RANS Entertainment Bantah Tuduhan Pencucian Uang Terkait IPO
JAKARTA — PT RANS Entertainment Tbk (RANS) akhirnya buka suara atas isu pencucian uang yang sempat mengemuka di kalangan investor ritel beberapa waktu terakhir. Manajemen perusahaan yang didirikan o...
JAKARTA — PT RANS Entertainment Tbk (RANS) akhirnya buka suara atas isu pencucian uang yang sempat mengemuka di kalangan investor ritel beberapa waktu terakhir. Manajemen perusahaan yang didirikan oleh pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu menegaskan bahwa seluruh proses penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) telah berjalan sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rumor tersebut mencuat di media sosial setelah saham RANS mengalami pergerakan harga yang tidak lazim pasca-pencatatan pada April 2022. Saat itu, RANS melepas 1,25 miliar saham atau sekitar 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp100 per lembar, sehingga total dana yang dihimpun mencapai Rp250 miliar. Dana hasil IPO rencananya digunakan untuk pengembangan konten, akuisisi studio produksi, serta memperkuat basis digital RANS.
Kronologi IPO dan Respons Awal Pasar
Dalam proses penawaran, animo investor cukup tinggi mengingat popularitas pemilik merek RANS. Masa penawaran awal (bookbuilding) mencatat kelebihan permintaan hingga 7,5 kali dari porsi pooling, menandakan minat yang besar dari publik. Namun, tak lama setelah pencatatan, saham RANS justru terpantau mengalami volatilitas tinggi — sempat menyentuh level tertinggi Rp236 di hari pertama, lalu tertekan bertahap hingga menyentuh Rp50 dalam kurun tiga bulan. Pola itulah yang kemudian memicu spekulasi di kalangan pedagang, termasuk dugaan adanya transaksi mencurigakan yang mengarah pada pencucian uang.
Isu Pencucian Uang Mencuat
Spekulasi kian berkembang setelah beberapa akun anonim di forum daring menyebutkan bahwa dana IPO RANS tidak sepenuhnya digunakan untuk ekspansi bisnis. Tuduhan itu diperkuat dengan persepsi bahwa valuasi perusahaan dinilai terlalu tinggi dibandingkan fundamentalnya saat debut. RANS yang bergerak di bidang produksi konten dan manajemen artis saat itu belum menunjukkan kinerja keuangan yang solid. Pada 2021, pendapatan bersih RANS tercatat sekitar Rp67 miliar dengan laba bersih hanya Rp5,8 miliar, sehingga price-to-earnings ratio (PER) saat IPO melampaui 200 kali — level yang sangat tinggi untuk sektor entertainment sekelasnya.
Bantahan Resmi dari Manajemen
Menjawab isu tersebut, Direktur Utama RANS, Doni Pesurnay, dalam keterangan tertulisnya menegaskan bahwa seluruh transaksi saham perusahaan diawasi oleh BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). “Kami patuh pada semua prosedur. Setiap aliran dana yang masuk dalam IPO sudah melalui verifikasi ketat oleh penjamin emisi, notaris, dan konsultan hukum yang terdaftar di OJK. Tuduhan pencucian uang sama sekali tidak berdasar,” ujar Doni. Ia pun mendorong pihak yang merasa dirugikan untuk melapor kepada otoritas bursa agar tidak menyebarkan informasi yang menyesatkan di ruang publik.
Selain itu, perusahaan juga menyampaikan bahwa dana hasil IPO hingga saat ini masih dikelola sesuai rencana. RANS telah mengakuisisi studio produksi PT Indika Entertainment dan mengucurkan modal kerja untuk program serial web eksklusif di platform streaming digital. Realisasi dana tersebut disebut sudah mencapai 72% dari total hasil emisi.
Pandangan Regulator dan Pasar
OJK sendiri belum menerima laporan resmi terkait indikasi pencucian uang pada saham RANS. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, sebelumnya menyatakan bahwa mekanisme pengawasan transaksi bursa sudah terintegrasi. “BEI memiliki sistem pemantauan deteksi anomali perdagangan secara real time. Jika ada indikasi pelanggaran, kami pasti tindak lanjuti,” katanya dalam kesempatan terpisah. Di sisi lain, beberapa analis melihat isu ini lebih sebagai sentimen negatif yang dipicu oleh ketidakpahaman investor ritel terhadap karakteristik saham perusahaan baru.
Dampak pada Pergerakan Saham
Meski dibantah, sentimen di pasar belum sepenuhnya pulih. Pada perdagangan kemarin, saham RANS ditutup di level Rp82, melemah 2,4% dibandingkan hari sebelumnya. Volume perdagangan tercatat 18,7 juta lembar, sedikit di bawah rata-rata harian sepekan. Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Faisal Rahman, menilai isu pencucian uang seharusnya tidak berlarut-larut jika perusahaan mampu menunjukkan kinerja keuangan yang membaik. “Investor institusi akan kembali masuk jika RANS bisa membukukan pertumbuhan laba dua digit pada laporan keuangan berikutnya. Fundamental tetap jadi penentu,” ujarnya.
Proyeksi dan Harapan ke Depan
RANS sendiri optimistis dapat membalikkan persepsi pasar dengan sejumlah proyek besar yang akan dirilis pada semester kedua tahun ini. Di antaranya adalah kolaborasi dengan rumah produksi animasi asal Korea Selatan dan peluncuran platform konten pendidikan berbasis langganan. Dengan strategi itu, manajemen menargetkan pendapatan tumbuh 35–40% secara tahunan. Sembari menunggu realisasi, pasar tampaknya masih akan terus mengawasi apakah RANS benar-benar mampu lepas dari bayang-bayang tuduhan yang sempat mencoreng reputasinya di lantai bursa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak BEI maupun kepolisian mengenai langkah investigasi formal terhadap saham RANS. Namun, yang jelas, polemik ini menggarisbawahi pentingnya transparansi dan komunikasi yang lebih aktif dari emiten — terutama yang bersal dari kalangan figur publik — agar tidak mudah diterpa rumor yang dapat mengganggu kepercayaan investor.
Baca juga:
Comments (0)