Aug 24, 2026
Bisnis

PM Malaysia Minta Prabowo Bantu Selamatkan Investasi Felda Rp10,9 Triliun

Berdasarkan data Bank Indonesia per Juli 2026, nilai perdagangan bilateral Indonesia–Malaysia mengalami kenaikan year-on-year sekitar 8,4 persen, dengan minyak sawit menjadi komoditas andalan di ked...

PM Malaysia Minta Prabowo Bantu Selamatkan Investasi Felda Rp10,9 Triliun

Berdasarkan data Bank Indonesia per Juli 2026, nilai perdagangan bilateral Indonesia–Malaysia mengalami kenaikan year-on-year sekitar 8,4 persen, dengan minyak sawit menjadi komoditas andalan di kedua arah. Di tengah tren kerja sama itu, isu investasi lintas batas kembali menjadi sorotan setelah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto terkait investasi perusahaan perkebunan pelat merah Malaysia, Felda, pada PT BW Plantation Tbk (BWPT) yang berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp10,9 triliun.

Permintaan tersebut, menurut sejumlah pengamat, mencerminkan tekanan yang sedang dihadapi Felda sebagai pemegang saham utama BWPT. Felda tercatat menguasai sekitar 37 persen saham perusahaan perkebunan yang mengelola belasan kebun sawit di Indonesia itu. Sepanjang lima tahun terakhir, harga saham BWPT mengalami penurunan tajam sehingga nilai portofolio Felda ikut tergerus. Bagi pembaca awam, istilah valuasi perlu dijelaskan: valuasi adalah penilaian nilai wajar sebuah perusahaan berdasarkan harga saham, aset, dan prospek usahanya. Ketika valuasi turun, nilai kekayaan pemegang saham ikut menyusut.

Kerja Sama Bilateral di Tengah Tekanan Fundamental Sawit

Konteks makro memperkuat urgensi isu ini. Harga minyak sawit mentah (CPO) mengalami penurunan dari rata-rata puncaknya, sementara biaya produksi justru mengalami kenaikan akibat naiknya upah dan harga pupuk. Fundamental industri sedang tertekan, dan perusahaan perkebunan besar di Indonesia maupun Malaysia merasakan dampaknya. Belum lagi tekanan regulasi deforestasi dari Uni Eropa yang menyempitkan akses pasar ekspor kedua negara.

Dalam situasi seperti ini, permintaan bantuan Anwar kepada Prabowo tidak bisa dilepaskan dari hubungan dagang kedua negara. Indonesia dan Malaysia bersama-sama menguasai sekitar 85 persen pasokan CPO dunia, sehingga koordinasi kebijakan kedua negara kerap menentukan arah harga komoditas ini. Isyarat dukungan politik dari Jakarta dapat menjadi sinyal positif bagi investor asing bahwa kerja sama ekonomi bilateral tetap solid di tengah gejolak global.

Dua Perspektif: Peluang Strategis versus Beban Fiskal

Di satu sisi, keterlibatan pemerintah Indonesia dinilai memiliki sisi positif. Pertama, aset perkebunan BWPT bersifat strategis karena menyangkut ribuan hektare lahan, pabrik pengolahan, dan ribuan tenaga kerja. Jika skema penyelamatan dirancang sebagai kemitraan, potensi sinergi dengan perusahaan BUMN perkebunan bisa membuka peluang efisiensi operasional. Kedua, permintaan global terhadap sawit untuk bahan bakar nabati diproyeksikan terus tumbuh, didukung program biodiesel dalam negeri, sehingga proyeksi jangka panjang sektor ini tetap menarik bagi investor.

Di sisi lain, kekhawatiran muncul dari sisi fiskal dan tata kelola. Menggunakan dana atau instrumen pemerintah untuk menyelamatkan investasi asing dapat membebani APBN di saat rasio utang dan defisit perlu dijaga. Kritik juga mengarah pada potensi moral hazard: jika pemerintah dianggap bersedia menolong setiap perusahaan yang mengalami kerugian, insentif untuk berhati-hati dalam berinvestasi menjadi lemah. Para pengamat mengingatkan agar penyelesaian tidak berujung pada pengambilalihan aset yang membebani likuiditas keuangan negara.

Dampak bagi Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Respons pasar terhadap wacana ini masih bercampur. Indeks saham sektor perkebunan di bursa efek mengalami fluktuasi, mencerminkan sentimen pasar yang menunggu kejelasan skema penyelesaian. Di sisi moneter, kekhawatiran capital outflow—aliran dana asing keluar dari pasar keuangan—semakin besar jika investor menilai intervensi pemerintah tidak transparan. Sebaliknya, jika penyelesaian dilakukan melalui skema restrukturisasi yang melibatkan pemodal swasta, likuiditas pasar justru bisa terbantu dan risiko fiskal dapat dibagi.

Analis perkebunan yang memantau perkembangan ini menilai kunci keberhasilan ada pada desain skema penyelamatan. "Jika disusun sebagai kemitraan strategis dengan pembagian risiko yang jelas, kedua negara sama-sama diuntungkan. Namun jika hanya berupa suntikan dana tanpa perbaikan tata kelola, potensi kerugian berulang tetap besar," ujarnya.

Kesimpulan: Butuh Keseimbangan Diplomasi dan Prudensi

Persoalan investasi Felda di BWPT pada akhirnya menjadi ujian bagi diplomasi ekonomi kedua negara. Di satu sisi, solidaritas bilateral penting untuk menjaga stabilitas pasar sawit yang menjadi andalan jutaan petani di kawasan. Di sisi lain, setiap keputusan yang melibatkan uang negara harus dihitung dengan cermat, transparan, dan berbasis data. Proyeksi ke depan: jika negosiasi berjalan lancar dan skema yang dipilih memadukan kepentingan fiskal dengan keberlanjutan usaha, kerugian Rp10,9 triliun dapat ditekan, bahkan diubah menjadi nilai strategis jangka panjang. Namun tanpa komitmen tata kelola yang kuat, risiko serupa dapat terulang kembali di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User