Rupiah Tergelincir Tipis ke Rp17.935, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed

Berdasarkan data Bank Indonesia per Jumat (7/8) pukul 09.00 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka pada level Rp17.935 per dolar AS, mengalami penurunan 0,07 persen dari posisi penutupan sehari ...

Aug 08, 2026 - 11:15
0 0
Rupiah Tergelincir Tipis ke Rp17.935, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed

Berdasarkan data Bank Indonesia per Jumat (7/8) pukul 09.00 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka pada level Rp17.935 per dolar AS, mengalami penurunan 0,07 persen dari posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.922. Pelemahan tipis ini memperpanjang tren fluktuasi mata uang Garuda yang sepanjang pekan bergerak di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.950 per dolar AS. Secara year-on-year, rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 9,8 persen dari level Rp16.330 pada periode yang sama tahun lalu, menjadikannya salah satu mata uang Asia yang berada di bawah tekanan berkelanjutan.

Di pasar domestik, indeks harga saham pada pembukaan yang sama bergerak relatif datar, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun berada di level 6,48 persen. Imbal hasil adalah tingkat pengembalian yang diterima investor dari obligasi; kenaikannya biasanya menandakan pasar meminta premi risiko lebih tinggi.

Tekanan dari Sisi Global

Di satu sisi, pelemahan rupiah pagi ini lebih banyak dipicu faktor eksternal ketimbang domestik. Indeks dolar AS (DXY) — ukuran kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia — berada di level 98,4, menguat 0,2 persen dalam sepekan. Penguatan ini ditopang ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75–4,00 persen lebih lama menyusul data pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam yang solid.

Kondisi tersebut mendorong terjadinya capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar keuangan negara berkembang kembali ke aset berdenominasi dolar AS. Data Kementerian Keuangan menunjukkan investor nonresiden mencatatkan penjualan bersih di pasar SBN sekitar Rp2,1 triliun dalam sepekan terakhir. Ketika likuiditas valuta asing mengetat, permintaan terhadap dolar meningkat dan nilai tukar rupiah otomatis tertekan.

Dua Sisi Pelemahan Nilai Tukar

Di satu sisi, rupiah yang lebih lemah memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor. Eksportir komoditas seperti kelapa sawit, batu bara, dan nikel menerima pendapatan dalam dolar AS, sehingga nilai rupiah yang terdepresiasi mengerek penerimaan mereka saat dikonversi. Kurs yang lebih lemah juga meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar global karena harganya menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri.

Di sisi lain, pelemahan rupiah menambah beban importir dan perusahaan dengan utang berdenominasi dolar AS. Sekitar 30 persen bahan baku industri manufaktur nasional masih diimpor, sehingga kenaikan kurs berpotensi mendorong inflasi impor (imported inflation), yaitu kenaikan harga barang di dalam negeri akibat mahalnya produk dari luar negeri. Risiko serupa membayangi korporasi dengan rasio utang valas tinggi yang belum melakukan lindung nilai (hedging).

"Pelemahan rupiah saat ini lebih bersifat teknis dan didorong sentimen pasar global. Selama cadangan devisa kuat dan defisit transaksi berjalan terkendali, depresiasi masih berada dalam koridor yang dapat dikelola otoritas moneter," ujar seorang ekonom pasar modal di Jakarta.

Fundamental Domestik dan Proyeksi

Dari sisi fundamental, sejumlah indikator masih memberikan penyangga. Berdasarkan data Bank Indonesia, cadangan devisa per akhir Juli tercatat US$150,2 miliar, setara pembiayaan 6,3 bulan impor — jauh di atas standar kecukupan internasional tiga bulan. Inflasi Juli berada di level 2,37 persen year-on-year, masih dalam kisaran target 2,5±1 persen. Neraca perdagangan juga membukukan surplus beruntun, meski defisit transaksi berjalan (current account deficit) diproyeksikan melebar tipis ke 0,4 persen dari produk domestik bruto.

Bank Indonesia menyatakan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas melalui triple intervention: intervensi di pasar spot, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder. Dengan BI Rate bertahan di 5,00 persen, selisih suku bunga dengan The Fed masih memberikan daya tarik bagi portofolio asing, kendati premi risiko yang tercermin dari credit default swap (CDS) lima tahun bergerak di 68 basis poin. Dari sisi valuasi, depresiasi juga membuat aset berdenominasi rupiah relatif lebih murah di mata investor global, yang berpotensi meredam tekanan arus modal keluar lebih lanjut.

Ke depan, proyeksi sejumlah ekonom menempatkan rupiah bergerak di rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS dalam jangka pendek. Arah pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan rilis inflasi AS, keputusan The Fed, serta konsistensi kebijakan fiskal domestik. Bagi pelaku usaha, pengelolaan risiko kurs melalui instrumen hedging dinilai lebih relevan ketimbang berspekulasi pada arah nilai tukar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User