Pujian Langka PM Belanda untuk Diplomasi Menlu RI

Ucapan yang tak biasa dilontarkan Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, terhadap Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, dalam sebuah forum bilateral di Den Haag pada akhir pekan lalu. Dalam pern...

Pujian Langka PM Belanda untuk Diplomasi Menlu RI

Ucapan yang tak biasa dilontarkan Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, terhadap Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, dalam sebuah forum bilateral di Den Haag pada akhir pekan lalu. Dalam pernyataan yang disampaikan tanpa naskah, Rutte menyebut Menlu Retno sebagai “salah satu diplomat paling berpengaruh di kawasan” yang berhasil mengubah dinamika hubungan kedua negara. Pujian itu sontak menjadi sorotan karena jarang sekali seorang kepala pemerintahan Eropa memberikan penilaian personal dan sebegitu terbuka terhadap pejabat setingkat menteri dari negara berkembang.

Rutte, yang telah menjabat sejak 2010, dikenal sebagai politikus pragmatis yang jarang memberi pujian berlebihan. Ia biasa berbicara dalam bahasa diplomasi yang terukur. Namun, dalam pertemuan yang membahas kerja sama perdagangan dan investasi, ia secara spontan menyinggung peran Menlu RI dalam merampungkan sejumlah perjanjian strategis. “Saya bekerja dengan banyak menteri luar negeri, tapi Ibu Retno punya cara khas memadukan ketegasan dan empati. Itu langka,” ujar Rutte sebagaimana dikutip dari transkrip resmi yang dirilis Kedutaan Besar RI di Den Haag.

Hubungan Bilateral yang Kian Erat

Pernyataan tersebut muncul di tengah penguatan hubungan Indonesia-Belanda yang belakangan semakin mesra. Nilai perdagangan bilateral pada tahun lalu menembus US$6,2 miliar, naik 12 persen dibanding periode sebelumnya. Belanda juga menjadi investor utama di sektor logistik, energi terbarukan, dan pengelolaan air. Proyek pembangunan tanggul raksasa di pantai utara Jawa yang dibiayai konsorsium Belanda senilai €450 juta disebut sebagai tonggak baru. Di sisi lain, Belanda semakin bergantung pada minyak sawit lestari dan produk manufaktur Indonesia. Kerja sama ini tak lepas dari diplomasi senyap yang dijalankan Menlu Retno, yang dalam tiga tahun terakhir telah lima kali berkunjung ke Amsterdam dan Den Haag untuk melobi parlemen dan kalangan bisnis.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor Indonesia ke Belanda didominasi oleh minyak nabati, alas kaki, dan elektronik. Sementara impor dari Belanda meliputi mesin, produk susu, dan bahan kimia. Surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat sebesar US$1,8 miliar, angka yang memperkuat posisi tawar Jakarta. Namun, yang menarik perhatian Rutte adalah konsistensi Indonesia dalam menyuarakan keadilan perdagangan komoditas dan keberlanjutan lingkungan. Menlu Retno kerap memanfaatkan forum multilateral untuk menyelaraskan kepentingan negara berkembang dengan standar Eropa. “Ia bukan sekadar negosiator, tetapi juga jembatan antardua tradisi diplomasi yang berbeda,” kata pengamat hubungan internasional dari Universitas Leiden, Dr. Peter van der Heiden.

Rekam Jejak Seorang Diplomat

Retno Marsudi bukan nama baru di panggung internasional. Sejak dilantik pada 2014 sebagai menlu perempuan pertama Indonesia, ia telah mengukir berbagai capaian. Mulai dari memimpin mediasi krisis Rohingya, mendorong penyelesaian sengketa Laut China Selatan melalui ASEAN, hingga menggalang dukungan global untuk kemerdekaan Palestina. Dalam pertemuan G20 dan forum PBB, ia dikenal lantang namun tetap menjaga hubungan baik dengan negara-negara besar. Pendekatan “teman bagi semua” yang ia terapkan membuatnya diperhitungkan di koridor diplomasi global. Pujian Rutte pun dinilai sebagai pengakuan atas gaya diplomasi personal yang mengedepankan solusi konkret, bukan sekadar retorika.

Di Belanda, Retno juga membangun hubungan dekat dengan parlemen dan kelompok bisnis. Menurut catatan Kedubes Belanda di Jakarta, ia rutin menggelar dialog informal dengan CEO perusahaan multinasional Belanda seperti Unilever, Philips, dan Shell untuk mendengar hambatan investasi. Langkah ini dianggap tidak lazim bagi seorang menlu, tetapi terbukti efektif. Ketika pandemi memukul rantai pasok global, Retno memfasilitasi pengiriman alat kesehatan senilai €15 juta dari Rotterdam ke Jakarta dalam waktu singkat. “Dia tahu bagaimana menjembatani kepentingan bisnis dan publik,” ujar Kai van Oosterhout, analis ekonomi dari Clingendael Institute.

Respons Pemerintah dan Publik

Respons dari Jakarta juga cukup hangat. Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasi melalui juru bicara kepresidenan, menekankan bahwa pengakuan dari PM Belanda membuktikan efektivitas diplomasi ekonomi yang selama ini dijalankan. Kementerian Luar Negeri sendiri tidak berkomentar berlebihan, tetapi menyebutnya sebagai “penghargaan bagi seluruh jajaran diplomasi Indonesia.” Sementara itu, dalam wawancara terbatas dengan media, Retno justru merendah. “Ini bukan soal individu, melainkan tentang posisi Indonesia yang semakin diperhitungkan. Kita hanya menjalankan amanat rakyat,” ucapnya.

Pengakuan langka ini juga memicu diskusi di kalangan pengamat politik. Sebagian menilai bahwa pujian Rutte bisa menjadi modal politik bagi Retno jika ia melanjutkan karier ke jenjang lebih tinggi, seperti calon wakil presiden atau kepala pemerintahan. Di sisi lain, ada pula yang mengingatkan bahwa pujian dari negara maju jangan sampai membuat Indonesia lengah dalam memperjuangkan kepentingan nasional. “Tepuk tangan dari mitra dagang adalah pengakuan, tetapi jangan sampai menjadi bumerang ketika kita harus bersikap tegas dalam negosiasi,” kata Dr. Lina Alexandra dari Departemen Hubungan Internasional UI.

Terlepas dari pro dan kontra, pernyataan Rutte menegaskan bahwa diplomasi personal masih menjadi instrumen efektif di era geopolitik yang penuh ketidakpastian. Hubungan RI-Belanda yang dulunya hanya dipandang lewat kacamata sejarah kolonial, kini bertransformasi menjadi kemitraan setara dengan fondasi ekonomi yang kokoh. Pujian terhadap Menlu RI itu pun menjadi bukti bahwa kualitas individu seorang pemimpin diplomasi bisa memainkan peran kunci dalam memperkuat posisi negara di panggung dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User