MotoGP Mandalika dan Ekosistem Sport Tourism Nasional
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan kontribusi terbesar datang dari ...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan kontribusi terbesar datang dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke destinasi unggulan seperti Bali, Labuan Bajo, dan Mandalika. Angka ini menjadi konteks penting ketika PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), bukan sekadar ajang balap internasional, melainkan instrumen penguatan ekosistem sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga.
Dalam kerangka ekonomi, sport tourism dipahami sebagai aktivitas perjalanan yang dipicu oleh penyelenggaraan event olahraga, baik skala nasional maupun global. Konsep ini mencakup belanja wisatawan untuk akomodasi, transportasi, kuliner, hingga hiburan, yang pada akhirnya menggerakkan sektor UMKM dan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
Di Satu Sisi: Dorongan Likuiditas dan Sentimen Pasar Positif
Dari perspektif optimistis, gelaran MotoGP Mandalika berpotensi mendorong likuiditas ekonomi lokal secara signifikan. Mengacu pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, kunjungan sekitar 100.000 hingga 120.000 penonton selama periode balapan berkontribusi terhadap perputaran uang di NTB yang ditaksir menembus angka Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun, mencakup sektor perhotelan, restoran, transportasi, dan perdagangan ritel.
Pertamina sebagai mitra strategis juga memperoleh manfaat tidak langsung berupa penguatan citra merek (brand equity) dan eksposur pasar internasional. Dalam konteks portofolio negara, keberhasilan event ini memperkuat indeks daya saing pariwisata Indonesia di mata wisatawan global, yang selama ini masih tertinggal dibandingkan Thailand dan Malaysia dalam hal jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.
Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan akses, bandara, dan fasilitas akomodasi di kawasan Mandalika memiliki efek jangka panjang terhadap valuasi properti dan daya tarik investasi di NTB. Proyeksi pemerintah menunjukkan potensi kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB sebesar 15 hingga 20 persen year-on-year apabila event ini digelar secara konsisten selama lima tahun ke depan.
Di Sisi Lain: Beban Fiskal dan Risiko Keberlanjutan
Namun, pandangan kontra patut dipertimbangkan. Penyelenggaraan event berskala internasional menuntut biaya penyelenggaraan (hosting fee) yang tidak kecil, ditambah kebutuhan investasi infrastruktur dan operasional sirkuit. Beban ini kerap dibebankan pada anggaran negara dan badan usaha milik negara, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai rasio manfaat terhadap biaya (cost-benefit ratio) secara jangka panjang.
Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa euforia kunjungan wisatawan bersifat musiman. Artinya, lonjakan belanja hanya terjadi pada periode balapan, sementara bulan-bulan lainnya kawasan Mandalika masih menghadapi tantangan tingkat hunian hotel yang fluktuatif. Tanpa strategi diversifikasi atraksi wisata, ekosistem ini rentan mengalami penurunan pasca-event, terutama jika terjadi capital outflow dari sektor properti dan perhotelan ketika periode kontrak berakhir.
"Event olahraga internasional memang mampu mengerek sentimen pasar dan mendorong aktivitas ekonomi jangka pendek, tetapi keberlanjutan ekosistem pariwisata bergantung pada strategi pasca-event yang matang, bukan pada euforia sesaat," ujar seorang pengamat ekonomi pariwisata.
Fundamental Ekonomi dan Arah Kebijakan
Dari kacamata fundamental, keberhasilan sport tourism memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan BUMN. Pertamina sebagai entitas korporasi perlu memastikan bahwa keterlibatannya tidak sekadar bersifat sponsorship, tetapi juga mendorong pengembangan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar sirkuit melalui program kemitraan dan pelatihan.
Pemerintah daerah NTB pun dituntut memperkuat tata kelola destinasi, termasuk kualitas layanan, kebersihan, keamanan, dan konektivitas. Tanpa itu, tren kenaikan kunjungan berpotensi tidak berkelanjutan, dan indeks kepuasan wisatawan dapat menurun dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, penyelenggaraan MotoGP Mandalika menawarkan peluang sekaligus tantangan. Pada satu sisi, event ini memperkuat narasi sport tourism nasional dan mendorong perputaran ekonomi lokal. Di sisi lain, keberlanjutannya bergantung pada kemampuan pemangku kepentingan mengubah momentum menjadi fondasi struktural, bukan sekadar lonjakan musiman yang cepat menguap.
Comments (0)