Aug 24, 2026
Bisnis

Pertemuan Istana: Destry Damayanti Laporkan Stabilitas Moneter ke Prabowo

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin sore. Pertemuan tertutup yang berlangsung se...

Pertemuan Istana: Destry Damayanti Laporkan Stabilitas Moneter ke Prabowo

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin sore. Pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar satu jam ini menjadi sorotan pelaku pasar yang tengah mencermati arah kebijakan moneter di tengah dinamika perekonomian global yang belum sepenuhnya kondusif. Berdasarkan data Bank Indonesia per 27 Juli 2026, nilai tukar rupiah tercatat menguat tipis ke level Rp15.680 per dolar AS, setelah sempat menyentuh Rp15.950 pada pekan sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah capital inflow yang mulai kembali masuk ke pasar obligasi domestik sebesar Rp8,2 triliun dalam dua pekan terakhir.

Namun, tekanan inflasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi year-on-year per Juni 2026 berada di angka 3,8 persen, sedikit di atas kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Kenaikan harga pangan volatile food dan administered prices menjadi kontributor utama yang mendorong indeks harga konsumen tetap tinggi. Di sisi eksternal, indeks dolar AS masih bertengger di kisaran 104,5, menunjukkan bahwa tekanan dari mata uang utama dunia belum sepenuhnya mereda meskipun Federal Reserve telah memberi sinyal pelonggaran suku bunga secara bertahap.

Laporan Stabilitas Sistem Keuangan: Dua Sisi yang Perlu Dicermati

Dalam pertemuan tersebut, Destry Damayanti menyampaikan bahwa stabilitas sistem keuangan domestik tetap terjaga. Rasio kecukupan modal perbankan nasional berada di level 26,1 persen, jauh di atas ambang batas minimum regulator. Rasio kredit bermasalah secara gross tercatat 2,4 persen, menunjukkan kualitas aset yang relatif sehat. Namun, di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan hingga semester I 2026 baru mencapai 7,8 persen secara tahunan, sedikit melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,2 persen. Perlambatan ini perlu diwaspadai karena dapat menjadi sinyal melemahnya permintaan domestik di sektor riil.

Di satu sisi, stabilitas perbankan yang terjaga memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25 persen tanpa perlu terburu-buru melakukan pelonggaran. Likuiditas perbankan yang masih longgar dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga mencapai 28,5 persen menjadi bantalan yang memadai. Namun, di sisi lain, suku bunga yang bertahan tinggi berpotensi menekan laju investasi dan konsumsi yang saat ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada di kisaran 5,0 hingga 5,3 persen, sedikit di bawah target awal pemerintah sebesar 5,4 persen.

Tantangan Global: Capital Outflow dan Sentimen Pasar Emerging Market

Destry juga melaporkan kepada Presiden Prabowo mengenai risiko capital outflow yang masih membayangi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Data historis menunjukkan bahwa setiap kali Federal Reserve mengeluarkan pernyataan hawkish, pasar obligasi Indonesia mengalami tekanan jual yang signifikan. Pada kuartal II 2026, tercatat capital outflow bersih dari pasar saham mencapai Rp4,3 triliun, meskipun sebagian dikompensasi oleh inflow di pasar Surat Berharga Negara sebesar Rp12,5 triliun. Pola divergensi ini menunjukkan bahwa investor global masih memilah secara selektif instrumen mana yang dianggap memiliki risiko imbal hasil yang sepadan.

Dari perspektif fundamental, cadangan devisa Indonesia hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar 138,7 miliar dolar AS, setara dengan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Angka ini masih berada di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor. Namun, para analis mengingatkan bahwa posisi cadangan devisa yang kuat saja tidak cukup jika sentimen pasar terhadap aset emerging market memburuk secara serentak. Diperlukan koordinasi yang erat antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan untuk menjaga persepsi positif investor.

"Fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya cukup solid. Namun kita tidak bisa menutup mata terhadap risiko global. Koordinasi fiskal-moneter menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian ini," ujar seorang ekonom senior yang enggan disebutkan namanya.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Pertemuan antara Presiden Prabowo dan Destry Damayanti juga membahas proyeksi ekonomi hingga akhir tahun 2026. Dengan mempertimbangkan tren inflasi global yang mulai melandai dan perkiraan penurunan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin hingga Desember, terdapat ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan penyesuaian suku bunga acuan. Skenario pemangkasan BI Rate sebesar 25 basis poin diperkirakan dapat terjadi pada kuartal IV 2026, dengan catatan inflasi inti berhasil dijaga di bawah 3,0 persen dan nilai tukar rupiah stabil di kisaran fundamentalnya.

Pro: Pemangkasan suku bunga akan mendorong ekspansi kredit perbankan, menurunkan beban bunga utang korporasi, dan memberikan stimulus bagi sektor properti dan otomotif yang selama ini tertekan. Valuasi pasar saham yang saat ini berada pada price-to-earnings ratio 13,5 kali berpotensi mengalami re-rating seiring dengan ekspektasi penurunan cost of equity. Kontra: Di sisi lain, pelonggaran moneter yang terlalu dini berisiko memicu pelemahan rupiah jika spread suku bunga dengan AS mengecil terlalu cepat. Selain itu, likuiditas yang sudah cukup longgar menimbulkan pertanyaan apakah transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga masih cukup efektif untuk menggerakkan sektor riil.

Bank Indonesia juga melaporkan bahwa digitalisasi sistem pembayaran terus menunjukkan perkembangan positif. Nilai transaksi QRIS sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai Rp289 triliun, tumbuh 34 persen secara year-on-year. Sementara itu, transaksi perbankan digital mencapai volume 8,2 miliar transaksi dengan nilai total lebih dari Rp35.000 triliun. Akselerasi ini menjadi fondasi penting bagi inklusi keuangan dan efisiensi ekonomi nasional dalam jangka menengah dan panjang.

Pertemuan ini ditutup dengan arahan Presiden Prabowo agar seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi dan menjaga kewaspadaan terhadap gejolak eksternal. Pasar kini menanti langkah konkret selanjutnya dari Bank Indonesia, terutama menjelang Rapat Dewan Gubernur bulan Agustus yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter di sisa tahun 2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User