Kemenkeu Ambil Alih 60 Persen Saham Whoosh: Efisiensi atau Beban Fiskal?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, perekonomian Indonesia pada triwulan III-2025 tumbuh 5,04 persen year-on-year, dengan sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah ...

Aug 10, 2026 - 10:30
0 0
Kemenkeu Ambil Alih 60 Persen Saham Whoosh: Efisiensi atau Beban Fiskal?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, perekonomian Indonesia pada triwulan III-2025 tumbuh 5,04 persen year-on-year, dengan sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu penopang utama lewat pertumbuhan di atas 8 persen. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga tersebut, pemerintah menyiapkan langkah restrukturisasi besar terhadap proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar pertemuan dengan Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) guna membahas percepatan pengelolaan kereta cepat tersebut, termasuk rencana Kementerian Keuangan mengambil alih 60 persen saham proyek, sekaligus penyempurnaan regulasi perpajakan untuk mendorong transformasi BUMN yang lebih efisien.

Skema Pengambilalihan dan Konteks Keuangan KCJB

Porsi 60 persen yang dimaksud merujuk pada kepemilikan konsorsium BUMN melalui PT Pilar Sinergi BUMN Karya (PSBI) di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh, sementara 40 persen sisanya dipegang China Railway International. Proyek ini menelan biaya sekitar US$7,3 miliar atau setara Rp118 triliun, membengkak signifikan dari estimasi awal sekitar US$5,5 miliar akibat cost overrun—selisih biaya aktual di atas perencanaan—yang dipicu pembebasan lahan dan pandemi. Pembengkakan tersebut dibiayai utang tambahan dari China Development Bank, sehingga beban bunga dan pokok menjadi tekanan berat bagi konsorsium BUMN karya yang dipimpin PT Wijaya Karya bersama PT Kereta Api Indonesia.

Dengan pengambilalihan oleh Kemenkeu, kewajiban pendanaan dan risiko finansial proyek berpindah dari neraca BUMN ke neraca pemerintah. Langkah ini sekaligus dibarengi penyiapan regulasi perpajakan baru agar proses transformasi dan konsolidasi BUMN di bawah BP BUMN berjalan lebih ramping dan tidak terbebani kewajiban pajak yang tumpang tindih.

Di Satu Sisi: Penyelamatan Aset Strategis dan Deleveraging BUMN

Di satu sisi, rencana ini dinilai sejumlah kalangan sebagai langkah rasional. Whoosh merupakan aset transportasi strategis yang telah mengangkut lebih dari 6 juta penumpang sejak beroperasi komersial pada Oktober 2023, dengan okupansi harian yang terus mengalami kenaikan. Kepastian pengelolaan di bawah pemerintah pusat dipandang dapat menjaga keberlanjutan layanan sekaligus memaksimalkan efek pengganda (multiplier effect) ekonomi di koridor Jakarta-Bandung.

"Pemindahan saham ke Kemenkeu memberikan kepastian pendanaan dan tata kelola, sekaligus memberi ruang bagi BUMN karya untuk melakukan deleveraging dan fokus pada bisnis inti," demikian pandangan yang berkembang di kalangan pengamat kebijakan publik.

Dari sisi pasar modal, langkah ini berpotensi memperbaiki valuasi saham BUMN karya. Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) emiten konstruksi pelat merah yang selama ini di atas 3 kali berpeluang turun, sehingga menarik minat portofolio institusional dan memperbaiki likuiditas perdagangan sahamnya.

Di Sisi Lain: Risiko Fiskal dan Moral Hazard

Di sisi lain, pengambilalihan ini menyimpan risiko fiskal yang tidak kecil. Defisit APBN 2025 diproyeksikan mencapai 2,78 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara rasio utang pemerintah berada di kisaran 39 persen terhadap PDB. Menampung aset beserta kewajiban utang proyek yang belum mencapai titik impas berpotensi mempersempit ruang gerak fiskal, terutama bila pendapatan tiket Whoosh belum mampu menutup biaya operasional dan cicilan utang dalam jangka menengah.

Kekhawatiran lain adalah moral hazard—preseden bahwa proyek BUMN yang mengalami pembengkakan biaya akan selalu diselamatkan negara. Jika tidak dibarengi evaluasi tata kelola yang ketat, pola serupa bisa terulang pada proyek infrastruktur lain. Sentimen pasar juga bisa berbalik negatif: investor asing yang memegang sekitar 14 persen Surat Berharga Negara (SBN) dapat melakukan capital outflow bila menilai konsolidasi fiskal terancam, yang pada gilirannya menekan indeks harga obligasi dan nilai tukar rupiah yang saat ini bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar AS.

Proyeksi dan Hal yang Perlu Dicermati

Ke depan, keberhasilan skema ini akan ditentukan tiga hal: kejelasan struktur pendanaan pasca-pengambilalihan, desain regulasi perpajakan yang tidak menggerus penerimaan negara, serta peta jalan komersial Whoosh menuju kemandirian finansial. Di satu sisi, tren pertumbuhan penumpang kereta cepat memberi harapan pendapatan; di sisi lain, proyeksi balik modal proyek infrastruktur kereta api secara global umumnya memakan waktu 20 hingga 30 tahun, sehingga kesabaran fiskal menjadi kata kunci.

Bagi investor dan pelaku pasar, perkembangan ini layak dicermati sebagai bagian dari tren besar transformasi BUMN di bawah BP BUMN, bukan sebagai dasar keputusan investasi jangka pendek. Fundamental makroekonomi Indonesia yang tumbuh di atas 5 persen tetap menjadi penopang utama, namun disiplin fiskal akan menentukan apakah pengambilalihan saham Whoosh menjadi solusi struktural atau sekadar memindahkan beban dari satu neraca ke neraca lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User