Sep 02, 2026
Bisnis

Program Pangan Prioritas: Efektivitas di Tengah Tekanan Inflasi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, indeks harga pangan mengalami kenaikan year-on-year sebesar 5,1%, meskipun terjadi penurunan month-to-month sebesar 0,3%. Angka ini menun...

Program Pangan Prioritas: Efektivitas di Tengah Tekanan Inflasi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, indeks harga pangan mengalami kenaikan year-on-year sebesar 5,1%, meskipun terjadi penurunan month-to-month sebesar 0,3%. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi pangan masih tinggi, meskipun ada sedikit perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Di tengah situasi tersebut, Kemenko Pangan memastikan program prioritas Presiden Prabowo berjalan efektif melalui koordinasi lintas kementerian, dengan fokus pada ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Namun, efektivitas program ini perlu dikaji dari dua sisi: potensi sinergi kebijakan dan hambatan struktural yang masih membayangi.

Sinergi Lintas Kementerian: Fondasi Efektivitas

Di satu sisi, koordinasi lintas kementerian menjadi kunci untuk menyatukan berbagai program yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Misalnya, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian BUMN kini duduk bersama dalam forum percepatan ketahanan pangan. Rasio anggaran ketahanan pangan terhadap PDB meningkat dari 1,0% pada 2023 menjadi 1,2% pada 2024, menunjukkan komitmen fiskal yang lebih besar. Pro dari langkah ini adalah pengurangan tumpang tindih kebijakan dan percepatan realisasi program seperti bantuan pupuk dan benih unggul. Namun, di sisi lain, birokrasi yang masih kompleks seringkali menghambat implementasi di lapangan. Data Kemenko Pangan menunjukkan bahwa realisasi anggaran ketahanan pangan baru mencapai 65% pada semester I 2024, lebih rendah dari target 75%. Hal ini mengindikasikan bahwa koordinasi belum sepenuhnya optimal dalam mengatasi hambatan administrasi.

Kesejahteraan Petani: Antara Subsidi dan Harga Pasar

Program prioritas menempatkan kesejahteraan petani sebagai salah satu pilar utama. Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2024 tercatat 105,2, naik 1,5 poin dari tahun sebelumnya, namun masih di bawah level ideal 110 yang menandakan daya beli petani cukup kuat. Pro: kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras memberikan jaminan harga minimal, sehingga petani tidak mengalami kerugian drastis saat panen raya. Di sisi lain, harga pupuk nonsubsidi yang terus meningkat—mencapai kenaikan 12% year-on-year pada Agustus 2024—menekan biaya produksi. Likuiditas petani juga terbatas; berdasarkan data Bank Indonesia, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) sektor pertanian tumbuh hanya 4,7% year-on-year, lebih lambat dibandingkan sektor lain. Kontra: tanpa perbaikan akses pembiayaan dan pengendalian harga input, kesejahteraan petani hanya bertumpu pada subsidi yang bersifat sementara.

Tantangan Distribusi dan Stabilitas Harga

Efektivitas program ketahanan pangan juga diuji oleh rantai distribusi yang panjang dan biaya logistik yang tinggi. Indeks Biaya Logistik Nasional (IBLN) untuk komoditas pangan masih sekitar 23,5% dari nilai produk, lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Thailand yang hanya 18%. Pro: pembangunan infrastruktur jalan desa dan gudang penyimpanan oleh Kementerian PUPR diharapkan menekan biaya distribusi hingga 2-3% dalam dua tahun ke depan. Namun, kontra: sentimen pasar terhadap kebijakan impor pangan yang masih ambigu—misalnya, izin impor beras yang sempat diperketat lalu dilonggarkan—menimbulkan volatilitas harga. Inflasi pangan yang masih di atas 5% year-on-year menunjukkan bahwa stabilitas harga belum sepenuhnya tercapai. Menurut Dr. Rina Mariani, ekonom senior dari LPEM FEB UI, "Koordinasi lintas kementerian memang penting, namun tanpa perbaikan rantai pasok dan pengendalian harga input, efektivitas program akan terbatas. Fundamental ketahanan pangan memerlukan investasi jangka panjang pada irigasi, riset benih, dan digitalisasi distribusi." Proyeksi ke depan, jika program prioritas dapat mengurangi biaya logistik dan meningkatkan akses petani terhadap kredit, maka rasio ketahanan pangan terhadap inflasi dapat membaik. Namun, jika tekanan harga input dan birokrasi terus berlanjut, target swasembada pangan pada 2025 masih menjadi tantangan besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User