Operasi pencarian kapal motor yang membawa rombongan jurnalis di perairan Selat Sunda memasuki babak krusial pada hari keempat. Harapan keluarga korban sempat membuncah setelah tim SAR gabungan menemukan serpihan terpal dan galon air yang terapung di perairan terbuka. Namun, aparat kepolisian segera mematahkan spekulasi tersebut usai melakukan identifikasi teknis dan memastikan bahwa seluruh material itu sama sekali bukan milik kapal rombongan jurnalis yang dilaporkan hilang kontak.
Penyelidikan mendalam dilakukan oleh jajaran Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) bersama Basarnas sesaat setelah benda-benda tersebut dievakuasi dari laut. Polisi langsung mencocokkan ciri fisik, warna, hingga merek galon serta terpal dengan daftar manifes bawaan kapal dan keterangan pihak keluarga korban.
"Setelah kami lakukan verifikasi visual dan pencocokan dengan pihak pemilik kapal maupun saksi kunci di dermaga keberangkatan, dipastikan terpal serta galon tersebut bukan bagian dari kapal yang kita cari. Itu merupakan sampah laut atau muatan kapal niaga lain yang tercecer," tegas juru bicara kepolisian di Posko SAR Terpadu.
Kronologi Temuan dan Penelusuran Lapangan
Proses investigasi dan penyisiran di wilayah Selat Sunda berlangsung intensif sejak kontak terakhir dilaporkan terputus. Berikut adalah runtutan peristiwa terkait penelusuran temuan barang apung tersebut:
- Pukul 07.30 WIB: Helikopter patroli Basarnas mendeteksi adanya anomali visual berupa benda berwarna kontras yang mengapung di sebelah selatan Pulau Sangiang.
- Pukul 08.45 WIB: Kapal Rigid Inflatable Boat (RIB) Polairud dikerahkan menuju koordinat untuk mengevakuasi selembar terpal plastik robek dan dua buah galon air mineral kosong.
- Pukul 11.20 WIB: Barang temuan tiba di posko darat untuk proses identifikasi forensik awal bersama perwakilan asosiasi jurnalis dan kerabat korban.
- Pukul 13.00 WIB: Otoritas resmi mengumumkan bahwa barang-barang tersebut dinyatakan negatif atau tidak berkorelasi dengan kapal rombongan yang dicari.
Tantangan Arus Bawah Laut dan Perluasan Radius
Wilayah perairan Selat Sunda dikenal memiliki pola arus yang sangat kompleks, terutama pertemuan antara arus Samudra Hindia dan Laut Jawa. Kondisi cuaca ekstrem dengan kecepatan angin mencapai 25 knot dan gelombang setinggi 2,5 meter menjadi hambatan utama dalam melacak jejak kapal nahas tersebut.
Untuk memaksimalkan pencarian, tim SAR gabungan kini memperluas sektor penyisiran dengan strategi berbasis pembagian zona:
- Penyisiran Udara: Melibatkan pesawat patroli maritim TNI AL dan helikopter SAR untuk memantau radius hingga 35 nautical miles.
- Penyisiran Permukaan: Pengerahan kapal patroli kelas utama berkemampuan sonar untuk mendeteksi anomali di dasar laut.
- Jaringan Nelayan Lokal: Koordinasi dengan komunitas nelayan di pesisir Banten dan Lampung guna mempercepat pelaporan jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Penyelidikan atas hilangnya kapal ini terus berjalan seiring upaya pencarian fisik di laut. Otoritas pelabuhan juga memeriksa kembali dokumen kelaikan berlayar dan catatan pemancar Automatic Identification System (AIS) guna merekonstruksi lintasan terakhir yang dilalui rombongan sebelum sinyal dinyatakan hilang sepenuhnya.
Comments (0)