Rektor Unhas Pimpin Delegasi Indonesia Jadi Tokoh Diplomasi Sains di Prancis

Di tengah lanskap global yang kian ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, wajah diplomasi internasional telah bergeser melampaui sekadar pertemuan po

Jul 10, 2026 - 02:05
0 0

Di tengah lanskap global yang kian ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, wajah diplomasi internasional telah bergeser melampaui sekadar pertemuan politik dan perjanjian dagang. Universitas kini tampil sebagai aktor strategis yang menjahit koneksi antara ilmuwan, mahasiswa, industri, dan pemerintah. Inilah era diplomasi sains, di mana riset menjadi jembatan kolaborasi untuk menjawab tantangan kolektif—dari krisis iklim hingga percepatan transformasi digital. Semangat inilah yang menjadi roh penyelenggaraan Joint Working Group (JWG) ke-14 Indonesia–Prancis di Angers, Prancis, pada 1–3 Juli 2026.

Forum yang mempertemukan 350 peserta dari 38 perguruan tinggi negeri Indonesia dan 58 universitas Prancis ini menjadi panggung perancangan arah baru kolaborasi akademik bilateral. Di antara kerumunan pemimpin akademik itu, Universitas Hasanuddin (Unhas) mencuat sebagai salah satu aktor utama. Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., tidak sekadar hadir; ia memimpin delegasi Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Indonesia sekaligus tampil sebagai narasumber kunci dalam lokakarya maritim yang membedah pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, keamanan maritim, dan pengembangan ekonomi biru di kawasan Indo-Pasifik.

Representasi Strategis dari Jantung Segitiga Terumbu Karang

Kehadiran Unhas membawa bobot yang melampaui urusan seremonial kelembagaan. Sebagai universitas yang berakar di jantung Coral Triangle—kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di planet ini—pengalaman Unhas dalam riset kelautan menawarkan perspektif yang sangat relevan bagi pengembangan ilmu pengetahuan global. Laut tak lagi dipandang semata sebagai lumbung sumber daya ekonomi, melainkan sebagai laboratorium alami untuk memahami perubahan iklim, konservasi biodiversitas, dan ketahanan pangan. Dalam sesi lokakarya, Prof. Jamaluddin—akrab disapa Prof. JJ—tampil berdampingan dengan Sébastien Reymond dari ENSTA dan François-Régis Boulvert dari Naval Group, mengukuhkan posisi Unhas dalam dialog maritim internasional.

"Forum ini menunjukkan bagaimana riset modern semakin menuntut kolaborasi lintas negara. Tantangan seperti transisi energi, kecerdasan buatan, keamanan siber, hingga teknologi nuklir tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi atau satu negara saja," ujar Prof. JJ dalam presentasinya.

Delegasi Unhas diperkuat oleh Prof. Dr. Amir Ilyas, SH., MH., Dr. Ansariadi, dan Dr. Sawedi Muhammad, menandakan keterlibatan lintas disiplin yang siap memperluas sayap kolaborasi. Dari 12 lokakarya tematik yang digelar, fokus maritim menjadi panggung utama bagi Unhas untuk menunjukkan kapasitas risetnya. Namun, narasi yang dibawa bukan sekadar tentang keunggulan lokal, melainkan tentang bagaimana pengalaman dari wilayah yang paling kaya secara hayati ini dapat menyumbang solusi bagi problem global yang mendesak.

Manfaat Nyata vs. Hambatan Implementasi

Di atas kertas, inisiatif ini tampak ideal: pertukaran pengetahuan, mobilitas mahasiswa, dan riset bersama yang menjanjikan solusi inovatif. Para pendukung diplomasi sains menekankan bahwa forum semacam ini membuka akses bagi peneliti Indonesia untuk masuk ke dalam jejaring pendanaan global dan publikasi bereputasi tinggi. Prancis, dengan ekosistem risetnya yang matang, menawarkan fasilitas laboratorium canggih dan tradisi akademik yang kuat. Bagi Unhas, posisi tawar ini diterjemahkan ke dalam rencana konkret: eksplorasi program gelar ganda (double degree) dan pengembangan riset interdisipliner yang menggabungkan perspektif unik Indonesia dengan metodologi Eropa.

