Reda Ketegangan Hormuz, Harga Minyak Anjlok 4 Persen

Pasar energi global dibuka dengan tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah sentimen ketakutan akan gangguan pasokan dari Selat Hormuz mereda drastis selama akhir pekan. ...

Jul 28, 2026 - 07:59
0 0
Reda Ketegangan Hormuz, Harga Minyak Anjlok 4 Persen

Pasar energi global dibuka dengan tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah sentimen ketakutan akan gangguan pasokan dari Selat Hormuz mereda drastis selama akhir pekan. Sentimen risk-off yang telah mendongkrak harga minyak mentah dalam beberapa sesi sebelumnya berbalik arah menyusul sinyal deeskalasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data perdagangan harian, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September terkoreksi 3,8% menjadi US$78,20 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ambles 4% ke level US$74,50 per barel. Ini merupakan koreksi harian terdalam dalam tiga pekan terakhir dan mengikis hampir seluruh kenaikan yang terakumulasi sejak laporan peningkatan aktivitas militer di kawasan Teluk.

Mekanisme Pereda Ketegangan Geopolitik

Sejak awal pekan lalu, harga minyak mendapat tekanan naik karena kekhawatiran bahwa jalur vital Selat Hormuz—yang dilewati sekitar 20% dari total perdagangan minyak global—dapat terganggu. Indikasi pengiriman kapal perang tambahan ke kawasan memicu aksi beli panik dari hedge fund dan spekulan. Namun, pernyataan resmi pada Sabtu malam bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan sementara untuk menunda eskalasi melalui saluran diplomatik Oman langsung mendinginkan emosi pasar.

Di satu sisi, kesepakatan tersebut menghilangkan premis lonjakan yang digerakkan oleh panic buying. Di sisi lain, pelaku pasar kini lebih rasional dalam menghitung kemungkinan blokade Hormuz. Menurut perhitungan internal lembaga energi, probabilitas gangguan fisik terhadap selat itu kini menurun dari 35% menjadi di bawah 5%. Konsekuensinya, risk premium yang sebelumnya telah membengkakkan harga minyak hingga US$7—US$9 per barel langsung tergerus.

“Pasar telah keliru menilai durasi dan eskalasi,” ujar seorang analis energi dari konsultan global. “Ketika premi geopolitik itu hilang, harga kembali mencari keseimbangan fundamental, dan ternyata angka itu berada jauh di bawah level US$80.”

Fundamental Pasokan yang Cenderung Longgar

Tanpa ancaman Hormuz, fokus kembali beralih ke neraca minyak global yang sebenarnya sedang melonggar. Data terbaru dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa produksi minyak dari negara-negara non-OPEC+, termasuk tambahan dari Brazil dan Guyana, melampaui perkiraan sebelumnya. Sementara itu, tingkat kepatuhan pemangkasan kuota di antara anggota OPEC+ mulai menunjukkan retakan.

Proyeksi pertumbuhan permintaan global juga direvisi turun tipis menjadi 1,1 juta barel per hari untuk 2026, mengindikasikan bahwa lonjakan konsumsi pasca-pandemi sudah mencapai puncaknya. Di Tiongkok, data impor minyak bulan Juni yang dirilis akhir pekan lalu memperlihatkan penurunan month-on-month sebesar 4,2%, yang merupakan indikator awal melemahnya permintaan dari importir terbesar itu.

Tambahan tekanan berasal dari laporan peningkatan stok minyak komersial AS yang untuk minggu ketiga berturut-turut mencatat lonjakan lebih tinggi dari perkiraan. Inventori di Cushing, Oklahoma, yang menjadi pusat penyimpanan WTI, naik sebesar 2,9 juta barel. Data ini menegaskan bahwa pasar fisik tidak sekencang yang dibayangkan oleh pelaku spekulatif.

Sentimen Jangka Pendek dan Reposisi Portofolio

Dengan lenyapnya urgensi geopolitik, para pelaku pasar melakukan penyesuaian portofolio secara agresif. Posisi net long spekulatif pada kontrak berjangka minyak mentah diperkirakan telah berkurang signifikan, sebagaimana terlihat dari volume transaksi yang melonjak pada sesi Asia. Indeks volatilitas minyak (OVX) yang pada hari Jumat sempat mencapai level tertinggi dua bulan, kini anjlok menandakan meredanya kepanikan.

Prospek jangka pendek kini lebih dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang akan datang dan keputusan Federal Reserve. Meski demikian, pasar tidak sepenuhnya mengabaikan potensi kembalinya ketegangan. “Ekses produksi global saat ini bisa bertindak sebagai bantalan, namun respons harga terhadap peristiwa Hormuz adalah sebuah pengingat bahwa disiplin geosuplai tetap rapuh,” kata seorang ekonom senior di hadapan forum energi virtual.

Untuk saat ini, kisaran harga WTI antara US$73—US$76 dan Brent antara US$77—US$80 dipandang sebagai zona wajar, kecuali ada terobosan diplomasi yang lebih substansial atau kejutan data pasokan. Investor kini menanti pertemuan teknis OPEC+ pada awal Agustus yang kemungkinan akan membahas komitmen produksi untuk paruh kedua tahun ini.

Dengan kelonggaran stok yang terkonfirmasi serta mendinginnya tensi di Timur Tengah, fokus pelaku pasar beralih dari cengkeraman geopolitik menuju realitas neraca yang lebih surplus. Harga yang anjlok pada Senin ini mungkin merupakan koreksi sehat yang menyelamatkan stabilisasi di sisa tahun 2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User