Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2024, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,4 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan subsektor kriya menjadi salah satu penopang terbesar. Namun, kontribusi itu kerap rapuh ketika bencana menghantam sentra produksi. Salah satu contohnya adalah Desa Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang mengalami musibah kebakaran dan sempat melumpuhkan aktivitas perajin tenun warisan leluhur mereka.
Musibah tersebut tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga memutus rantai produksi tenun yang menjadi tumpuan penghidupan warga. Dalam situasi seperti ini, pemulihan ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan bantuan darurat. Diperlukan intervensi yang menyentuh aspek alat produksi, keterampilan, dan akses pasar secara bersamaan. PT Pertamina hadir melalui program tanggung jawab sosial dengan menyerahkan 45 unit alat tenun serta pendampingan pelatihan bagi para perajin setempat.
Mengapa Alat Produksi Menjadi Kunci Pemulihan
Dalam terminologi ekonomi, alat tenun merupakan bagian dari capital stock atau stok modal fisik yang menentukan kapasitas produksi suatu komunitas. Ketika stok modal ini rusak, output otomatis menurun, pendapatan rumah tangga tergerus, dan daya beli melemah. Penyerahan puluhan alat tenun baru bukan sekadar bantuan simbolis, melainkan upaya mengembalikan kapasitas produksi ke level sebelum bencana.
Di satu sisi, langkah ini menunjukkan bahwa pemulihan berbasis aset produktif lebih berkelanjutan dibandingkan bantuan konsumtif. Warga tidak hanya menerima uang yang habis dalam hitungan hari, tetapi memperoleh sarana untuk kembali menghasilkan kain tenun bernilai jual. Dengan kata lain, bantuan ini bersifat produktif dan berpotensi menciptakan efek berganda terhadap perekonomian desa.
Di sisi lain, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah alat tenun. Ada sejumlah variabel yang perlu diperhatikan, seperti ketersediaan bahan baku benang, stabilitas harga jual, serta akses pasar yang lebih luas. Tanpa ekosistem yang menopang, alat tenun bisa saja menganggur karena perajin kesulitan memperoleh bahan baku atau menjual hasil produksinya.
Dampak Ekonomi bagi Desa Adat
Desa Adat Sade dikenal sebagai destinasi wisata budaya di Lombok Tengah. Kunjungan wisatawan ke desa ini biasanya berbanding lurus dengan penjualan kain tenun sebagai suvenir. Oleh karena itu, pemulihan aktivitas menenun memiliki keterkaitan langsung dengan pendapatan sektor pariwisata desa. Ketika perajin kembali bekerja, atraksi budaya yang ditawarkan kepada wisatawan juga kembali hidup.
Dari perspektif makro, pemulihan sentra kriya di daerah wisata membantu menjaga arus devisa dari belanja wisatawan mancanegara maupun domestik. Setiap kain tenun yang terjual menambah nilai tambah lokal, sekaligus mengurangi ketergantungan warga pada sektor informal berupah rendah. Program pelatihan yang menyertai penyerahan alat tenun juga berperan memperkuat human capital, terutama bagi generasi muda yang mulai meninggalkan tradisi menenun.
"Pemulihan pascabencana yang efektif harus menyentuh tiga hal sekaligus: alat produksi, keterampilan, dan akses pasar. Kalau hanya satu yang disentuh, keberlanjutannya dipertanyakan," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan.
Tantangan Keberlanjutan dan Proyeksi ke Depan
Meski demikian, tantangan tetap membayangi. Perlambatan ekonomi global dapat menekan daya beli wisatawan, yang pada akhirnya berdampak pada permintaan kain tenun. Selain itu, persaingan dengan produk tekstil pabrikan yang lebih murah menjadi ancaman nyata bagi perajin tradisional. Tanpa diferensiasi nilai dan strategi pemasaran digital, produk tenun Sade berisiko kalah bersaing di pasar yang semakin terdigitalisasi.
Proyeksi ke depan, keberlanjutan program bergantung pada kemampuan membangun kemitraan jangka panjang. Pelibatan perbankan, pelaku e-commerce, dan industri pariwisata dapat memperluas jangkauan pasar. Jika hal ini terwujud, bukan tidak mungkin pendapatan perajin mengalami kenaikan signifikan dalam dua hingga tiga tahun ke depan, seiring pulihnya kunjungan wisatawan ke Lombok.
Kesimpulannya, langkah Pertamina menyokong perajin tenun Desa Adat Sade merupakan contoh intervensi yang menyasar akar persoalan ekonomi, yakni pemulihan kapasitas produksi. Namun, keberhasilannya tidak bisa diukur hanya dari jumlah alat tenun yang diberikan. Diperlukan komitmen lanjutan untuk menjaga likuiditas usaha, memperkuat pemasaran, dan memastikan tradisi menenun tetap hidup di tengah gempuran modernisasi.
Comments (0)