Khamenei Kutip Soekarno, Dorong Persatuan Lintas Agama dan Ideologi

Teheran — Sebuah pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di hadapan forum diplomatik pekan ini mengejutkan banyak pihak. Ia merujuk pada salah satu pidato bersejarah Presiden perta...

Khamenei Kutip Soekarno, Dorong Persatuan Lintas Agama dan Ideologi

Teheran — Sebuah pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di hadapan forum diplomatik pekan ini mengejutkan banyak pihak. Ia merujuk pada salah satu pidato bersejarah Presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang menggarisbawahi betapa vitalnya kesatuan kendati beragam keyakinan dan aliran pemikiran. Kalimat itu disampaikan dalam sesi yang membahas peran negara-negara Muslim dan negara berkembang dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih adil.

Rujukan pada putra Sang Proklamator itu segera memicu perbincangan di kalangan pengamat hubungan internasional. Indonesia dan Iran memiliki ikatan panjang melalui Gerakan Non-Blok dan dialog antarperadaban. Namun, pengutipan seorang pemimpin besar non-Muslim oleh otoritas tertinggi Republik Islam Iran menjadi penegas bahwa nilai-nilai Soekarno melampaui sekat agama dan geopolitik.

Pidato Bung Karno yang Melintasi Zaman

Soekarno, yang karib disapa Bung Karno, bukan sekadar tokoh kemerdekaan Indonesia. Ia juga orator kelas dunia yang gagasannya tentang "Bhinneka Tunggal Ika"—berbeda-beda tetapi tetap satu—menjadi fondasi negara dengan lebih dari 17.000 pulau dan 1.300 suku bangsa. Dalam berbagai forum, seperti Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, ia menyerukan agar negara-negara bekas jajahan bersatu tanpa mempersoalkan perbedaan ideologi atau agama.

Cuplikan pidato yang disinggung Khamenei, menurut sumber yang hadir, menekankan bahwa persatuan bukan berarti penyeragaman, melainkan kemampuan untuk membangun jembatan di atas warna-warni identitas. "Bung Karno mengajarkan bahwa musuh terbesar kita bukanlah orang yang berbeda keyakinan, melainkan ketidakmampuan kita untuk saling memahami," ujar salah satu pejabat Kedutaan Besar Indonesia di Teheran yang enggan disebut namanya. Hal inilah yang tampaknya mengena di hati Khamenei, yang kerap menyampaikan narasi perlunya ummah bersatu di tengah perbedaan mazhab.

Konvergensi Nilai di Tengah Dua Sistem Berbeda

Bagi banyak analis, kenyataan bahwa Khamenei mengapresiasi warisan intelektual Soekarno menunjukkan titik temu yang tak terduga antara republik sekuler dan teokrasi Islam. Indonesia dengan Pancasila yang sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa tidak sedang membangun negara agama, tetapi memberi ruang besar bagi praktik keagamaan. Sebaliknya, Iran mendasarkan konstitusinya pada prinsip velayat-e faqih. Namun, kedua negara sama-sama menjadikan keadilan sosial dan kemandirian bangsa sebagai poros kebijakan.

Khamenei sendiri telah berkali-kali menyerukan agar negara-negara Muslim tidak terkotak-kotak oleh fanatisme sektarian. Kali ini, menjadikan Soekarno sebagai contoh menjadi pesan simbolis yang kuat: Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, mampu hidup rukun dengan minoritas Kristen, Hindu, Buddha, dan aliran kepercayaan lain. "Ini pesan yang cerdas dari Ayatollah Khamenei. Beliau memungut kearifan Nusantara untuk mendamaikan dunia Islam yang sedang bergejolak," kata Reza Mousavi, pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Teheran.

Respons Jakarta dan Prospek Hubungan Bilateral

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyambut baik pernyataan Khamenei. Juru bicara Kemlu, dalam keterangan tertulis, menyebut hal itu sebagai pengakuan atas peran historis Bung Karno sekaligus pengingat bahwa ajaran persatuan dalam keberagaman relevan sepanjang masa. Tidak ada agenda diplomasi khusus yang diumumkan, tetapi sumber di Senayan mengisyaratkan bahwa momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperdalam kerja sama di sektor perdagangan, energi, dan pendidikan.

Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran pada tahun lalu tercatat sekitar 900 juta dolar AS, angka yang dinilai masih bisa ditingkatkan jika kendala pembayaran akibat sanksi internasional dapat diatasi. Lebih dari itu, kerja sama kebudayaan dan misi kemanusiaan—termasuk perjuangan kemerdekaan Palestina yang menjadi kesamaan sikap kedua negara—berpotensi semakin erat.

Relevansi di Era Fragmentasi Global

Dunia saat ini menghadapi gelombang polarisasi: perang dagang, konflik identitas, dan kebangkitan populisme. Di tengah situasi itu, rujukan pada pidato Bung Karno menjadi napas segar. Soekarno pernah mengatakan bahwa dunia memerlukan "harmoni dalam keberagaman, bukan monokultur pemikiran". Pernyataan yang kini dipungut oleh pemimpin tertinggi Iran itu mengingatkan kembali bahwa multilateralisme dan toleransi bukan sekadar jargon.

Para sejarawan mencatat, Soekarno seringkali menggunakan mimbar internasional untuk menyatukan kekuatan Dunia Ketiga. Khamenei, dengan merujuk tokoh itu, seakan ingin membangkitkan kembali roh Bandung: poros alternatif yang tidak terkunci pada dominasi Barat atau Timur. Apakah seruan ini mampu melampaui batas retorika dan benar-benar menjadi panduan aksi? Jawabannya bergantung pada konsistensi para pemimpin dunia, termasuk Indonesia dan Iran, dalam menerjemahkan pesan persatuan ke dalam kebijakan nyata. Yang pasti, gaung pidato Soekarno masih terasa hingga ke jantung Teheran, membuktikan bahwa ide-ide besar tak pernah benar-benar tenggelam oleh waktu.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User