Rupiah Tertekan ke Rp18.000 Pasca Perry Mundur dari BI

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan awal pekan ini, Senin (27/7/2026), menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi hanya berselang satu hari se...

Jul 28, 2026 - 07:54
0 0
Rupiah Tertekan ke Rp18.000 Pasca Perry Mundur dari BI

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan awal pekan ini, Senin (27/7/2026), menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi hanya berselang satu hari setelah Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan yang telah dipegangnya selama dua periode tersebut.

Berdasarkan data transaksi pasar spot, rupiah tercatat melemah 1,2% secara harian, melanjutkan tren depresiasi yang telah berlangsung sejak awal kuartal ketiga. Level Rp18.000 per dolar AS ini menjadi yang terendah dalam catatan historis nilai tukar rupiah, mengonfirmasi tekanan yang terus membayangi mata uang Garuda di tengah kombinasi dinamika domestik dan eksternal yang kurang menguntungkan.

Kepergian Perry dan Kekosongan di Pucuk Bank Sentral

Pengunduran diri Perry Warjiyo, yang telah mengomandoi Bank Indonesia sejak 2018, mengejutkan pelaku pasar. Selama masa jabatannya, Perry dikenal dengan kebijakan moneter yang cenderung pro-stabilitas, termasuk strategi "triple intervention" yang agresif dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kepergiannya meninggalkan pertanyaan besar tentang arah kebijakan moneter Indonesia ke depan, terutama di saat Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 5,25%-5,50%, menciptakan diferensial suku bunga yang kurang menguntungkan bagi aset-aset negara berkembang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada nama pengganti yang diumumkan secara resmi. Ketidakpastian seputar sosok yang akan menakhodai bank sentral inilah yang menjadi salah satu katalis utama pelemahan rupiah pada sesi perdagangan kemarin.

Sentimen Pasar dan Arus Modal Asing

Di satu sisi, pelemahan rupiah ke level psikologis Rp18.000 per dolar AS mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan arah kebijakan moneter. Pasar obligasi pemerintah mencatatkan capital outflow bersih sebesar Rp3,2 triliun pada perdagangan Senin, melanjutkan tren outflow yang telah mencapai akumulasi Rp28,7 triliun sepanjang Juli 2026. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menunjukkan penurunan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) menjadi 14,1% dari total outstanding, turun dari posisi 14,8% pada akhir Juni lalu.

Namun di sisi lain, sejumlah analis menilai bahwa reaksi pasar ini bersifat temporer dan lebih didorong oleh faktor psikologis ketimbang perubahan fundamental ekonomi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup menguat terbatas 0,38% ke level 7.145, menunjukkan bahwa investor saham tidak serta-merta panik. Cadangan devisa Indonesia per akhir Juni 2026 tercatat masih solid di angka US$138,5 miliar, cukup untuk membiayai 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang mensyaratkan tiga bulan impor.

Pasar sedang dalam mode wait and see. Ekspektasinya, pengganti Pak Perry akan diumumkan dalam waktu dekat dan berasal dari internal BI untuk menjaga kontinuitas kebijakan, ujar Ekonom Senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, yang enggan disebutkan namanya.

Proyeksi dan Risiko ke Depan

Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada dua faktor kunci: kecepatan penunjukan gubernur BI definitif yang baru, serta arah kebijakan suku bunga The Fed. Inflasi inti Indonesia yang berada di level 3,1% year-on-year per Juni 2026 sebenarnya masih dalam rentang target BI, memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga acuan yang saat ini bertengger di 6,25%.

Namun, risiko eksternal tetap membayangi. Indeks dolar AS (DXY) masih bertahan kokoh di atas 106, ditopang oleh data tenaga kerja AS yang tetap solid. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga masih bertengger di 4,45%, membuat aset-aset emerging market tetap berada dalam tekanan. Di sisi lain, harga komoditas ekspor andalan Indonesia seperti batu bara dan minyak sawit (CPO) menunjukkan tren pelemahan sepanjang kuartal kedua, menambah beban pada neraca perdagangan.

Dengan kombinasi faktor domestik dan global yang masih menantang, pasar kemungkinan akan terus menguji ketahanan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Level Rp18.000 per dolar AS kini menjadi batas psikologis yang kritis—apabila tertembus secara konsisten, bukan tidak mungkin Bank Indonesia perlu melakukan intervensi yang lebih agresif di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk meredam volatilitas yang berlebihan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User