Selat Hormuz Memanas, IHSG Lanjutkan Reli: Analisis Dua Sisi

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Juni 2025, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 150,2 miliar dolar AS, sementara inflasi year-on-year berada di kisaran 1,6 persen. Di tengah fun...

Aug 10, 2026 - 09:14
0 0
Selat Hormuz Memanas, IHSG Lanjutkan Reli: Analisis Dua Sisi

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Juni 2025, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 150,2 miliar dolar AS, sementara inflasi year-on-year berada di kisaran 1,6 persen. Di tengah fundamental domestik yang relatif terjaga tersebut, pasar keuangan Tanah Air menghadapi ujian baru dari sisi eksternal: eskalasi geopolitik di Timur Tengah menyusul langkah parlemen Iran menggodok rancangan undang-undang (RUU) yang melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz. Menariknya, meski ketegangan global meningkat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melanjutkan reli dan bergerak di zona hijau.

RUU Larangan Kapal AS-Israel dan Artinya bagi Pasar Energi

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk Persia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global, atau kurang lebih 17 juta hingga 20 juta barel per hari, melewati selat selebar sekitar 33 kilometer ini. RUU yang digagas parlemen Iran muncul sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir negara tersebut. Jika disahkan dan benar-benar diterapkan, langkah ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia.

Di satu sisi, kekhawatiran pasar cukup beralasan. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level 81 dolar AS per barel setelah eskalasi meningkat, mengalami kenaikan lebih dari 10 persen dibanding posisi awal Juni 2025. Bagi Indonesia yang masih menjadi importir minyak mentah dan bahan bakar, kenaikan harga energi berarti tekanan pada neraca perdagangan, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, serta risiko imported inflation, yakni kenaikan harga di dalam negeri yang dipicu mahalnya barang impor.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai ancaman penutupan Hormuz lebih bersifat simbolik ketimbang realistis. Secara historis, Iran berulang kali mengancam menutup selat ini namun tidak pernah benar-benar melakukannya, karena langkah tersebut justru akan merugikan ekonomi Iran sendiri yang bergantung pada ekspor minyak ke Asia, terutama China. Selain itu, negara-negara produsen yang tergabung dalam OPEC+ masih memiliki kapasitas cadangan atau spare capacity, yakni kemampuan produksi menganggur yang dapat diaktifkan untuk meredam lonjakan harga.

IHSG Melanjutkan Reli di Tengah Ketidakpastian Global

Sentimen geopolitik tersebut nyatanya tidak menghentikan laju penguatan bursa domestik. IHSG mengalami kenaikan dan bergerak di kisaran level 7.100, melanjutkan tren reli yang sudah berlangsung sejak awal bulan. Dalam sepekan, indeks acuan ini menguat lebih dari 2 persen, ditopang aksi beli investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan energi.

Di satu sisi, reli ini didukung fundamental yang cukup solid. Inflasi yang rendah memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan yang akomodatif, dengan suku bunga acuan BI Rate di level 5,5 persen. Likuiditas pasar yang memadai, valuasi saham Indonesia yang relatif murah dibanding pasar negara berkembang lain dengan rasio price-to-earnings sekitar 12 kali hingga 13 kali, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan menjadi katalis penguatan. Sektor energi dan batu bara bahkan diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas.

Di sisi lain, reli yang digerakkan sentimen jangka pendek menyimpan kerentanan. Jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut dan harga minyak bertahan di atas 85 dolar AS per barel, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat. Nilai tukar yang bergerak di kisaran Rp16.300 per dolar AS berpotensi melemah lebih jauh dan memicu capital outflow, yaitu keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi domestik. Kondisi semacam itu mampu membalikkan arah reli dengan cepat.

Proyeksi: Antara Optimisme dan Kewaspadaan

Ke depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh dua variabel, yakni perkembangan geopolitik Hormuz dan respons kebijakan moneter global. Di satu sisi, skenario de-eskalasi, misalnya gencatan senjata atau kegagalan RUU tersebut menjadi kebijakan resmi, dapat menormalkan harga minyak ke kisaran 70 dolar AS per barel dan memperpanjang reli IHSG hingga menguji level resisten berikutnya. Proyeksi sejumlah ekonom menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 tetap pada kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen.

Di sisi lain, skenario eskalasi menuntut kewaspadaan penuh. Gangguan pasokan energi dapat memicu lonjakan inflasi global, menunda pemangkasan suku bunga bank sentral utama dunia, dan menekan aset-aset berisiko termasuk di pasar negara berkembang. Bagi pelaku pasar, fase ini menegaskan pentingnya diversifikasi portofolio serta kehati-hatian dalam membaca volatilitas, alih-alih sekadar mengejar momentum kenaikan.

Pada akhirnya, kombinasi fundamental domestik yang terjaga dan risiko eksternal yang dinamis menempatkan pasar Indonesia pada posisi menarik namun penuh tantangan. Reli IHSG mencerminkan optimisme investor, tetapi keberlanjutannya akan diuji oleh seberapa jauh ketegangan di Selat Hormuz berubah dari sekadar retorika politik menjadi gangguan ekonomi yang nyata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User