Rekayasa Lalu Lintas MRT Jakarta Dimulai Agustus 2026, Ini Dampaknya
Berdasarkan data PT MRT Jakarta per Oktober 2024, proyek MRT Fase 2A CP203 yang mencakup Stasiun Glodok dan Kota akan memasuki tahap konstruksi bawah tanah mulai Agustus 2026. Konsekuensinya, rekayasa...
Berdasarkan data PT MRT Jakarta per Oktober 2024, proyek MRT Fase 2A CP203 yang mencakup Stasiun Glodok dan Kota akan memasuki tahap konstruksi bawah tanah mulai Agustus 2026. Konsekuensinya, rekayasa lalu lintas di kawasan tersebut dipastikan akan diberlakukan untuk mengakomodasi pekerjaan terowongan dan stasiun. Langkah ini merupakan bagian dari integrasi transportasi massal yang ditargetkan rampung penuh pada 2030, dengan total panjang jalur mencapai 11,8 kilometer dari Bundaran HI hingga Kota.
Skema Pengalihan Arus dan Durasi Pengerjaan
PT MRT Jakarta merancang pengalihan arus kendaraan di sekitar Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, dan Jalan KH. Samanhudi. Berdasarkan kajian teknis, penutupan sebagian lajur akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari sisi utara menuju selatan. Proyeksi durasi rekayasa ini berlangsung sekitar 18 bulan, dengan puncak pekerjaan pada kuartal pertama 2027. Di satu sisi, pengalihan ini bertujuan meminimalkan gangguan pada aktivitas bisnis di kawasan Glodok dan Kota Tua. Di sisi lain, kepadatan lalu lintas harian yang mencapai rata-rata 85.000 kendaraan per hari di ruas tersebut diprediksi meningkat 15-20% selama masa konstruksi, berdasarkan simulasi Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
Pro: rekayasa ini memungkinkan pengerjaan terowongan sepanjang 2,3 kilometer di bawah permukaan tanah dengan metode tunnel boring machine (TBM) yang lebih cepat dan aman. Kontra: pengguna jalan yang biasa melintas dari arah Grogol menuju Kota harus mencari alternatif melalui Jalan Pangeran Tubagus Angke atau Jalan Daan Mogot, yang berpotensi menambah waktu tempuh hingga 25 menit pada jam sibuk pagi (06.30-09.00 WIB) dan sore (16.30-19.00 WIB).
Dampak Ekonomi dan Sentimen Pasar
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2024, sektor perdagangan di wilayah Glodok menyumbang sekitar 6,2% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta Barat. Dengan adanya pembatasan akses, terjadi kekhawatiran penurunan omzet pedagang elektronik dan tekstil di pasar Glodok sebesar 10-12% selama periode puncak konstruksi. Namun, analis transportasi dari Institut Teknologi Bandung, Sony Sulaksono, dalam wawancara pada 28 Oktober 2024, menyatakan bahwa
"Gangguan jangka pendek ini akan terbayar oleh peningkatan aksesibilitas jangka panjang. Stasiun MRT di Glodok dan Kota diproyeksikan mengangkut 120.000 penumpang per hari pada 2035, yang akan menarik lebih banyak kunjungan ke kawasan tersebut."Sentimen pasar terhadap properti di sekitar stasiun juga menunjukkan tren positif, dengan harga tanah di radius 500 meter dari stasiun mengalami kenaikan 8-10% year-on-year sejak pengumuman proyek, menurut data konsultan properti Colliers Indonesia.
Mitigasi dan Rekomendasi untuk Pengguna Jalan
Untuk mengurangi dampak negatif, PT MRT Jakarta berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk menyediakan bus pengumpan (feeder) sebanyak 30 unit yang beroperasi setiap 10 menit dari terminal Kali Deres dan Grogol menuju area stasiun. Selain itu, penambahan petugas pengatur lalu lintas di 12 titik persimpangan akan dilakukan, dengan jam kerja puncak pada pagi dan sore hari. Di sisi lain, pengguna kendaraan pribadi disarankan memanfaatkan aplikasi navigasi yang terintegrasi dengan data real-time kepadatan, serta mempertimbangkan moda transportasi massal seperti TransJakarta koridor 1 dan 12 yang memiliki jalur khusus. Proyeksi dari kajian lingkungan hidup menyebutkan bahwa emisi karbon di kawasan tersebut akan turun 18% setelah stasiun beroperasi penuh, seiring peralihan dari kendaraan pribadi ke MRT. Namun, selama masa konstruksi, polusi udara dari mesin diesel alat berat diperkirakan meningkat 5% di radius 200 meter, sehingga penggunaan masker disarankan bagi pejalan kaki. Dengan persiapan yang matang, rekayasa lalu lintas ini diharapkan tidak hanya memperlancar pembangunan infrastruktur vital, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi lokal dan mobilitas warga secara berimbang.
Comments (0)