Rekor 6 Tahun Surplus Terhenti: Neraca Perdagangan Indonesia Catat Defisit pada Mei 2026

Jakarta - Untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan defisit. Data terbaru menunjukkan pada Mei 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisi

Jul 08, 2026 - 06:03
0 0
Rekor 6 Tahun Surplus Terhenti: Neraca Perdagangan Indonesia Catat Defisit pada Mei 2026

Jakarta - Untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan defisit. Data terbaru menunjukkan pada Mei 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Capaian ini secara resmi mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak pertengahan 2020 lalu.

Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, defisit ini terjadi akibat nilai impor yang melonjak signifikan, sementara kinerja ekspor justru mengalami kontraksi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada Mei 2026 menembus angka US$ 24,81 miliar, atau melonjak tajam sebesar 22,16% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, total ekspor Indonesia hanya mencapai US$ 23,20 miliar, turun sebesar 5,73% secara tahunan.

"Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Selama ini, surplus neraca dagang selama 72 bulan berturut-turut menjadi salah satu fondasi kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi makro Indonesia, terutama di tengah tekanan ekonomi global dan pandemi beberapa tahun silam. Rangkaian surplus yang dimulai sejak Mei 2020 tersebut sempat menjadi rekor terpanjang dalam sejarah pencatatan perdagangan Indonesia. Dengan terhentinya tren positif ini, perhatian kini tertuju pada faktor-faktor struktural yang memicu penurunan ekspor sekaligus lonjakan impor.

Dari sisi ekspor, penurunan sebesar 5,73% ini menjadi sinyal pelemahan permintaan global terhadap komoditas unggulan Indonesia, atau bisa juga diakibatkan oleh turunnya harga komoditas di pasar internasional. Sementara itu, melonjaknya impor hingga lebih dari 22% mengindikasikan tingginya aktivitas industri dalam negeri yang membutuhkan bahan baku dan barang modal, atau adanya peningkatan konsumsi barang impor di tengah masyarakat.

Perubahan drastis dari surplus ke defisit ini memunculkan tantangan baru bagi pemerintah dalam mengelola neraca pembayaran dan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah ke depan. Media kami akan terus memantau perkembangan data ekonomi terkait serta respons kebijakan yang akan diambil pemerintah guna menekan defisit dan mengembalikan neraca perdagangan ke zona positif pada bulan-bulan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Fact Checker. Memverifikasi klaim politik dan narasi publik.

Comments (0)

User