Oct 19, 2026
Bisnis

Rendez-vous Rasa Hadirkan Gastronomi Haute Cuisine Nusantara di Bandung

Industri kuliner Indonesia kembali mencatatkan perkembangan menarik. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal IV 2024, subsektor kuliner menyumbang sekitar 41,4 persen d...

Rendez-vous Rasa Hadirkan Gastronomi Haute Cuisine Nusantara di Bandung

Industri kuliner Indonesia kembali mencatatkan perkembangan menarik. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal IV 2024, subsektor kuliner menyumbang sekitar 41,4 persen dari total produk domestik bruto ekonomi kreatif nasional, dengan nilai mencapai Rp 1.270 triliun pada 2023. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan 2019 yang masih berada di kisaran Rp 1.000 triliun. Di tengah tren tersebut, sebuah perhelatan gastronomi bertajuk Rendez-vous Rasa hadir di Bandung dengan mengusung pendekatan berbeda: memadukan teknik haute cuisine berstandar internasional dengan eksplorasi cita rasa Nusantara.

Acara ini menawarkan pengalaman makan enam course atau enam tahapan hidangan yang disusun secara terukur. Bagi pembaca awam, haute cuisine merujuk pada gaya masak klasik Prancis yang menekankan presisi teknik, presentasi estetis, dan keseimbangan rasa. Sementara itu, eksplorasi Nusantara menghadirkan bahan lokal seperti rempah, bumbu tradisional, dan produk pangan daerah sebagai fondasi cita rasa. Kombinasi keduanya menjadi menarik karena menempatkan kuliner Indonesia bukan sekadar sebagai objek wisata, melainkan sebagai materi kreatif yang diolah dengan standar internasional.

Pro: Diversifikasi Pasar dan Nilai Tambah Ekonomi Kreatif

Di satu sisi, kehadiran perhelatan semacam ini berpotensi memperkuat posisi Bandung sebagai destinasi gastronomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2023, sektor akomodasi dan makan minum di Jawa Barat tumbuh 5,8 persen year-on-year, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi provinsi yang berada di kisaran 5,0 persen. Artinya, permintaan terhadap pengalaman kuliner bernilai tambah sedang meningkat.

Dari perspektif ekonomi, acara seperti ini menciptakan apa yang disebut value added atau nilai tambah. Bahan pangan lokal yang dijual mentah memiliki harga rendah, tetapi setelah diolah dengan teknik tertentu dan dikemas dalam pengalaman bersantap, harganya bisa melonjak berkali-kali. Ini sejalan dengan tren global di mana konsumen tidak lagi sekadar membeli makanan, melainkan membeli narasi, estetika, dan keunikan.

"Kuliner saat ini bukan hanya soal rasa, tetapi soal pengalaman dan identitas. Indonesia memiliki bahan baku luar biasa, tetapi masih kurang dalam pengemasan dan konsistensi standar," ujar seorang pengamat pariwisata kuliner dalam sebuah diskusi industri di Jakarta.

Selain itu, perhelatan ini dapat mendorong munculnya portofolio koki muda yang mampu bersaing di level regional. Jika dikelola berkelanjutan, dampaknya bisa terasa pada peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Bandung, yang pada 2023 mencatat sekitar 7,2 juta kunjungan wisatawan menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.

Kontra: Tantangan Skalabilitas dan Daya Jangkau Pasar

Di sisi lain, ada sejumlah catatan yang perlu dicermati. Pertama, model haute cuisine dengan enam course umumnya menyasar segmen terbatas. Harga tiket yang cenderung tinggi membuat daya jangkau pasar sempit. Dalam konteks ekonomi yang masih menghadapi tekanan daya beli, segmen menengah ke bawah sulit mengakses pengalaman semacam ini. Rasio konsumsi rumah tangga Indonesia terhadap PDB memang masih sekitar 53 persen, tetapi pertumbuhannya melambat menjadi 4,8 persen year-on-year pada kuartal III 2024.

Kedua, tantangan skalabilitas. Acara gastronomi eksklusif sering kali sulit direplikasi secara massal karena bergantung pada keahlian spesifik, bahan musiman, dan biaya operasional tinggi. Tanpa model bisnis yang jelas, event semacam ini berisiko hanya menjadi sentimen pasar sesaat dan tidak menciptakan fundamental industri yang kuat.

Ketiga, dari sisi likuiditas pelaku usaha kecil, kehadiran acara bertaraf internasional belum tentu berdampak langsung. Pedagang makanan lokal di sekitar lokasi acara bisa jadi hanya mendapat limpahan kecil, sementara pemasok bahan premium justru dari luar daerah.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Ke depan, prospek gastronomi Nusantara bergantung pada kemampuan pelaku usaha membangun ekosistem. Proyeksi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional mencapai Rp 1.500 triliun pada 2025, dengan kuliner sebagai penyumbang terbesar. Jika perhelatan seperti Rendez-vous Rasa mampu menciptakan efek demonstrasi, yakni mendorong standar dan inovasi, maka valuasi sektor ini berpotensi meningkat.

Namun, tanpa dukungan akses pembiayaan, pelatihan, dan promosi berkelanjutan, acara semacam ini bisa berhenti sebagai perayaan sesaat. Pemerintah daerah dan pelaku industri perlu memastikan bahwa tren ini tidak hanya menjadi capital inflow bagi segelintir pihak, melainkan mendorong pemerataan manfaat.

Pada akhirnya, kombinasi teknik internasional dan cita rasa lokal adalah cerminan tren global yang disebut glokalisasi kuliner. Pasar akan menilai apakah inovasi ini mampu bertahan sebagai fundamental baru atau hanya menjadi sentimen musiman. Yang jelas, data menunjukkan permintaan terhadap pengalaman kuliner berkualitas terus mengalami kenaikan, dan Bandung berada di posisi strategis untuk memanfaatkannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User