Ramalan India soal Soeharto Terbukti dan Warisan Ekonomi Orde Baru
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata sekitar 7 persen per tahun selama tiga dekade pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, sebelum akhirnya terko...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata sekitar 7 persen per tahun selama tiga dekade pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, sebelum akhirnya terkontraksi 13,1 persen pada 1998 akibat krisis moneter Asia. Di balik angka-angka makro tersebut, beredar pula narasi populer di masyarakat: jauh sebelum menjabat presiden, seorang peramal asal India disebut telah menyampaikan ramalan kepada Siti Hartinah atau Ibu Tien bahwa suaminya kelak akan memimpin bangsa ini. Ramalan itu kemudian dianggap terbukti ketika Soeharto menjadi penjabat presiden pada 1967 dan presiden definitif setahun berikutnya.
Kisah semacam ini bukan hal baru dalam sejarah politik Indonesia. Narasi tentang pertanda, wangsit, hingga ramalan kerap menyertai perjalanan para pemimpin bangsa. Pertanyaannya, bagaimana fenomena tersebut dibaca dari kacamata analisis yang berimbang?
Ramalan dalam Perspektif Budaya dan Rasionalitas
Di satu sisi, tradisi Jawa mengenal primbon dan perhitungan spiritual yang telah hidup ratusan tahun. Bagi sebagian masyarakat, ramalan yang terbukti akurat memperkuat keyakinan bahwa kekuasaan seseorang telah digariskan melalui pertanda gaib. Cerita peramal India yang mendatangi Ibu Tien pun hidup dan diwariskan lintas generasi sebagai bagian dari folklor politik era Orde Baru.
Di sisi lain, analis politik dan ekonomi menilai naiknya Soeharto ke puncak kekuasaan lebih tepat dijelaskan oleh data ketimbang ramalan. Pada 1966, Indonesia mengalami hiperinflasi sekitar 650 persen, cadangan devisa nyaris kosong, dan stabilitas politik runtuh pasca-peristiwa 1965. Kombinasi kekacauan ekonomi, dukungan militer, dan tuntutan stabilitas menciptakan kondisi objektif bagi peralihan kekuasaan. Dengan kata lain, prediksi apa pun tentang perubahan kepemimpinan saat itu memiliki probabilitas tinggi untuk terwujud.
Warisan Ekonomi Orde Baru: Stabilitas dan Pertumbuhan
Terlepas dari kisah ramalannya, fundamental ekonomi era Soeharto menunjukkan tren perbaikan yang signifikan pada dua dekade pertama. Pemerintah menjalankan program stabilisasi dan rehabilitasi, membuka kembali akses terhadap bantuan internasional, serta menyusun pembangunan lima tahun atau Pelita. Hasilnya, inflasi yang sempat menembus tiga digit berhasil ditekan ke level satu digit pada awal 1970-an.
Data BPS mencatat pendapatan per kapita naik dari sekitar 70 dolar AS pada akhir 1960-an menjadi lebih dari 1.000 dolar AS pada pertengahan 1990-an. Tingkat kemiskinan turun dari sekitar 40 persen pada 1976 menjadi 11,3 persen pada 1996. Indonesia bahkan mencapai swasembada pangan pada 1984, sebuah capaian yang mendapat pengakuan dari FAO. Pertumbuhan yang stabil ini menjadikan Indonesia salah satu negara yang disebut sebagai keajaiban Asia Timur dalam laporan Bank Dunia 1993.
Sisi Gelap: KKN, Utang, dan Krisis 1997/1998
Namun di sisi lain, pertumbuhan tersebut menyimpan kerapuhan struktural. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme menggerogoti efisiensi ekonomi, sementara utang luar negeri membengkak hingga sekitar 136 miliar dolar AS menjelang krisis. Sektor perbankan lemah, dengan rasio kredit bermasalah yang tinggi dan pengawasan yang longgar.
Ketika krisis mata uang Asia melanda pada 1997, rupiah anjlok dari sekitar Rp2.400 per dolar AS hingga sempat menembus hampir Rp17.000 per dolar AS pada 1998. Inflasi melonjak ke 77,6 persen, ekonomi terkontraksi 13,1 persen, dan gelombang pemutusan hubungan kerja melanda berbagai sektor. Tekanan ekonomi inilah yang pada akhirnya memicu krisis politik dan berujung pada pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998, setelah 32 tahun berkuasa.
Antara Ramalan dan Proyeksi Ekonomi
Dalam dunia ekonomi modern, proyeksi dibangun di atas model kuantitatif, asumsi yang terukur, dan data historis, bukan intuisi spiritual. Lembaga seperti BPS, Bank Indonesia, dan Dana Moneter Internasional merilis proyeksi pertumbuhan dengan margin kesalahan yang dapat diuji. Meski demikian, pengalaman menunjukkan bahwa sentimen pasar juga dapat digerakkan oleh narasi, rumor, bahkan kepercayaan kolektif yang tidak selalu rasional.
Ramalan peramal India kepada Ibu Tien boleh jadi menarik sebagai kisah sejarah dan mencerminkan cara masyarakat memaknai kekuasaan. Namun bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan, pelajaran terpenting dari era Soeharto justru terletak pada datanya: pertumbuhan tinggi tanpa tata kelola yang sehat terbukti rapuh. Fundamental ekonomi, likuiditas yang memadai, dan institusi yang kredibel pada akhirnya lebih menentukan keberlanjutan sebuah rezim ketimbang ramalan mana pun.
Comments (0)