Namun, terdapat kesenjangan yang tidak bisa diabaikan. Kolaborasi internasional semacam ini kerap menghadapi batu sandungan berupa asimetri kapasitas antara institusi dari negara berkembang dan negara maju. Ada risiko bahwa agenda riset justru ditentukan oleh mitra yang memiliki sumber dana lebih besar, sehingga prioritas lokal bisa terpinggirkan. Selain itu, mobilitas mahasiswa dan peneliti acapkali terbentur pada persoalan visa, pendanaan, dan rekognisi kredit akademik yang rumit. Alih-alih menjadi transfer pengetahuan dua arah yang sejati, kerja sama ini bisa berubah menjadi hubungan yang timpang jika tidak dikelola dengan kesadaran kritis terhadap relasi kekuasaan dalam produksi pengetahuan.

Pertanyaan yang lebih fundamental adalah sejauh mana hasil-hasil forum ini akan mengalir ke hilir—apakah riset bersama akan berhenti di jurnal akademik atau benar-benar menjadi kebijakan publik dan solusi industri? Respons dari kampus-kampus Prancis terbilang antusias, namun belum seluruhnya terikat pada komitmen pendanaan jangka panjang. Di sisi lain, Unhas datang membawa pengalaman lapangan yang autentik, tetapi perlu memastikan bahwa infrastruktur riset internalnya cukup kuat untuk menopang kolaborasi yang setara.

Poin Perbandingan

  • Akses ke Jejaring Global: Membuka peluang pendanaan dan publikasi internasional vs. risiko ketergantungan pada agenda donor asing.
  • Transfer Pengetahuan: Pertukaran metodologi dan teknologi canggih vs. potensi brain drain dan ketimpangan kapasitas.
  • Dampak Hilir: Potensi solusi konkret untuk isu maritim dan iklim vs. implementasi birokratis yang lambat di tingkat nasional.
  • Keberlanjutan: Komitmen institusional yang kuat vs. ketidakpastian pendanaan jangka panjang pasca-forum.

Langkah Prof. JJ dan delegasi Unhas di Angers adalah manuver cerdas yang menempatkan perguruan tinggi Indonesia dalam percakapan global. Namun, keberhasilan diplomasi sains ini pada akhirnya akan diukur bukan dari jumlah nota kesepahaman yang ditandatangani, melainkan dari seberapa dalam kolaborasi itu mengakar pada realitas kebutuhan riset nasional dan seberapa kuat ia mampu menciptakan keseimbangan suara antara mitra yang secara struktural tidak setara.

[TAGS]: diplomasi sains, Universitas Hasanuddin, Indonesia Prancis, Joint Working Group, maritim [SOCIAL_TWEET]: Rektor Unhas pimpin delegasi MRPTN di forum diplomasi sains Indonesia-Prancis, soroti riset maritim dan ekonomi biru. Kolaborasi global bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Namun, akankah ini jadi kemitraan setara atau hanya transfer satu arah? #DiplomasiSains #Unhas #IndoPrancis [SOCIAL_FB]: Dari jantung Coral Triangle ke panggung akademik di Prancis, Rektor Unhas membuktikan bahwa suara Indonesia penting dalam riset maritim global. Tapi apakah kolaborasi internasional ini bisa benar-benar berimbang? Simak analisis di balik JWG Indonesia-Prancis ke-14. [SOCIAL_TG]: 🌐 Rektor Unhas jadi tokoh diplomasi sains di forum Indonesia-Prancis. Riset kelautan dari Segitiga Terumbu Karang kini masuk percakapan global. Tapi masih ada PR soal ketimpangan kapasitas. Scroll untuk baca dua sisi ceritanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User