Oct 15, 2026
Bisnis

QRIS Meluas ke Arab Saudi, Hong Kong, dan India

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir 2024, nilai transaksi QRIS secara year-on-year mengalami kenaikan signifikan, menembus ratusan triliun rupiah dengan jumlah pengguna yang kini melampaui 50 ju...

QRIS Meluas ke Arab Saudi, Hong Kong, dan India

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir 2024, nilai transaksi QRIS secara year-on-year mengalami kenaikan signifikan, menembus ratusan triliun rupiah dengan jumlah pengguna yang kini melampaui 50 juta dan merchant terdaftar lebih dari 30 juta. Angka ini menjadi fondasi penting bagi langkah perluasan konektivitas pembayaran lintas batas yang menyasar tiga wilayah baru: Arab Saudi, Hong Kong, dan India.

Langkah tersebut menandai babak baru dalam strategi internasionalisasi sistem pembayaran nasional. Sebelumnya, QRIS telah terhubung dengan sejumlah negara di kawasan ASEAN seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina, serta Jepang dan Korea Selatan. Kini perluasan menyasar pasar yang secara fundamental berbeda karakteristiknya, baik dari sisi likuiditas, kebiasaan konsumen, maupun infrastruktur keuangan.

Di Satu Sisi: Peluang dan Tren Positif

Di satu sisi, kehadiran QRIS di Arab Saudi, Hong Kong, dan India membuka keran likuiditas baru bagi perekonomian domestik. Arab Saudi merupakan tujuan utama jemaah haji dan umrah Indonesia, dengan jumlah jemaah yang mencapai ratusan ribu per tahun. Transaksi di sana selama ini didominasi uang tunai dan kartu kredit konvensional yang membebani biaya konversi valuta asing. Dengan QRIS, biaya transaksi diharapkan turun dan nilai rupiah lebih cepat kembali ke dalam negeri.

Hong Kong, sebagai pusat keuangan global, menawarkan sentimen pasar yang kuat. Kehadiran QRIS di sana memperluas portofolio kerja sama dengan lembaga keuangan internasional dan memperkuat posisi rupiah dalam mendukung transaksi pariwisata maupun bisnis. Sementara India adalah mitra dagang strategis dengan volume perdagangan bilateral yang terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Konektivitas pembayaran ritel antara kedua negara berpotensi menyederhanakan remitansi dan mendorong sektor pariwisata.

"Perluasan QRIS ke tiga wilayah ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pembayaran yang saling terhubung secara global," ujar seorang pejabat bank sentral dalam keterangan resminya, tanpa menyebut waktu persis peluncuran komersialnya.

Di Sisi Lain: Tantangan Fundamental dan Sentimen Pasar

Di sisi lain, tantangan tidak ringan. India memiliki sistem pembayaran ritel domestik yang sangat kuat, yakni UPI, dengan pengguna ratusan juta dan tingkat adopsi domestik yang tinggi. Konektivitas QRIS dengan UPI menuntut kesesuaian standar teknis, protokol keamanan, serta penyelesaian transaksi lintas negara yang melibatkan dua mata uang berbeda. Risiko capital outflow jangka pendek juga perlu diwaspadai bila volume transaksi lebih besar mengalir ke luar dibanding ke dalam.

Arab Saudi dan Hong Kong memiliki rezim regulasi keuangan yang ketat. Proses uji coba (pilot) hingga peluncuran penuh biasanya memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tergantung kesiapan lembaga penyelesaian dan kepatuhan terhadap aturan anti pencucian uang. Valuasi manfaat ekonomi jangka pendek pun sebaiknya tidak dibesar-besarkan sebelum volume transaksi riil terbentuk.

Dari kacamata proyeksi, dampak terhadap cadangan devisa dan stabilitas rupiah bergantung pada rasio transaksi masuk dan keluar. Jika mayoritas transaksi dilakukan wisatawan Indonesia di luar negeri, maka aliran devisa keluar bisa lebih besar. Namun, bila QRIS juga menarik wisatawan mancanegara untuk bertransaksi di Indonesia, efeknya bisa berimbang.

Proyeksi dan Sikap Bijak Pelaku Ekonomi

Secara garis besar, langkah ini mencerminkan tren global menuju pembayaran lintas batas yang makin terintegrasi. Bagi pelaku usaha, khususnya UMKM yang sudah terhubung QRIS, perluasan ini berarti akses pasar baru tanpa perlu mengubah perangkat. Bagi konsumen, kemudahan bertransaksi tanpa menukar uang tunai menjadi nilai tambah.

Namun, publik sebaiknya mencermati tahapan implementasi secara berkala. Perhatikan apakah kerja sama ini berbentuk memorandum kesepahaman, uji coba terbatas, atau peluncuran komersial penuh. Setiap tahapan memiliki implikasi berbeda terhadap volume transaksi, likuiditas bank, dan valuasi layanan penyedia jasa pembayaran.

Kesimpulannya, perluasan QRIS ke Arab Saudi, Hong Kong, dan India adalah sinyal positif bagi integrasi keuangan regional. Di satu sisi membuka peluang likuiditas dan efisiensi; di sisi lain menuntut kesiapan regulasi, teknologi, dan mitigasi risiko capital outflow. Yang terpenting, setiap proyeksi manfaat harus berpijak pada data transaksi aktual, bukan sekadar sentimen pasar sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User