Rekayasa Lalu Lintas MRT Glodok-Kota Dimulai Agustus 2026
Berdasarkan data PT MRT Jakarta per Oktober 2024, proyek pembangunan MRT Fase 2A CP203 yang mencakup Stasiun Glodok dan Kota akan memasuki tahap konstruksi bawah tanah mulai Agustus 2026. Konsekuensin...
Berdasarkan data PT MRT Jakarta per Oktober 2024, proyek pembangunan MRT Fase 2A CP203 yang mencakup Stasiun Glodok dan Kota akan memasuki tahap konstruksi bawah tanah mulai Agustus 2026. Konsekuensinya, rekayasa lalu lintas di kawasan tersebut akan diberlakukan untuk mengakomodasi pekerjaan terowongan dan stasiun. Langkah ini merupakan bagian dari integrasi transportasi massal yang ditargetkan rampung pada 2029, sejalan dengan target pemerintah meningkatkan rasio penggunaan transportasi publik di Jakarta dari 24% menjadi 60% pada 2030.
Skema Rekayasa dan Dampak terhadap Arus Kendaraan
PT MRT Jakarta akan menerapkan pengalihan arus lalu lintas di sepanjang koridor Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, dan Jalan KH. Zainul Arifin. Berdasarkan kajian dampak lalu lintas (andalalin), volume kendaraan yang melintasi kawasan tersebut rata-rata mencapai 85.000 kendaraan per hari pada jam sibuk, dengan tingkat pelayanan jalan (V/C ratio) sebesar 0,85. Dengan adanya rekayasa, kapasitas jalan akan berkurang sekitar 30%, sehingga V/C ratio diproyeksikan naik menjadi 1,1—menandakan potensi kemacetan yang signifikan.
Di satu sisi, rekayasa ini diperlukan untuk memastikan keselamatan pekerja dan kelancaran konstruksi, mengingat metode cut and cover yang digunakan untuk stasiun bawah tanah membutuhkan ruang kerja yang luas. Di sisi lain, para pengguna jalan akan mengalami penambahan waktu tempuh rata-rata 15-20 menit pada jam sibuk, terutama bagi pengendara yang menuju kawasan Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa. PT MRT Jakarta telah menyiapkan jalur alternatif melalui Jalan Pangeran Jayakarta dan Jalan Mangga Besar, namun kapasitas jalur tersebut terbatas—hanya mampu menampung tambahan 20% volume kendaraan.
Koordinasi dengan Pemangku Kepentingan dan Mitigasi
PT MRT Jakarta telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya untuk memastikan skema rekayasa ini berjalan efektif. Berdasarkan proyeksi, akan ada 20 titik pengalihan arus yang dipasang rambu sementara, serta 15 petugas lalu lintas tambahan yang disiagakan di titik-titik rawan. Selain itu, perusahaan akan memasang papan informasi digital yang terhubung dengan aplikasi navigasi untuk memandu pengendara secara real-time.
Pro: Rekayasa ini dianggap sebagai investasi jangka panjang yang akan meningkatkan kapasitas angkut penumpang MRT hingga 960.000 per hari pada fase 2A, mengurangi emisi karbon hingga 45.000 ton per tahun, dan mempercepat akses ke kawasan bisnis Glodok yang selama ini dikenal padat. Kontra: Para pelaku usaha di sekitar lokasi proyek, terutama pedagang elektronik di Glodok, mengkhawatirkan penurunan omzet hingga 25% selama masa konstruksi karena aksesibilitas yang terganggu. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) mencatat bahwa pengalihan arus sering kali membuat calon pembeli enggan masuk ke area tersebut, seperti yang terjadi pada proyek MRT Fase 1 di kawasan Dukuh Atas yang menyebabkan penurunan kunjungan hingga 18% pada 2018.
Jadwal dan Tahapan Konstruksi
Berdasarkan rencana kerja PT MRT Jakarta, rekayasa lalu lintas akan diberlakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama (Agustus 2026 - Maret 2027) difokuskan pada pemindahan utilitas bawah tanah, termasuk jaringan pipa air dan kabel listrik, yang memakan waktu 8 bulan. Tahap kedua (April 2027 - Desember 2028) adalah pekerjaan struktur stasiun dan terowongan, dengan penggalian sedalam 18 meter di bawah permukaan. Tahap ketiga (Januari 2029 - Juni 2029) adalah penyelesaian arsitektur dan uji coba sistem, sebelum operasional komersial pada Juli 2029.
PT MRT Jakarta juga akan memberlakukan pembatasan kendaraan berat di atas 8 ton pada jam 06.00-09.00 dan 16.00-20.00 WIB untuk mengurangi beban jalan. Data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 4,2% year-on-year pada 2024, sehingga tanpa rekayasa yang terukur, kemacetan di kawasan ini diperkirakan akan bertambah 40% jika proyek tidak dimulai. Namun, dengan adanya pengalihan, ada risiko perpindahan beban lalu lintas ke jalan-jalan kecil di permukiman warga, yang dapat menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itu, PT MRT Jakarta berencana melakukan sosialisasi intensif ke 5.000 rumah tangga di sekitar lokasi proyek, serta menyediakan hotline pengaduan 24 jam.
Secara fundamental, proyek ini merupakan bagian dari koridor utara-selatan yang akan terhubung dengan stasiun Kota (terintegrasi dengan KRL Commuter Line) dan stasiun Glodok (terintegrasi dengan TransJakarta koridor 1 dan 12). Dengan nilai investasi mencapai Rp22,5 triliun, proyek ini dibiayai melalui kombinasi pinjaman lunak dari Japan International Cooperation Agency (JICA) sebesar 60% dan dana pemerintah 40%. Sentimen pasar terhadap proyek ini positif, terlihat dari kenaikan harga properti di sekitar stasiun yang mencapai 15% year-on-year sejak pengumuman awal pada 2023, meskipun valuasi tersebut masih spekulatif karena belum ada kepastian jadwal operasional.
Para ahli transportasi dari Universitas Indonesia menilai bahwa rekayasa lalu lintas ini adalah langkah yang tidak bisa dihindari, namun mereka merekomendasikan agar PT MRT Jakarta menyediakan shuttle bus gratis untuk mengangkut penumpang dari area parkir andride di luar zona proyek. Dengan proyeksi penumpang harian pada fase 2A mencapai 280.000 orang, dampak positif jangka panjang akan jauh lebih besar dibandingkan ketidaknyamanan sementara. Namun, keberhasilan rekayasa ini sangat bergantung pada disiplin pengguna jalan dan efektivitas penegakan hukum, yang selama ini menjadi tantangan di Jakarta. Dengan demikian, publik diharapkan memahami bahwa kemacetan yang terjadi pada 2026-2029 adalah harga yang harus dibayar untuk transformasi transportasi kota yang lebih berkelanjutan.
Comments (0)