Pertamina Dorong Kebangkitan Ekonomi Perajin Tenun Desa Adat Sade

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2024, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan subsektor kriya seperti ...

Oct 10, 2026 - 19:22
0 0
Pertamina Dorong Kebangkitan Ekonomi Perajin Tenun Desa Adat Sade

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2024, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan subsektor kriya seperti tenun menempati posisi strategis dalam penyerapan tenaga kerja pedesaan. Di tengah tekanan pascabencana, upaya pemulihan ekonomi berbasis komunitas menjadi krusial, terutama bagi wilayah yang menggantungkan penghidupan pada warisan budaya. Salah satu contoh yang menonjol adalah pemulihan aktivitas perajin tenun di Desa Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang sempat lumpuh akibat musibah kebakaran beberapa waktu lalu.

Dukungan Sarana Produksi dan Pendampingan

Dalam rangka memulihkan denyut ekonomi warga, sebuah program tanggung jawab sosial perusahaan menyediakan 45 unit alat tenun beserta pendampingan pelatihan bagi para perajin setempat. Bantuan ini menyasar kelompok perajin yang kehilangan sarana produksi utama pascakebakaran, sehingga mereka dapat kembali menghasilkan kain tenun khas Sade yang selama ini menjadi identitas budaya sekaligus sumber pendapatan utama keluarga. Pelatihan yang diberikan mencakup teknik pewarnaan alami, penguatan motif tradisional, hingga manajemen keuangan sederhana bagi usaha mikro.

Secara ekonomi, inisiatif semacam ini berpotensi mempercepat pemulihan pendapatan rumah tangga. Sebelum musibah, satu perajin tenun di kawasan tersebut rata-rata mampu menghasilkan 2 hingga 3 lembar kain per bulan dengan harga jual berkisar Rp500 ribu hingga Rp2 juta per lembar, tergantung tingkat kerumitan motif dan bahan pewarna. Angka ini menunjukkan bahwa intervensi pada aspek produksi memiliki efek berganda terhadap likuiditas rumah tangga dan daya beli komunitas.

Pro: Penguatan Ekonomi Berbasis Komunitas

Di satu sisi, dukungan sarana produksi dinilai tepat sasaran karena langsung menyentuh akar persoalan, yakni hilangnya alat kerja. Pendekatan ini sejalan dengan tren pemulihan pascabencana yang mengedepankan build back better, di mana bantuan tidak sekadar bersifat konsumtif, melainkan produktif dan berkelanjutan. Dengan kepemilikan alat tenun, perajin memiliki aset produktif yang dapat menjadi jaminan sosial-ekonomi jangka panjang.

"Pemulihan ekonomi berbasis kriya dan warisan budaya memiliki multiplier effect yang tinggi, karena menyerap tenaga kerja lokal dan menjaga rantai pasok bahan baku tradisional," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dari sebuah lembaga riset independen.

Selain itu, keberadaan Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya memberikan pasar langsung bagi produk tenun. Data kunjungan wisatawan ke kawasan wisata adat di Lombok menunjukkan tren kenaikan year-on-year pasca pembukaan kembali penerbangan internasional, yang berarti permintaan terhadap suvenir tenun berpotensi ikut terdongkrak. Dengan demikian, bantuan alat tenun bukan hanya soal produksi, melainkan juga penguatan posisi tawar perajin dalam rantai nilai pariwisata.

Kontra: Tantangan Keberlanjutan dan Akses Pasar

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa bantuan sarana produksi tanpa pendampingan pemasaran berkelanjutan berisiko tidak menghasilkan dampak jangka panjang. Persoalan klasik usaha mikro di daerah wisata adalah ketergantungan pada musim kunjungan dan fluktuasi sentimen pasar global. Ketika jumlah wisatawan menurun, perajin menghadapi penumpukan stok dan tekanan arus kas yang dapat menggerus modal kerja.

Selain itu, persaingan dengan produk tekstil pabrikan yang lebih murah menjadi tantangan tersendiri. Kain tenun tradisional dengan proses pewarnaan alami membutuhkan waktu produksi lebih lama, sehingga harga jualnya relatif lebih tinggi. Tanpa diferensiasi yang kuat dan sertifikasi produk, perajin berisiko kehilangan pangsa pasar, terutama di segmen pembeli yang sensitif terhadap harga.

Proyeksi Bank Indonesia per triwulan pertama 2024 menunjukkan pertumbuhan ekonomi NTB berada pada kisaran 5,1 hingga 5,5 persen, ditopang sektor pertanian, pertambangan, dan pariwisata. Namun, kontribusi sektor kriya terhadap pertumbuhan tersebut masih relatif kecil dan rentan terhadap guncangan eksternal. Oleh karena itu, keberlanjutan program pemberdayaan perlu diukur tidak hanya dari jumlah bantuan, tetapi dari peningkatan pendapatan riil perajin dan keberlanjutan portofolio usaha mereka.

Kesimpulannya, langkah pemulihan ekonomi melalui penguatan kapasitas produksi perajin tenun merupakan fondasi penting, namun memerlukan integrasi dengan strategi pemasaran digital, akses pembiayaan mikro, dan penguatan kelembagaan kelompok usaha. Tanpa itu, risiko program bersifat sementara tetap terbuka, dan upaya kebangkitan ekonomi desa adat berpotensi kehilangan momentum di tengah ketidakpastian sentimen pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User