Prambanan — Prabowo dan Modi Resmikan Restorasi Candi

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi tiba di kompleks Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu (8/7/2026

Jul 08, 2026 - 13:46
0 0
Prambanan — Prabowo dan Modi Resmikan Restorasi Candi

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi tiba di kompleks Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu (8/7/2026) dalam sebuah kunjungan kenegaraan yang sarat simbolisme budaya. Kedatangan kedua pemimpin disambut dengan pertunjukan tari klasik Rama-Shinta, sebuah narasi epik Ramayana yang mengakar kuat di kedua bangsa. Kunjungan ini bertujuan utama meresmikan rampungnya proyek konservasi dan restorasi kawasan candi warisan dunia UNESCO tersebut, yang melibatkan kolaborasi teknis dan pendanaan bersama antara kedua negara. Proyek yang dimulai sejak 2023 ini menelan biaya sekitar Rp 280 miliar, dengan India berkontribusi melalui hibah teknis dan pelatihan konservator muda.

Analisis: Antara Soft Diplomacy dan Kepentingan Strategis

Peresmian ini bukan sekadar seremoni budaya. Bagi Indonesia, restorasi Prambanan menegaskan komitmen terhadap pelestarian situs warisan yang menjadi magnet pariwisata utama, dengan angka kunjungan sebelum pandemi mencapai 1,2 juta wisatawan per tahun dan diproyeksikan naik 15–20 persen pascarestorasi. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam wawancara terpisah, menyatakan bahwa “kemitraan ini membuka jalan bagi peningkatan kapasitas SDM konservasi nasional melalui transfer pengetahuan dari Archaeological Survey of India.” Di sisi lain, bagi India, keterlibatan di Prambanan merupakan bagian dari strategi ‘Act East’ yang memperdalam pengaruh budaya dan ekonomi di Asia Tenggara, sekaligus mengimbangi kehadiran agresif Tiongkok melalui proyek infrastruktur Belt and Road. Dengan demikian, kolaborasi ini adalah contoh klasik diplomasi warisan budaya (heritage diplomacy) yang mengikat dua negara dengan untai sejarah spiritual Hindu-Buddha.

Namun, perspektif kritis turut muncul. Sejumlah arkeolog dalam negeri mengingatkan bahwa keterlibatan asing dalam konservasi candi harus tetap di bawah kontrol ketat Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) agar tidak terjadi distorsi narasi sejarah yang hanya menonjolkan sudut pandang epik India, sementara adaptasi lokal seperti Candi Sewu atau Plaosan yang merupakan perpaduan Hindu-Buddha justru kerap terabaikan. “Narasi besar Ramayana memang spektakuler, namun jangan sampai menghapus kekhasan lokal yang menunjukkan akulturasi damai di Jawa abad ke-9,” ujar seorang arkeolog senior UGM yang enggan disebutkan namanya. Di tataran geopolitik, pengamat hubungan internasional melihat momentum ini sebagai upaya Indonesia memperluas poros diplomasi multivektor, tidak hanya bergantung pada satu mitra besar, sambil tetap mempertahankan politik luar negeri bebas-aktif.

Perbandingan Dampak Ekonomi dan Pariwisata

IndikatorPra-Restorasi (2022)Proyeksi Pascarestorasi (2027)
Wisatawan domestik (per tahun)980.0001,4 juta
Wisatawan mancanegara (per tahun)220.000350.000
Pendapatan tiket & retribusi (Rp)72 miliar130 miliar
Lapangan kerja tidak langsung4.2006.000

Data proyeksi di atas mengacu pada kajian Kementerian PUPR dan Bappenas yang memasukkan dampak multiplikasi ekonomi dari restorasi, pengembangan museum situs interaktif, serta rencana pagelaran Ramayana Ballet skala internasional. Meski optimistis, perlu dicatat bahwa realisasi angka tersebut sangat bergantung pada stabilitas keamanan, daya beli global, dan strategi pemasaran digital destinasi. Di luar angka, nilai intrinsik dari restorasi ini adalah penyelamatan struktur candi yang telah mengalami pelapukan signifikan akibat paparan abu vulkanik dan pertumbuhan mikroorganisme.

Kolaborasi Prabowo-Modi di Prambanan menunjukkan bahwa pelestarian budaya adalah ruang temu yang relatif steril dari rivalitas politik terbuka, namun tetap sarat dengan pertukaran pengaruh lunak. Keberpihakan pada salah satu narasi budaya harus diimbangi dengan penguatan identitas lokal agar tidak larut dalam arus dominasi versi asing. Pada akhirnya, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari megahnya batu candi yang kembali berdiri, tetapi dari seberapa kuat masyarakat lokal menjadi penjaga dan pencerita utama warisan leluhurnya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User