Oct 11, 2026
Bisnis

Pertamina Grand Prix 2026 dan Ledakan Ekonomi Lokal Lombok

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat per kuartal III 2026, perhelatan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika memberikan dorongan signifikan te...

Pertamina Grand Prix 2026 dan Ledakan Ekonomi Lokal Lombok

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat per kuartal III 2026, perhelatan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika memberikan dorongan signifikan terhadap perekonomian Lombok. Ajang balap kelas dunia ini tidak hanya menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara, tetapi juga membuka keran peluang kerja bagi ribuan warga lokal. Dari sektor akomodasi, kuliner, hingga tenaga kerja event, dampak ekonominya terasa hingga ke level desa.

Serapan Tenaga Kerja Lokal di Sirkuit Mandalika

Berdasarkan laporan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, sekitar 3.500 hingga 4.200 tenaga kerja lokal terserap selama periode persiapan dan pelaksanaan balapan. Angka ini mengalami kenaikan sekitar 18% year-on-year dibandingkan edisi 2025. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai petugas keamanan, kebersihan, pelayanan konsumsi, hingga kru pendukung tim. Warga sekitar Kuta Mandalika mengaku mendapatkan penghasilan tambahan yang signifikan, terutama selama seminggu penuh event berlangsung.

Di satu sisi, kehadiran ajang internasional ini menjadi katalis bagi peningkatan keterampilan dan pengalaman kerja warga lokal. Mereka tidak hanya mendapatkan upah harian, tetapi juga pelatihan standar internasional dalam hal manajemen event, protokol keselamatan, dan hospitality. Hal ini menciptakan efek jangka panjang berupa peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kawasan tersebut.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai keberlanjutan pekerjaan setelah event berakhir. Sebagian besar pekerjaan bersifat musiman, sehingga warga lokal perlu memiliki alternatif pendapatan di luar periode balapan. Selain itu, persaingan dengan tenaga kerja dari luar daerah juga menjadi tantangan tersendiri, terutama untuk posisi-posisi yang membutuhkan keahlian khusus.

Dampak Multiplier terhadap UMKM dan Sektor Informal

Dampak ekonomi tidak berhenti pada tenaga kerja langsung. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM NTB, omzet pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar Mandalika mengalami kenaikan rata-rata 35% hingga 45% selama periode event. Sektor kuliner, penginapan non-hotel, dan penyewaan kendaraan menjadi yang paling diuntungkan. Indeks kepercayaan pelaku usaha lokal pun tercatat meningkat ke level 112,4 pada September 2026, naik dari 98,7 pada periode yang sama tahun lalu.

Likuiditas perekonomian daerah juga terdorong oleh belanja wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Bank Indonesia mencatat transaksi nontunai di kawasan Mandalika melonjak hingga Rp 42 miliar selama sepekan penyelenggaraan. Ini menunjukkan adanya capital outflow yang justru berbalik menjadi capital inflow ke daerah, dengan multiplier effect yang dirasakan hingga pasar tradisional dan penyedia jasa transportasi lokal.

Namun, tantangan tetap ada. Tren ini perlu dijaga agar tidak sekadar menjadi sentimen pasar musiman. Pemerintah daerah perlu menyiapkan strategi agar pelaku usaha dapat mempertahankan kualitas layanan dan melanjutkan aktivitas bisnis pasca-event. Tanpa perencanaan yang matang, fundamental ekonomi lokal bisa kembali melemah saat sorotan dunia beralih ke ajang lain.

Proyeksi dan Tantangan Keberlanjutan Ekonomi Mandalika

Pro: Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix 2026 membuktikan bahwa Mandalika mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di NTB. Dengan proyeksi kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap tahun, sektor jasa dan industri kreatif lokal memiliki peluang besar untuk berkembang. Pemerintah juga mendorong pengembangan infrastruktur pendukung, termasuk akses jalan, listrik, dan konektivitas digital, yang akan bermanfaat dalam jangka panjang.

Kontra: Ketergantungan pada event besar menciptakan kerentanan terhadap fluktuasi jadwal dan kebijakan global. Apabila terjadi penurunan jumlah penonton atau pembatalan event, dampaknya akan langsung terasa pada pendapatan warga. Selain itu, lonjakan harga properti dan biaya hidup di sekitar Mandalika dikhawatirkan menggeser warga lokal dari kawasan ekonomi utama jika tidak diimbangi dengan kebijakan inklusif.

“Kita harus memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan saat balapan berlangsung, tetapi menjadi fondasi bagi pertumbuhan berkelanjutan. Pelibatan warga lokal dalam rantai pasok dan pengelolaan destinasi adalah kunci,” ujar seorang ekonom pembangunan daerah.

Secara keseluruhan, valuasi ekonomi dari perhelatan ini menunjukkan rasio manfaat yang positif, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja dan penguatan portofolio UMKM. Namun, tanpa strategi keberlanjutan yang jelas, ledakan ekonomi ini bisa menjadi sekadar siklus tahunan. Diperlukan sinergi antara pemerintah, penyelenggara, dan masyarakat untuk menjaga tren positif ini agar fundamental ekonomi Lombok semakin kokoh di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User