NEW DELHI — Di hadapan para pemimpin kekuatan ekonomi berkembang dunia, Presiden RI Prabowo Subianto secara tegas menggaungkan kembali Spirit of Bandung atau Semangat Bandung pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di New Delhi, India. Langkah diplomatik ini dinilai sebagai penegasan posisi tawar strategis Indonesia di tengah polarisasi geopolitik global yang semakin meruncing.
Presiden Prabowo menekankan bahwa prinsip-prinsip Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 yang dicetuskan lebih dari 70 tahun silam di Bandung tetap menjadi kompas moral dan operasional yang krusial bagi negara-negara Global South dalam memperjuangkan tatanan ekonomi yang berkeadilan dan bebas dari hegemoni sepihak.
Rekam Diplomasi: Manuver Indonesia di Forum Multilateral
Keterlibatan aktif Indonesia dalam KTT BRICS menandai babak baru orientasi diplomasi luar negeri. Berdasarkan pengamatan langsung dari arena konferensi, agenda strategis delegasi Indonesia berfokus pada serangkaian momentum diplomasi:
- Sesi Pleno Pembukaan: Presiden Prabowo menyampaikan pidato kunci yang menyerukan solidaritas konkret antaranggota BRICS serta negara mitra dalam reformasi arsitektur keuangan internasional.
- Pertemuan Bilateral Tingkat Tinggi: Pembahasan kerja sama ketahanan pangan dan rantai pasok energi hijau dengan 3 negara anggota utama.
- Dialog Kolaboratif Global South: Penandatanganan komitmen bersama terkait transfer teknologi dan pembiayaan transisi energi berkelanjutan.
"Semangat Bandung 1955 mengajarkan kita tentang koeksistensi damai, kesetaraan kedaulatan, dan penolakan terhadap eksploitasi ekonomi. Di era multipolar ini, nilai-nilai tersebut menemukan relevansi paling nyata di meja BRICS," tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya.
Signifikansi 'Spirit of Bandung' vs Arsitektur BRICS
Penyandingan historis antara Dasasila Bandung dan platform kerja sama BRICS memperlihatkan kesinambungan doktrin bebas aktif Indonesia. Berikut matriks perbandingan visi diplomasi tersebut:
| Parameter Diplomasi | KAA Bandung (1955) | KTT BRICS Era Baru |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Dekolonisasi politik & kedaulatan | Dedolarisasi & keadilan ekonomi global |
| Cakupan Negara | 29 negara Asia dan Afrika | Kekuatan ekonomi emerging lintas benua |
| Instrumen Strategis | Resolusi Dasasila Bandung | New Development Bank (NDB) & perdagangan multilateral |
Kalkulasi Strategis dan Tantangan Sikap Non-Blok
Pilihan untuk menonjolkan warisan historis KAA dinilai para pengamat sebagai upaya cerdas Indonesia meredam kesan pergeseran poros kekuasaan. Pakar hubungan internasional menilai narasi ini menjaga keseimbangan hubungan Jakarta dengan blok Barat sembari memaksimalkan peluang ekonomi dengan BRICS.
"Langkah mengusung Spirit of Bandung adalah formula diplomasi yang aman sekaligus berbobot. Indonesia tidak sedang memihak blok manapun, melainkan memimpin agenda kepentingan bersama negara berkembang," ungkap analis diplomasi internasional independen.
Dengan total pangsa populasi BRICS yang mencakup lebih dari 45 persen penduduk bumi dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global yang melampaui 35 persen, keberhasilan Prabowo mengunci resonansi sejarah di New Delhi menempatkan Indonesia sebagai motor penyeimbang stabilitas ekonomi kawasan.
Menghadiri KTT BRICS di New Delhi, Presiden RI menegaskan prinsip KAA 1955 sebagai fondasi perjuangan negara-negara berkembang. Simak analisis geopolitik dan posisi tawar strategis Indonesia di Beritadua.com.
Comments (0)