Chairul Tanjung: Ciptakan Peluang, Rangkul Kegagalan Jadi Pengusaha

Festival Finansial Jogja yang digelar akhir pekan lalu tidak hanya menjadi ajang edukasi keuangan, tetapi juga panggung bagi para visioner bisnis untuk membagikan cetak biru kesuksesan mereka. Salah s...

Chairul Tanjung: Ciptakan Peluang, Rangkul Kegagalan Jadi Pengusaha

Festival Finansial Jogja yang digelar akhir pekan lalu tidak hanya menjadi ajang edukasi keuangan, tetapi juga panggung bagi para visioner bisnis untuk membagikan cetak biru kesuksesan mereka. Salah satu yang paling dinanti adalah kehadiran Chairul Tanjung, atau yang akrab disapa CT, pendiri CT Corp sekaligus salah satu pengusaha paling berpengaruh di Tanah Air. Dalam sesi bertajuk “Jalan Panjang Menuju Puncak”, CT mengurai formula dasarnya dalam berwirausaha: kemampuan menciptakan peluang di tengah keterbatasan, dan keberanian untuk mengakrabi kegagalan sebagai guru terbaik.

Di hadapan lebih dari seribu peserta yang memadati ruang utama, ia membuka dengan data yang memantik kesadaran. Merujuk pada rilis Badan Pusat Statistik, Indonesia membutuhkan sedikitnya 4 juta wirausahawan baru untuk mendongkrak rasio kewirausahaan nasional yang saat ini masih di kisaran 3,5 persen, jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang sudah menembus angka 5 persen. “Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah pesan bahwa kita tidak bisa hanya menjadi negara konsumen. Kita harus menjadi pencipta,” ucapnya dengan nada serius namun tetap membumi.

Dari Keterbatasan Menjadi Landasan Pacu

CT membagikan potongan perjalanan pribadinya yang dimulai dari keprihatinan. Bukan dari limpahan modal atau warisan keluarga, melainkan dari kepekaan melihat apa yang tidak dimiliki pasar. Ia mencontohkan langkah awalnya merintis bisnis di sektor ritel dan media, saat banyak orang justru menjauhi bidang tersebut karena dianggap padat modal dan berisiko tinggi. “Waktu itu, semua bilang jangan. Tapi saya melihatnya sebagai ruang yang belum terisi. Kuncinya bukan uang, melainkan cara pandang,” kenangnya. Prinsip yang ia pegang teguh hingga kini adalah, dalam setiap krisis atau kekosongan, selalu ada celah untuk menciptakan nilai tambah. Peluang, menurutnya, bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya—ia dibentuk oleh keberanian mengambil langkah pertama meski tanpa jaminan.

Untuk mendukung argumennya, CT merujuk pada lanskap bisnis digital hari ini. Ia menyoroti bagaimana perusahaan rintisan lokal yang sukses, seperti di bidang logistik dan pembayaran, tidak lahir dari meniru model asing, tetapi dari pemahaman mendalam tentang problem logistik Indonesia yang unik. “Mereka tidak menunggu peluang datang; mereka menciptakan solusi dari macetnya Jakarta, dari ribuan pulau yang harus dihubungkan. Itulah mentalitas pencipta,” tegasnya. Mentalitas itu pula yang harus dimiliki oleh calon pengusaha dari Jogja dan daerah lainnya—tidak sekadar menjadi pedagang, tetapi menjadi arsitek solusi.

Kegagalan: Biaya Kuliah yang Harus Dibayar

Jika bagian pertama paparannya berisi suntikan optimisme, paruh kedua sesi itu justru lebih berat, karena CT mengangkat tema yang sering dihindari: kegagalan. Dengan transparan, ia mengakui bahwa sebelum CT Corp mencapai valuasi seperti sekarang, dirinya telah melewati setidaknya empat kali kemunduran besar, mulai dari investasi yang hangus, proyek yang ditolak regulasi, hingga salah membaca tren pasar. “Saya tidak akan berdiri di sini jika waktu itu menyerah atau menyalahkan keadaan,” katanya. Baginya, setiap kegagalan adalah modul pembelajaran yang tidak diajarkan di ruang kuliah. Ia menyebutnya sebagai ‘biaya kuliah’ yang harus dibayar lunas oleh setiap pengusaha.

Data empiris menguatkan pesan itu. Survei global dari lembaga Startup Genome mencatat bahwa 90 persen startup gagal, dan mayoritas pendiri yang akhirnya sukses adalah mereka yang pernah mengalami kegagalan sebelumnya, lalu bangkit dengan strategi yang sudah diasah. CT menambahkan, budaya Indonesia yang masih menganggap kegagalan sebagai aib perlu diubah. “Di Silicon Valley, orang bertanya ‘Kamu pernah gagal berapa kali?’ karena itu menandakan pengalaman. Di sini, kegagalan masih disembunyikan. Kita harus berani mengakuinya, membedahnya, dan membagikannya agar ekosistem kita semakin matang,” ujarnya. Ia mendorong adanya ruang aman bagi para perintis untuk berbagi cerita gagal, sehingga pembelajaran menjadi kolektif, dan ketakutan tidak lagi membelenggu inovasi.

Membangun Ekosistem Pencipta di Daerah

CT memberikan perhatian khusus pada kota tuan rumah, Yogyakarta. Menurutnya, Jogja memiliki modal besar yang sering diremehkan: kepadatan talenta muda dari puluhan perguruan tinggi, biaya hidup yang relatif rendah, dan ekosistem kreatif yang sudah mengakar. Yang kurang, katanya, adalah jembatan antara ide di kampus dan eksekusi di pasar. Ia menyarankan agar pemerintah daerah dan investor mulai melirik Jogja bukan hanya sebagai destinasi wisata atau kota pelajar, melainkan sebagai laboratorium bisnis. “Ciptakan inkubator yang benar-benar menyatu dengan persoalan lokal. Pertanian, kerajinan, pariwisata, itu semua bisa dimodernisasi oleh anak-anak muda di sini. Jangan biarkan ide-ide hanya menjadi tugas akhir yang berdebu,” tantangnya.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya tentang bagaimana memulai usaha tanpa banyak modal. CT merespons dengan balik bertanya: “Apa yang Anda lihat setiap hari yang membuat tidak nyaman? Mulailah dari situ.” Ia menjelaskan bahwa modal pertama adalah ketidakpuasan terhadap status quo. Jika ada masalah yang terlihat, di situ ada peluang. Ia memberikan contoh nyata seorang ibu di Jawa Timur yang memulai bisnis pengolahan limbah organik dari keresahan melihat sampah pasar, dan kini omzetnya mencapai Rp300 juta per bulan. “Dia tidak menunggu investor. Dia menciptakan peluang dari bau busuk yang orang lain hindari. Itulah esensi kewirausahaan,” tutup CT, disambut tepuk tangan panjang.

Festival Finansial Jogja tahun ini sekaligus menjadi penegasan bahwa literasi kewirausahaan tidak bisa dipisahkan dari literasi keuangan. Para peserta tidak hanya diajak berani bermimpi, tetapi juga diingatkan untuk menghitung risiko, mencintai proses, dan menjadikan setiap jatuh bangun sebagai anak tangga menuju puncak. Pesan CT yang paling membekas sepanjang hari itu sederhana namun menusuk: jangan pernah menunggu peluang, karena peluang tidak akan pernah mengetuk pintu bagi mereka yang hanya diam.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User