Sep 01, 2026
Bisnis

Rupiah Melemah ke Rp17.710, Tekanan Dolar AS Dominasi Pasar Senin

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Senin, melanjutkan tekanan yang telah dialami sepanjang minggu sebelumnya. Berdasarkan dataBloombergdanRefinitivper akhir t...

Rupiah Melemah ke Rp17.710, Tekanan Dolar AS Dominasi Pasar Senin

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Senin, melanjutkan tekanan yang telah dialami sepanjang minggu sebelumnya. Berdasarkan dataBloombergdanRefinitivper akhir transaksi, mata uang Garuda ditutup melemah ke levelRp17.710 per dolar AS, mengalami kenaikan sebesar 45 poin atau 0,26 persen dibandingkan posisi penutupan Jumat lalu.

Tekanan Eksternal Dominasi Pergerakan

Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis Senin sore, rupiah bergerak di kisaranRp17.680-Rp17.720sepanjang hari dengan volume transaksi yang meningkat 12 persen dibanding rata-rata mingguan. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama melonjak ke angka104,8, level tertinggi dalam tiga minggu terakhir, seiring meningkatnya ekspektasi the Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Di satu sisi, sentimen positif dari dalam negeri turut meredup akibat data neraca perdagangan yang menunjukkandefisit sebesar USD 0,87 miliarpada Agustus 2024. Defisit ini terjadi karena impor barang modal dan bahan baku industri yang terus meningkat, mengindikasikan aktivitas manufaktur domestik masih bergantung pada komponen luar negeri. Impor migas juga tercatat naik18,4 persen year-on-yearmencerminkan ketergantungan energi yang belum berkurang.

Di sisi lain, analis dari PT Trimegah Sekuritas menyebutkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat untuk menopang mata uang domestik. "Cadangan devisa Indonesia yang tercatatUSD 150,2 miliarpada Agustus memberikan ruang gerak cukup luas bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi," tulis tim riset dalam catatan hariannya. Rasio cadangan devisa terhadap PDB mencapai23,1 persen, masih di atas ambang batas kecukupan internasional.

Prospek Jangka Pendek Dan Antisipasi Kebijakan

Analis valas PT Bank Central Asia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek, dengan support pertama di levelRp17.750dan resisten di Rp17.650. "Selisih suku bunga (differential) antara The Fed dan Bank Indonesia yang masih lebar menjadi magnet modal asing yang mengalir ke aset berdenominasi dolar," jelas ekonom BCA dalam прогнозmingguan.

Proyeksi ini diperkuat oleh tren capital outflow yang tercatat mencapaiUSD 1,2 miliarsepanjang September berdasarkan data Directorate General of Taxes (DGT). Investor institusional asing mengurangi kepemilikan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp8,7 triliun dalam dua minggu terakhir, mengindikasikan preferensi terhadap instrumen safe haven.

"Rupiah masih akan menghadapi angin sakal dalam beberapa minggu ke depan, namun fundamental yang solid dan cadangan devisa yang memadai menjadi tameng utama," papar Kepala Ekonom PT Mandiri Sekuritas dalam jumpa pers virtual, Senin malam.

Implikasi Bagi Perekonomian Domestik

Rupiah yang melemah memiliki dampak berlapis bagi perekonomian domestik. Di satu sisi, eksportir barang mentah seperti batu bara, kelapa sawit, dan karet mendapat manfaat dari konversi valuta asing yang lebih besar. Sektor pariwisata juga berpotensi diuntungkan karena pendapatan dalam valas akan bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.

Namun di sisi lain, industri yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi. Sektor energi yang masih mengimporsekitar 40 persenkebutuhan BBM dalam negeri akan merasakan tekanan langsung pada struktur biaya. Perusahaan-perusahaan dengan utang dalam dolar AS juga akan mengalami kenaikan beban bunga efektif seiring pelemahan mata uang domestik.

Bank Indonesia telah menyatakan kesiapannya untuk melakukan operasi moneter dan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar. Tingkat bunga acuan (BI-7 Day Reverse Repo Rate) yang saat ini berada di6,25 persendianggap masih memadai untuk menarik aliran modal asing dan menjaga daya tarik instrumen rupiah. Indeks kepercayaan konsumen yang dirilis BPS menunjukkan angka124,3pada September, masih dalam zona optimistis, memberikan landasan bagi konsumsi domestik tetap tumbuh4,93 persen year-on-year.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User