Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Lampung serta laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2023, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di provinsi ini menembus angka lebih dari 800 ribu unit, dengan kontribusi terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) mencapai sekitar 60 persen. Namun, dari total tersebut, porsi wirausaha muda yang berusia di bawah 30 tahun masih berkisar 15 hingga 18 persen—sebuah rasio yang dianggap belum ideal untuk mendorong akselerasi ekonomi daerah. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang penyelenggaraan program pembinaan bagi kalangan mahasiswa yang tengah merintis usaha, termasuk kegiatan coaching clinic yang baru-baru ini digelar di Bandar Lampung.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah praktisi bisnis dan pelaku usaha mapan untuk berbagi pengalaman langsung kepada mahasiswa yang sudah memiliki rintisan usaha. Materi yang disampaikan mencakup strategi bertahan di fase awal, pengelolaan arus kas, hingga cara membaca peluang pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Para peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga sesi konsultasi tertutup untuk membedah persoalan spesifik yang mereka hadapi di lapangan.
Antusiasme Peserta dan Tantangan Fundamental Usaha Muda
Di satu sisi, gelaran ini menunjukkan tren positif: semakin banyak mahasiswa yang tertarik masuk ke dunia wirausaha alih-alih sekadar menunggu lowongan kerja formal. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat rasio kewirausahaan nasional pada 2023 berada di angka 3,47 persen, naik dari 3,35 persen pada 2022, dengan target pemerintah menyentuh 4 persen dalam beberapa tahun ke depan. Provinsi Lampung, dengan populasi sekitar 9,2 juta jiwa, memiliki potensi besar untuk menyumbang angka tersebut apabila ekosistem pendampingan diperkuat.
Di sisi lain, tantangan fundamental tetap membayangi. Berdasarkan survei internal sejumlah inkubator bisnis kampus, sekitar 60 persen usaha rintisan mahasiswa gagal melewati tahun pertama. Penyebab utamanya bukan pada kurangnya ide, melainkan lemahnya pemahaman aspek manajerial—mulai dari pembukuan sederhana, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, hingga ketidakmampuan menjaga likuiditas ketika penjualan melambat. Akses terhadap pembiayaan formal pun masih menjadi kendala; rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan nasional baru sekitar 19 persen per akhir 2023, jauh dari target 30 persen.
Keterbatasan Akses Pembiayaan dan Literasi Keuangan
Dalam sesi coaching, sejumlah peserta mengaku kesulitan mengembangkan usaha karena terbatasnya modal dan minimnya jejak kredit yang membuat mereka sulit mengakses pinjaman bank. Skema pembiayaan berbasis teknologi keuangan (fintech) memang menjadi alternatif, tetapi bunga yang relatif tinggi dan tenor pendek sering kali memberatkan usaha yang baru berjalan. Hal ini diperparah oleh rendahnya literasi keuangan digital di kalangan mahasiswa pengusaha—sebuah ironi mengingat kelompok ini justru paling akrab dengan perangkat teknologi.
"Banyak usaha muda mati bukan karena produknya jelek, tapi karena pemiliknya tidak pernah menghitung berapa biaya produksi sebenarnya dan berapa harga jual yang sehat," ujar seorang pembicara dalam forum tersebut, menggambarkan persoalan klasik yang kerap ditemui.
Pernyataan itu menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar semangat, melainkan kapasitas teknis. Pelatihan semacam coaching clinic dinilai relevan karena mampu menjembatani kesenjangan antara teori di bangku kuliah dan realitas pasar yang keras. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada keberlanjutan program—apakah peserta benar-benar didampingi setelah acara selesai, atau hanya mendapat suntikan motivasi sesaat.
Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan
Dari kacamata makro, kontribusi wirausaha muda terhadap perekonomian Lampung masih berada pada tahap awal. Sektor pertanian dan perdagangan masih mendominasi struktur ekonomi daerah, sementara sektor pengolahan dan jasa kreatif—yang biasanya menjadi ladang usaha muda—belum tumbuh signifikan. Proyeksi Bank Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi Lampung pada kisaran 4,5 hingga 5 persen year-on-year memberikan ruang optimisme, asalkan disertai perbaikan iklim usaha dan kemudahan perizinan.
Di sisi lain, sentimen pasar global yang fluktuatif—tercermin dari volatilitas nilai tukar dan tekanan capital outflow pada pasar keuangan domestik—menuntut usaha muda memiliki ketahanan yang lebih baik. Mereka harus mampu beradaptasi dengan perubahan preferensi konsumen, termasuk pergeseran ke kanal digital. Usaha yang gagap teknologi berisiko tertinggal, sementara yang terlalu agresif berekspansi tanpa fundamental yang kuat justru rentan kolaps.
Kesimpulannya, kegiatan pembinaan bagi mahasiswa pengusaha merupakan langkah yang searah dengan kebutuhan penguatan struktur ekonomi daerah. Namun, ia bukan obat tunggal. Diperlukan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha mapan agar ekosistem kewirausahaan muda tumbuh sehat. Tanpa itu, antusiasme yang terlihat dalam ruang pelatihan berpotensi menguap begitu peserta kembali menghadapi realitas pasar. Yang dibutuhkan bukan sekadar coaching, melainkan pendampingan berkelanjutan yang menyentuh aspek fundamental: manajemen, pembiayaan, dan akses pasar.
Comments (0)