Prabowo Panggil Calon Gubernur BI, Destry Damayanti Masuk Bursa
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal pertama 2025, inflasi tahunan berdasarkan indeks harga konsumen (IHK) terkendali di bawah 2 persen year-on-year, sementara B...
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal pertama 2025, inflasi tahunan berdasarkan indeks harga konsumen (IHK) terkendali di bawah 2 persen year-on-year, sementara BI Rate berada di level 5,75 persen dan cadangan devisa bertahan di atas US$150 miliar. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif stabil tersebut, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada satu jabatan strategis yang belum terisi definitif: kursi Gubernur Bank Indonesia. Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah memanggil sejumlah kandidat, dan nama Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti disebut masuk dalam radar calon pemimpin bank sentral.
Jabatan Gubernur BI mengalami kekosongan definitif sejak masa tugas gubernur sebelumnya berakhir pada Mei 2024. Selama hampir setahun, kepemimpinan bank sentral dijalankan secara kolektif oleh dewan gubernur dengan Deputi Gubernur Senior sebagai pejabat tertinggi. Situasi ini terjadi ketika ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,03 persen pada 2024, sementara nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.000-an per dolar AS akibat tekanan capital outflow dari pasar negara berkembang.
Rekam Jejak Destry Damayanti
Destry Damayanti merupakan ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan pendidikan pascasarjana dari Cornell University, Amerika Serikat. Sebelum bergabung dengan bank sentral, ia berkarier di sektor perbankan nasional sebagai ekonom. Di Bank Indonesia, ia menjabat Deputi Gubernur sejak 2019 sebelum kemudian menduduki posisi Deputi Gubernur Senior, posisi tertinggi kedua dalam struktur dewan gubernur.
Selama meniti karier di bank sentral, Destry terlibat dalam sejumlah episode kebijakan penting, mulai dari penanganan dampak pandemi terhadap likuiditas perbankan, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal, hingga pengelolaan operasi moneter di tengah tren kenaikan suku bunga global. Pengalaman lintas kebijakan inilah yang dinilai menjadi modal utama dalam bursa calon Gubernur BI.
Di Satu Sisi: Kontinuitas Menjadi Nilai Tambah
Di satu sisi, kalangan pelaku pasar menilai kandidat internal menawarkan keunggulan berupa kontinuitas kebijakan. Dalam kondisi ketidakpastian global—mulai dari arah suku bunga The Federal Reserve hingga tensi perdagangan internasional—transisi kepemimpinan yang mulus dianggap penting untuk menjaga sentimen pasar. Sosok yang memahami kerangka inflation targeting, yakni strategi bank sentral dalam menjaga inflasi sesuai sasaran, dinilai mampu mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter tanpa jeda.
Dari sisi pasar keuangan, stabilitas kepemimpinan bank sentral berkaitan langsung dengan persepsi risiko portofolio asing di instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kepemilikan asing pada instrumen rupiah menjadi penopang penting nilai tukar, sehingga figur gubernur yang kredibel di mata investor global dapat meredam potensi arus modal keluar yang lebih dalam.
"Pasar tidak hanya menilai siapa yang terpilih, tetapi juga kredibilitas prosesnya. Independensi bank sentral adalah fondasi kepercayaan investor terhadap aset rupiah," ujar seorang ekonom senior lembaga riset keuangan di Jakarta.
Di Sisi Lain: Tantangan Independensi dan Target Pertumbuhan
Di sisi lain, sejumlah pengamat memberi catatan kritis. Kekosongan jabatan gubernur yang berlarut-larut dikhawatirkan menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen terhadap independensi bank sentral. Selain itu, siapa pun yang terpilih akan menghadapi dilema kebijakan: pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, sementara mandat utama BI adalah menjaga stabilitas harga dan nilai tukar. Penurunan suku bunga yang terlalu agresif demi mendorong kredit berisiko memicu pelemahan rupiah dan tekanan inflasi impor.
Tantangan lain datang dari sisi eksternal. Proyeksi suku bunga global yang bertahan tinggi membuat rasio imbal hasil aset domestik harus tetap menarik agar valuasi rupiah tidak tertekan. Calon gubernur juga dituntut memperkuat pendalaman pasar keuangan, menjaga rasio kecukupan likuiditas perbankan, serta melanjutkan digitalisasi sistem pembayaran yang menjadi agenda bank sentral dalam beberapa tahun terakhir.
Proyeksi dan Agenda yang Dinanti Pasar
Berdasarkan mekanisme yang diatur dalam undang-undang, presiden mengajukan nama calon Gubernur BI kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI. Pasar kini menanti kapan nama resmi diajukan, mengingat kepastian kepemimpinan akan memengaruhi ekspektasi arah kebijakan moneter 2025-2026, termasuk ruang penurunan BI Rate lebih lanjut dan strategi stabilisasi nilai tukar.
Sebagai catatan akhir, pemilihan Gubernur BI kali ini akan menjadi penanda arah hubungan antara kebijakan moneter dan ambisi pertumbuhan pemerintahan baru. Di satu sisi, kontinuitas dan pengalaman internal menjanjikan stabilitas; di sisi lain, tuntutan independensi dan tantangan global menuntut figur dengan kredibilitas yang tak diragukan. Bagi investor dan pelaku ekonomi, keputusan di Istana dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi salah satu penentu sentimen pasar domestik tahun ini.
Comments (0)