Sahate dan Ekspansi UMKM Pangan Sehat Indonesia ke Pasar Global
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM serta Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domest...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM serta Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja Indonesia, atau setara 117 juta jiwa. Di tengah struktur ekonomi yang bertumpu pada konsumsi domestik, kisah pelaku usaha rumahan yang menembus pasar ekspor menjadi indikator penting mengenai daya saing produk lokal. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Lince Sulastri, perajin camilan sehat berbahan beras dengan merek Sahate, yang mengembangkan usahanya dari dapur rumahan hingga menjangkau konsumen lintas negara melalui pendampingan ekosistem digital LinkUMKM dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Sahate merupakan camilan bebas gluten yang diolah dari beras, menjawab tren konsumsi sehat yang mengalami kenaikan signifikan pascapandemi. Produk bebas gluten adalah makanan tanpa kandungan protein gluten yang umumnya terdapat pada gandum, dan diminati konsumen dengan intoleransi gluten maupun penganut gaya hidup sehat. Berawal dari produksi skala rumah tangga, Lince memanfaatkan program pemberdayaan untuk mempelajari standardisasi produk, pengemasan, hingga strategi pemasaran digital.
Fundamental UMKM Pangan di Tengah Perlambatan Global
Pertumbuhan ekonomi Indonesia per triwulan III 2024 tercatat 4,95 persen year-on-year menurut BPS, sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Di satu sisi, perlambatan global dan ketidakpastian sentimen pasar menekan permintaan ekspor komoditas mentah. Di sisi lain, produk pangan olahan bernilai tambah justru menunjukkan tren resiliensi. Pasar camilan bebas gluten global diperkirakan bernilai lebih dari 7 miliar dollar AS pada 2023 dan diproyeksikan tumbuh dengan laju tahunan gabungan sekitar 9 hingga 10 persen hingga 2030.
Bagi UMKM seperti Sahate, fundamental permintaan tersebut membuka ruang ekspansi. Rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional memang masih sekitar 15 hingga 16 persen, jauh di bawah kontribusinya terhadap PDB. Kesenjangan ini menunjukkan potensi sekaligus pekerjaan rumah struktural berupa akses pasar, sertifikasi, dan standardisasi mutu.
Peran Intermediasi Perbankan dan Digitalisasi
LinkUMKM adalah platform pengembangan usaha besutan BRI yang menyediakan pelatihan, kurasi produk, dan fasilitasi pemasaran bagi pelaku usaha binaan. Melalui ekosistem ini, Lince memperoleh pendampingan mulai dari penataan administrasi usaha hingga strategi menembus kanal perdagangan lintas batas. BRI sendiri tercatat sebagai penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar dengan porsi lebih dari separuh penyaluran nasional, sehingga likuiditas pembiayaan bagi segmen mikro relatif terjaga.
Pemberdayaan UMKM tidak cukup berhenti pada penyaluran kredit. Yang menentukan keberlanjutan adalah pendampingan akses pasar, literasi digital, dan standardisasi kualitas agar produk lokal mampu bersaing di kancah global, demikian benang merah berbagai kajian ekonomi mengenai sektor UMKM nasional.
Dua Sisi: Peluang Ekspansi dan Risiko yang Mengintai
Di satu sisi, proyeksi pasar makanan sehat yang terus mengalami kenaikan, ditopang kesadaran konsumen akan kesehatan pencernaan, memberi angin segar bagi produk seperti Sahate. Pelemahan rupiah yang bergerak di kisaran Rp15.500 hingga Rp16.000 per dollar AS sepanjang 2024 juga meningkatkan daya saing harga produk ekspor Indonesia. Indeks kepercayaan konsumen yang berada pada level optimistis menambah dukungan dari sisi permintaan domestik.
Di sisi lain, tantangan tidak kecil. UMKM pangan menghadapi hambatan sertifikasi keamanan pangan internasional, biaya logistik ekspor yang tinggi, serta volatilitas harga bahan baku. Risiko capital outflow dari pasar negara berkembang akibat kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang lebih lama tinggi berpotensi menekan likuiditas domestik dan menaikkan biaya modal. Selain itu, skala produksi rumahan menuntut investasi pada kapasitas dan kontrol mutu agar konsistensi pasokan terjaga ketika permintaan global meningkat.
Proyeksi: Dari Dapur Rumahan Menuju Rantai Nilai Dunia
Ke depan, valuasi sektor pangan olahan fungsional diperkirakan terus menguat seiring pergeseran preferensi konsumen. Bagi portofolio UMKM nasional, diversifikasi produk berbasis sumber daya lokal seperti beras menjadi strategi yang fundamental untuk mengurangi ketergantungan pada bahan impor. Pemerintah menargetkan jutaan UMKM terdigitalisasi, dan perjalanan Sahate menunjukkan bahwa kurasi serta pendampingan yang tepat mampu mengubah usaha rumahan menjadi pemain rantai pasok global.
Analisis berimbang menunjukkan bahwa keberhasilan satu merek belum otomatis mencerminkan kesiapan seluruh sektor. Namun, kombinasi fundamental permintaan yang kuat, dukungan intermediasi perbankan, dan tren digitalisasi memberi landasan optimistis. Dengan catatan, keberlanjutan ekspansi tetap bergantung pada konsistensi kualitas, kepatuhan terhadap standar internasional, dan stabilitas makroekonomi domestik.
Comments (0)