Oct 19, 2026
Bisnis

Serapan Anggaran Pertanian Aceh Baru 60 Persen dari Rp900 Miliar

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri per akhir periode pelaporan triwulanan, penyerapan anggaran pemulihan sektor pertanian di kawasan bencana Sumatra baru mencapai kisaran 50 hingga 60 persen da...

Serapan Anggaran Pertanian Aceh Baru 60 Persen dari Rp900 Miliar

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri per akhir periode pelaporan triwulanan, penyerapan anggaran pemulihan sektor pertanian di kawasan bencana Sumatra baru mencapai kisaran 50 hingga 60 persen dari total pagu yang dialokasikan sebesar Rp900 miliar. Provinsi Aceh tercatat sebagai salah satu daerah dengan capaian terendah, sementara beberapa kabupaten di Sumatra Utara dan Sumatra Barat menunjukkan laju realisasi yang lebih cepat. Angka ini menjadi sorotan karena sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi lokal dengan kontribusi terhadap produk domestik regional bruto yang signifikan.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa keterlambatan serapan anggaran di Aceh dipengaruhi sejumlah faktor struktural, mulai dari verifikasi data penerima manfaat hingga kondisi infrastruktur jalan usaha tani yang masih belum sepenuhnya pulih pasca bencana. Pemerintah pusat menargetkan seluruh dana dapat terserap sebelum akhir tahun anggaran, namun realisasi di lapangan menunjukkan kompleksitas tata kelola yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan percepatan administrasi.

"Kami mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat proses lelang dan pencairan, karena dana yang tertahan berarti pemulihan ekonomi petani juga tertunda," ujar Tito dalam rapat koordinasi percepatan realisasi anggaran.

Pro: Serapan Bertahap Justru Menjaga Akuntabilitas

Di satu sisi, ekonom pembangunan menilai laju penyerapan yang tidak tergesa-gesa dapat menjadi sinyal positif dari sisi tata kelola. Rasio serapan yang moderat mencerminkan adanya proses verifikasi berlapis untuk memastikan bantuan tepat sasaran, terutama di wilayah yang data kependudukannya terdampak bencana. Jika dana digelontorkan terlalu cepat tanpa validasi, risiko salah sasaran dan kebocoran anggaran justru meningkat.

Dari perspektif fiskal, penyerapan bertahap juga memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan rencana kegiatan dengan kondisi lapangan terkini. Misalnya, harga input pertanian seperti benih dan pupuk mengalami fluktuasi year-on-year, sehingga anggaran yang dicairkan belakangan bisa dialokasikan dengan valuasi yang lebih akurat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengelolaan portofolio belanja publik yang mengutamakan kualitas ketimbang kecepatan semata.

Selain itu, menjaga likuiditas kas daerah di awal periode dapat membantu pemerintah kabupaten menutup kebutuhan darurat lain yang belum teranggarkan, seperti perbaikan irigasi tersier dan jembatan penghubung antar-desa. Dalam konteks pemulihan pasca-bencana, fleksibilitas semacam ini kerap lebih bernilai dibanding realisasi angka yang tinggi di atas kertas.

Kontra: Lambatnya Realisasi Menekan Fundamental Ekonomi Petani

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai keterlambatan serapan anggaran berpotensi memperpanjang masa pemulihan ekonomi rumah tangga petani. Dengan pagu Rp900 miliar yang tersebar di beberapa provinsi, setiap persentase yang belum terserap setara dengan puluhan miliar rupiah yang belum berputar di ekonomi lokal. Dampaknya terasa pada penurunan daya beli, melemahnya sentimen pasar di tingkat desa, dan meningkatnya risiko petani beralih ke pekerjaan non-pertanian.

Data historis menunjukkan pola serapan anggaran yang kerap menumpuk di akhir tahun. Jika pola ini berulang, kualitas belanja cenderung menurun karena pengadaan dilakukan terburu-buru dengan harga yang kurang kompetitif. Kondisi ini bisa menciptakan capital outflow tidak langsung, dalam arti modal kerja petani tersedot untuk membiayai kebutuhan konsumsi alih-alih investasi produktif. Pada akhirnya, proyeksi pertumbuhan sektor pertanian di wilayah terdampak bisa lebih rendah dari asumsi awal.

Angka serapan 50 hingga 60 persen di Aceh juga berimplikasi pada target produksi pangan nasional. Jika musim tanam berikutnya tidak didukung pendanaan yang memadai, indeks produksi padi dan palawija di kawasan tersebut berisiko stagnan. Padahal, sektor ini menyumbang serapan tenaga kerja yang besar dan menjadi jaring pengaman sosial alami di daerah rural.

Jalan Tengah: Percepatan Administrasi Tanpa Mengorbankan Kontrol

Menyikapi dua perspektif tersebut, langkah yang paling rasional adalah mempercepat proses administrasi di tingkat kabupaten sambil tetap mempertahankan kontrol internal yang memadai. Pemerintah pusat dapat mendorong penggunaan sistem pencairan bertahap berbasis capaian kinerja, sehingga dana tetap mengalir tanpa harus menunggu seluruh dokumen rampung. Pendampingan tenaga ahli dari provinsi ke kabupaten juga diperlukan untuk mengurai hambatan teknis di lapangan.

Dari kacamata pasar, pelaku usaha di sektor input pertanian berharap kepastian jadwal pencairan agar dapat mengatur persediaan barang. Ketidakpastian ini turut memengaruhi tren harga di tingkat grosir, meskipun dampaknya belum signifikan terhadap indeks harga nasional. Transparansi laporan realisasi bulanan menjadi kunci agar publik dapat menilai sejauh mana komitmen pemulihan dijalankan.

Dengan sisa waktu yang tersedia, capaian serapan di Aceh dan wilayah lain di Sumatra masih berpeluang naik. Namun tanpa perbaikan tata kelola, risiko mengulang pola serapan akhir tahun tetap terbuka. Keseimbangan antara kecepatan dan akuntabilitas akan menentukan apakah anggaran Rp900 miliar mampu menjadi katalis pemulihan, atau sekadar angka di atas kertas yang tertahan di rekening kas daerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User