Rosan Apresiasi Peluncuran 10 Buku Bahlil, Soroti Penguatan SDM

Berdasarkan data Perpustakaan Nasional dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Indonesia berada di level 66,55 poin pada 2023, sementara pertumbuhan ekonomi ...

Aug 10, 2026 - 13:31
0 0
Rosan Apresiasi Peluncuran 10 Buku Bahlil, Soroti Penguatan SDM

Berdasarkan data Perpustakaan Nasional dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat Indonesia berada di level 66,55 poin pada 2023, sementara pertumbuhan ekonomi nasional konsisten di kisaran 5 persen year-on-year. Di tengah upaya memperkuat fundamental sumber daya manusia (SDM) menjelang puncak bonus demografi pada 2030–2035, peluncuran 10 buku sekaligus oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjadi sorotan kalangan dunia usaha, termasuk Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani.

Rosan menghadiri acara peluncuran tersebut dan memberikan apresiasi atas produktivitas Bahlil dalam menuangkan pengalaman kepemimpinannya ke dalam karya tulis. Menurutnya, tidak lazim seorang tokoh merilis banyak buku dalam satu kesempatan yang sama.

"Biasanya seseorang merilis satu buku dalam sekali peluncuran. Namun Pak Bahlil langsung sepuluh sekaligus. Ini luar biasa dan bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk meraih kesuksesan," ujar Rosan.

Literasi sebagai Fondasi Modal Manusia

Dari perspektif ekonomi, literasi merupakan komponen penting dalam pembentukan modal manusia atau human capital, yakni akumulasi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang menentukan produktivitas tenaga kerja. Bank Dunia mencatat indeks modal manusia (Human Capital Index) Indonesia berada di level 0,54, artinya anak yang lahir hari ini hanya akan mencapai 54 persen dari potensi produktivitasnya apabila kondisi pendidikan dan kesehatan tidak mengalami kenaikan berarti.

Di satu sisi, kehadiran buku-buku yang memuat pengalaman praktisi dan pengambil kebijakan dapat memperkaya referensi bagi generasi muda. Transfer pengetahuan dari figur yang pernah memimpin Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Kementerian Investasi, hingga Kementerian ESDM dinilai relevan bagi kalangan muda yang ingin memahami dinamika birokrasi, investasi, dan dunia usaha. Tren penerbitan buku kepemimpinan di tanah air sendiri mengalami kenaikan seiring pulihnya industri perbukuan pascapandemi.

Pro dan Kontra di Balik Peluncuran Masal

Namun, di sisi lain, sejumlah pengamat menilai peluncuran buku dalam jumlah besar sekaligus oleh figur publik perlu dilihat secara kritis. Pertanyaan yang kerap muncul adalah soal kedalaman substansi ketika satu nama merilis banyak judul dalam waktu bersamaan. Sebagian kalangan juga membaca fenomena semacam ini sebagai bagian dari pembangunan citra, terlebih ketika penulisnya merupakan pejabat publik aktif.

Perspektif berimbang diperlukan. Pro: semakin banyak karya yang terbit memperluas akses gagasan dan berpotensi mengerek minat baca yang selama ini menjadi pekerjaan rumah nasional. Kontra: tanpa distribusi merata dan harga terjangkau, dampaknya terhadap indeks literasi bisa terbatas. Data BPS menunjukkan rasio belanja buku terhadap total pengeluaran rumah tangga Indonesia masih di bawah 1 persen, tertinggal dibanding negara maju yang mencapai 2–3 persen.

Konteks Danantara dan Investasi Jangka Panjang

Kehadiran Rosan dalam acara tersebut juga menarik dicermati dari sisi kelembagaan. Danantara, badan pengelola investasi yang dibentuk pada Februari 2025, mengonsolidasikan aset badan usaha milik negara (BUMN) dengan proyeksi aset kelolaan menembus US$900 miliar atau setara lebih dari Rp14.000 triliun. Sebagai pengelola portofolio strategis negara, Danantara menempatkan penguatan SDM sebagai bagian dari fundamental pertumbuhan jangka panjang, sejalan dengan tesis bahwa ekonomi tidak bisa hanya bertumpu pada likuiditas dan arus modal, melainkan juga pada kualitas manusianya.

Dalam kerangka tersebut, dukungan tokoh ekonomi terhadap gerakan literasi dapat dibaca sebagai sinyal positif bagi sentimen publik terhadap agenda pembangunan manusia. Meski demikian, efektivitasnya tetap akan diukur dari indikator konkret: tren minat baca, capaian skor literasi internasional seperti PISA—di mana Indonesia masih berada di peringkat bawah dengan skor membaca 359 pada 2022—serta kontribusi sektor pendidikan terhadap produktivitas nasional.

Proyeksi ke Depan

Ke depan, tantangan utama adalah mengubah momentum seremonial menjadi gerakan literasi yang terukur. Jika tren penerbitan buku karya tokoh nasional berlanjut dan diimbangi kebijakan akses baca yang inklusif, proyeksi penguatan modal manusia menuju Indonesia Emas 2045 berpeluang lebih realistis. Sebaliknya, tanpa ekosistem literasi yang kuat, peluncuran buku sebanyak apa pun berisiko berhenti sebagai peristiwa simbolik belaka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User