM di Tengah Tekanan Ekonomi

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal ketiga tahun ini, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, di balik kontribusi besar tersebut, tantangan utama yang dihadapi pelaku UMKM adalah rendahnya tingkat penetrasi pasar formal akibat keterbatasan sertifikasi produk. Salah satu contoh nyata datang dari BUNCY, usaha cheese stick yang didirikan oleh Lucy Emilda di tengah masa pandemi. Melalui program pelatihan sertifikasi halal yang difasilitasi oleh BRI Peduli, Lucy berhasil memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produknya.

Dari Pandemi ke Peluang: Transformasi BUNCY

Ketika pandemi melanda pada 2020, banyak usaha kecil terpaksa berhenti beroperasi. Namun, Lucy Emilda justru melihat celah pasar untuk produk camilan sehat berbahan dasar keju. Awalnya, BUNCY hanya dipasarkan melalui media sosial dengan kapasitas produksi 50 bungkus per hari. Setelah mengikuti pelatihan sertifikasi halal yang diadakan oleh BRI Peduli pada awal tahun ini, kapasitas produksinya meningkat hingga 300 bungkus per hari, atau naik enam kali lipat. Sertifikasi halal, yang dikeluarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), menjadi pintu masuk bagi BUNCY untuk bekerja sama dengan ritel modern dan platform e-commerce besar.

Di satu sisi, proses sertifikasi halal memang memerlukan biaya dan waktu, terutama bagi UMKM dengan skala mikro. Namun, di sisi lain, manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar. Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa UMKM bersertifikat halal mengalami kenaikan omzet rata-rata sebesar 15-20% year-on-year dalam enam bulan pertama setelah memperoleh sertifikasi. Hal ini sejalan dengan pengalaman Lucy, yang mencatatkan peningkatan omzet bulanan dari Rp15 juta menjadi Rp45 juta dalam kurun waktu tiga bulan setelah sertifikasi terbit. "Sertifikasi ini bukan sekadar stempel, tetapi bukti komitmen kami terhadap kualitas dan keamanan produk," ujar Lucy dalam wawancara dengan tim redaksi.

Dampak Sertifikasi terhadap Kepercayaan Konsumen dan Rantai Pasok

Kepercayaan konsumen merupakan aset paling berharga bagi UMKM. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Riset Ekonomi Nusantara pada Agustus lalu, 78% konsumen Indonesia lebih memilih produk berlabel halal, bahkan jika harganya lebih tinggi 10-15% dibandingkan produk sejenis tanpa label. Fenomena ini mencerminkan pergeseran perilaku konsumen yang semakin sadar akan aspek kehalalan dan higienitas produk. Dengan memiliki sertifikat halal, BUNCY tidak hanya menarik konsumen Muslim, tetapi juga konsumen non-Muslim yang mengasosiasikan label halal dengan standar kebersihan yang ketat.

Pro: Sertifikasi halal membuka akses ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor ke negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Malaysia, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Kontra: Proses sertifikasi yang berulang setiap dua tahun sekali dapat menjadi beban administratif bagi UMKM dengan sumber daya terbatas. Meski demikian, program pelatihan dari BRI Peduli dirancang untuk mengatasi hambatan ini dengan memberikan pendampingan gratis, mulai dari pengisian dokumen hingga audit internal. Sejak program ini diluncurkan pada 2023, lebih dari 5.000 UMKM telah terbantu, dengan tingkat keberhasilan sertifikasi mencapai 92%.

Proyeksi Pertumbuhan dan Peran Korporasi dalam Ekosistem UMKM

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor UMKM bersertifikat halal sangat positif. Bank Indonesia memperkirakan bahwa pada tahun 2025, kontribusi UMKM terhadap ekspor non-migas akan meningkat dari 15,7% menjadi 20%, didorong oleh percepatan digitalisasi dan sertifikasi halal. Namun, fundamental ekonomi yang kuat saja tidak cukup tanpa dukungan likuiditas. Program pelatihan seperti BRI Peduli berperan sebagai katalis, tetapi akses terhadap pembiayaan dengan bunga rendah tetap menjadi tantangan. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan saat ini baru mencapai 30%, jauh di bawah target pemerintah sebesar 35% pada akhir tahun ini.

Sentimen pasar terhadap produk UMKM lokal juga semakin positif, terutama setelah kampanye nasional tentang pentingnya sertifikasi halal. Valuasi produk UMKM bersertifikat halal di pasar e-commerce tercatat 25% lebih tinggi dibandingkan produk tanpa sertifikasi, berdasarkan data dari platform Tokopedia dan Shopee. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa sertifikasi halal bukanlah satu-satunya faktor penentu kesuksesan. Inovasi produk, strategi pemasaran digital, dan manajemen keuangan yang baik tetap menjadi pilar utama. Lucy Emilda sendiri berencana untuk mengembangkan varian rasa baru dan memasuki pasar ritel modern di luar Pulau Jawa pada tahun depan, didukung oleh modal yang diperoleh dari peningkatan omzet.

Kesimpulannya, cerita BUNCY adalah representasi dari ribuan UMKM lain yang berhasil memanfaatkan sertifikasi halal sebagai alat untuk bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan dukungan korporasi seperti BRI Peduli, ekosistem UMKM di Indonesia memiliki potensi untuk menjadi tulang punggung ekonomi yang lebih kuat dan inklusif. Namun, pemerintah dan sektor swasta perlu terus berkolaborasi untuk mengurangi biaya sertifikasi, mempercepat proses, dan memberikan insentif bagi UMKM yang belum terjangkau. Hanya dengan cara itu, target pertumbuhan inklusif yang dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025 dapat tercapai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User