Oct 10, 2026
Bisnis

Pertamina Perluas Portofolio Energi Bersih di Tengah Transisi Global

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2023, bauran energi terbarukan nasional baru menyentuh kisaran 13,1 persen dari total pasokan energi primer, sementara targ...

Pertamina Perluas Portofolio Energi Bersih di Tengah Transisi Global

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2023, bauran energi terbarukan nasional baru menyentuh kisaran 13,1 persen dari total pasokan energi primer, sementara target pemerintah menetapkan angka 23 persen pada 2025. Di tengah celah proyeksi itu, PT Pertamina (Persero) memperluas langkah pengembangan teknologi, infrastruktur, dan sumber energi rendah karbon tanpa mengorbankan kewajiban menjaga ketersediaan energi nasional. Langkah ini menjadi semacam jembatan antara kebutuhan pasokan jangka pendek dan komitmen dekarbonisasi jangka panjang.

Mengapa Energi Rendah Karbon Menjadi Fundamental Baru

Transisi energi bukan lagi sekadar wacana lingkungan, melainkan telah bergeser menjadi persoalan fundamental ekonomi. Secara definisi, energi rendah karbon merujuk pada sumber energi yang menghasilkan emisi gas rumah kaca jauh lebih kecil dibanding bahan bakar fosil konvensional. Dalam konteks ini, Pertamina menyiapkan tiga pilar utama: pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), bahan bakar nabati (biofuel), serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon alias carbon capture and storage (CCS).

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas terpasang PLTS nasional mengalami kenaikan signifikan dalam lima tahun terakhir, meskipun porsinya terhadap total kapasitas pembangkit masih relatif kecil. Angka year-on-year menunjukkan tren positif, ditopang oleh penurunan harga panel surya global yang mencapai kisaran 40–50 persen dalam satu dekade terakhir. Penurunan biaya ini memperbaiki rasio keekonomian proyek solar, yang sebelumnya menjadi hambatan utama.

"Transisi energi harus berjalan tanpa mengorbankan ketahanan pasokan. Kuncinya ada pada keseimbangan portofolio, bukan sekadar mengganti satu sumber dengan sumber lain," ujar seorang pengamat energi nasional dalam sebuah forum diskusi industri.

Biofuel dan Dilema Bahan Baku

Di sisi biofuel, Indonesia sudah lama memiliki posisi strategis melalui program biodiesel berbasis minyak sawit. Mandat pencampuran biodiesel saat ini berada di level B35, dengan rencana peningkatan menuju B40. Secara nominal, konsumsi biodiesel nasional menembus angka puluhan juta kiloliter per tahun, menjadikan Indonesia salah satu pasar biofuel terbesar di dunia.

Namun, di sisi lain, pengembangan biofuel menghadapi persoalan likuiditas pasokan bahan baku. Ketika permintaan ekspor minyak sawit meningkat, harga bahan baku domestik ikut terdorong naik, sehingga margin produsen biodiesel tertekan. Selain itu, isu alih fungsi lahan dan daya dukung lingkungan menjadi sentimen pasar yang tidak bisa diabaikan. Di satu sisi, biodiesel menurunkan impor solar dan memperbaiki defisit neraca perdagangan; di sisi lain, keberlanjutannya menuntut tata kelola yang ketat agar tidak menimbulkan biaya lingkungan tersembunyi.

CCS: Peluang Sekaligus Tantangan Valuasi

Teknologi CCS menjadi instrumen yang paling sering dibahas dalam peta jalan dekarbonisasi. Secara sederhana, CCS menangkap emisi karbon dari proses industri lalu menyimpannya di formasi geologis agar tidak lepas ke atmosfer. Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon yang besar, terutama di cekungan sedimen tua, dengan estimasi kapasitas mencapai ratusan gigaton.

Akan tetapi, dari kacamata investasi, proyek CCS masih menghadapi persoalan valuasi. Biaya penangkapan per ton karbon belum sepenuhnya kompetitif dibandingkan harga karbon domestik. Artinya, tanpa insentif fiskal, dukungan regulasi, dan mekanisme perdagangan karbon yang matang, keekonomian proyek ini bergantung pada skema pendanaan jangka panjang. Di satu sisi, CCS membuka peluang kerja sama lintas negara dan potensi pendapatan dari penyimpanan karbon lintas batas; di sisi lain, risiko teknologi dan ketidakpastian regulasi membuat sebagian investor memilih menunggu.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari perspektif pasar modal, saham-saham sektor energi menghadapi tekanan ganda: volatilitas harga minyak dunia dan ekspektasi percepatan transisi. Capital outflow dari sektor energi konvensional pada periode tertentu mencerminkan pergeseran portofolio investor ke instrumen yang lebih ramah lingkungan. Namun, bukan berarti sektor fosil kehilangan relevansi. Selama permintaan energi domestik tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi, peran energi konvensional tetap dominan dalam bauran nasional.

Proyeksi ke depan, keberhasilan strategi rendah karbon akan sangat bergantung pada tiga hal: konsistensi kebijakan, ketersediaan pendanaan hijau, dan kesiapan infrastruktur. Jika ketiganya berjalan seiring, kontribusi energi bersih terhadap bauran nasional berpotensi mengalami kenaikan bertahap menuju target jangka panjang. Sebaliknya, tanpa eksekusi yang disiplin, target tersebut berisiko hanya menjadi angka di atas kertas.

Pada akhirnya, langkah menjaga ketersediaan energi sembari membangun fondasi rendah karbon adalah pilihan yang menuntut kompromi cerdas. Bagi pembaca, memahami istilah seperti bauran energi, rasio keekonomian, dan valuasi proyek menjadi kunci untuk menilai arah kebijakan ini secara objektif, tanpa terjebak pada hype sesaat maupun pesimisme berlebihan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User