Oct 04, 2026
Bisnis

Saham GOTO Mengalami Rebound ke Rp30

Berdasarkan data Bank Indonesia dan OJK per 15 April 2025, pasar modal Indonesia masih berada dalam fase koreksi setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 3,78% secara yea...

Saham GOTO Mengalami Rebound ke Rp30

Berdasarkan data Bank Indonesia dan OJK per 15 April 2025, pasar modal Indonesia masih berada dalam fase koreksi setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 3,78% secara year-on-year pada kuartal I tahun 2025. Koreksi ini tidak hanya terjadi pada sektor saham secara keseluruhan, namun juga turut menekan beberapa saham dengan valuasi tinggi, khususnya pada sektor teknologi dan platform digital. Salah satu emiten yang turut merasakan tekanan tersebut ialah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), yang setelah melalui lima hari perdagangan dengan tekanan jual yang cukup besar, akhirnya mengalami kenaikan harga dan kembali diperdagangkan pada level Rp30 per lembar saham.

Tekanan Jual yang Menekan Harga

Pergerakan harga GOTO dalam beberapa waktu terakhir dapat dikaitkan dengan tren koreksi yang terjadi terhadap saham berbasis teknologi di pasar berkembang. Berdasarkan data perdagangan pasar reguler, volume transaksi emiten ini sempat melonjak hingga 2,1 miliar lembar saham pada hari keempat masa tekanan, yang mengindikasikan tingginya aktivitas jual oleh pelaku pasar. Hal ini turut berkontribusi terhadap terjadinya capital outflow (arus modal keluar) secara terbatas pada sektor teknologi, yaitu sebesar Rp1,3 triliun apabila dibandingkan dengan rata - rata arus modal pada bulan sebelumnya.

Tekanan tersebut juga selaras dengan kondisi likuiditas (kemampuan pasar untuk melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa mengubah harga secara drastis) yang sempat menyempit. Rasio turnover (perputaran saham) pada emiten ini mengalami kenaikan sebesar 65% dibandingkan dengan rata - rata 30 hari perdagangan sebelumnya. Peningkatan rasio ini umumnya menandakan bahwa pergerakan harga yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh permintaan, namun juga oleh tekanan jual yang masif dari portofolio pelaku pasar.

Dua Perspektif Terhadap Rebound Ini

Di satu sisi, pergerakan rebound menuju Rp30 dapat dilihat sebagai respons teknis terhadap kondisi jenuh jual (oversold). Secara statistik, indeks momentum relatif terhadap harga 20 hari perdagangan menunjukkan bahwa saham ini telah berada di bawah rata - rata pergerakan harganya selama 5 hari berturut-turut. Dalam kondisi seperti ini, sentimen pasar kerap mengalami pembalikan secara temporer, terlebih apabila volume pembelian mulai kembali masuk ke pasar. Hal ini dapat menjadi faktor yang mendorong terjadinya kenaikan harga secara terbatas tanpa mengubah fundamental (kondisi keuangan dan operasional) dari emiten itu sendiri.

Di sisi lain, rebound ini perlu dilihat secara hati-hati berdasarkan sisi fundamental. Berdasarkan proyeksi kinerja yang dihitung berdasarkan laporan keuangan periode berjalan, valuasi (perbandingan harga saham terhadap laba atau aset) dari emiten ini masih berada pada level yang tinggi apabila dibandingkan dengan rata - rata valuasi sektor platform digital di Asia Tenggara, yaitu dengan rasio Price to Sales (P/S) yang masih berada di atas 3,2x. Selain itu, tingkat beban operasional year-on-year masih menunjukkan tekanan, sehingga belum terdapat perubahan signifikan terhadap arus laba yang dapat menopang kenaikan harga secara berkelanjutan. Faktor ini menjadi pembatas terhadap kekuatan tren kenaikan yang sedang terjadi saat ini.

Faktor Makro yang Turut Memengaruhi

Selain faktor internal, terdapat pula faktor makro yang turut memengaruhi pergerakan ini. Berdasarkan data Bank Indonesia, suku bunga acuan masih berada pada level 6,00% per April 2025. Tingkat suku bunga ini berpengaruh terhadap minat pelaku pasar terhadap saham dengan proyeksi pertumbuhan jangka panjang, dikarenakan biaya modal yang relatif lebih tinggi dapat menekan daya tarik terhadap aset berisiko. Tak hanya itu, indeks dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan sebesar 2,05% secara year-on-year, yang turut berpotensi mendorong capital outflow dari pasar modal negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, di tengah tekanan tersebut, konsumsi domestik masih menjadi penopang bagi perekonomian Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 4,89% year-on-year pada kuartal I 2025. Peningkatan ini menjadi faktor penunjang terhadap fundamental jangka panjang dari ekosistem digital, mengingat aktivitas transaksi pengguna merupakan salah satu sumber pendapatan bagi model bisnis yang dijalankan oleh emiten tersebut.

Kesimpulan Tren Saat Ini

Melihat keseluruhan pergerakan, rebound menuju level Rp30 merupakan peristiwa yang dapat dijelaskan melalui dua faktor yang saling beririsan, yaitu sentimen pasar yang sedang membaik secara teknis, serta tekanan fundamental dan makro yang masih belum sepenuhnya mereda. Tren pergerakan harga ke depannya akan sangat bergantung kepada kemampuan pasar dalam menyeimbangkan antara likuiditas, valuasi, serta proyeksi kinerja emiten. Dengan kondisi tersebut, pergerakan saat ini dapat dikategorikan sebagai koreksi teknis yang bersifat dua sisi, alih-alih perubahan arah tren secara menyeluruh.

"Dalam pasar modal, rebound bukanlah indikator pasti akan berakhirnya koreksi. Yang perlu diamati ialah apakah volume pembelian dapat bertahan bersamaan dengan perbaikan fundamental, atau hanya terbatas pada pembalikan sentimen semata."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User