Pertamina Dorong Homestay Mandalika Lewat Pelatihan dan Energi Desa
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal IV 2024, kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mencatat kenaikan kunjungan wisatawan year-on-year sebesar 18,7 persen dibandin...
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal IV 2024, kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mencatat kenaikan kunjungan wisatawan year-on-year sebesar 18,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini tidak terlepas dari perhelatan MotoGP Mandalika yang menjadi katalis utama pertumbuhan sektor akomodasi, khususnya homestay dan penginapan berbasis masyarakat lokal. Dalam konteks itulah, Pertamina mengambil peran melalui serangkaian program pemberdayaan yang menyasar pelaku usaha mikro di sekitar sirkuit.
Program yang dijalankan mencakup pelatihan pengelolaan homestay—mulai dari manajemen kebersihan, standar pelayanan tamu, pemasaran digital, hingga pencatatan keuangan sederhana. Selain itu, terdapat pula inisiatif Desa Energi Berdikari yang menyediakan akses energi bersih bagi rumah tangga dan usaha kecil di kawasan penyangga. Pendekatan ini menyentuh dua sisi sekaligus: sisi hilir berupa kesiapan layanan wisata, dan sisi hulu berupa ketersediaan energi yang lebih stabil dan terjangkau.
Di Satu Sisi: Efek Berganda bagi Ekonomi Lokal
Dari perspektif pembangunan ekonomi daerah, intervensi semacam ini berpotensi menciptakan efek berganda alias multiplier effect. Ketika kualitas homestay meningkat, harga sewa dapat terkoreksi naik secara wajar, dan pendapatan rumah tangga peserta program berpeluang tumbuh. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat hunian akomodasi non-bintang di Lombok berada di kisaran 52,3 persen pada 2024, masih di bawah rata-rata nasional yang menyentuh 58,1 persen. Artinya, ada ruang perbaikan yang cukup besar bila standar pelayanan dan akses energi diperbaiki.
Energi menjadi variabel penting karena homestay membutuhkan pasokan listrik yang andal untuk pendingin ruangan, pemanas air, dan koneksi internet. Program Desa Energi Berdikari, yang mengandalkan panel surya di beberapa lokasi, membantu menekan biaya operasional bulanan. Penurunan biaya operasional berarti margin pelaku usaha kecil bisa lebih sehat tanpa harus menaikkan tarif secara agresif—sebuah kombinasi yang menguntungkan baik bagi pemilik homestay maupun wisatawan.
"Pemberdayaan masyarakat sekitar destinasi wisata bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan rantai pasok pariwisata. Tanpa masyarakat lokal yang siap, lonjakan kunjungan justru bisa menciptakan ketimpangan," ujar seorang pengamat ekonomi pariwisata dari sebuah lembaga riset independen di Jakarta.
Di Sisi Lain: Tantangan Fundamental dan Sentimen Pasar
Namun, optimisme ini perlu dibaca dengan hati-hati. Pertama, sifat permintaan wisata Mandalika sangat bergantung pada kalender event. Di luar pekan MotoGP dan ajang besar lainnya, tingkat okupansi homestay bisa turun tajam, bahkan di bawah 35 persen pada bulan-bulan sepi. Ketergantungan pada acara musiman membuat proyeksi pendapatan pelaku usaha rentan terhadap fluktuasi jadwal event nasional maupun internasional.
Kedua, dari sisi kapasitas sumber daya manusia, pelatihan singkat kerap tidak cukup untuk mengubah praktik usaha secara permanen. Tanpa pendampingan berkelanjutan dan akses pembiayaan yang memadai, banyak homestay berpotensi kembali ke pola pengelolaan lama. Rasio kredit usaha mikro di NTB yang masih relatif rendah—sekitar 21,4 persen terhadap total kredit perbankan daerah—menjadi indikator bahwa likuiditas bagi usaha kecil belum sepenuhnya inklusif.
Ketiga, capital outflow dari kawasan penyangga tetap menjadi risiko bila wisatawan lebih memilih hotel jaringan besar di dalam kawasan ekonomi khusus. Homestay lokal harus bersaing bukan hanya soal harga, tapi juga kepercayaan, ulasan digital, dan kemudahan pembayaran. Di sinilah pentingnya integrasi platform digital dan sertifikasi standar yang diakui pasar.
Valuasi Program dan Proyeksi ke Depan
Jika diukur dari sisi valuasi manfaat, setiap rupiah yang diinvestasikan untuk pelatihan dan infrastruktur energi desa berpotensi menghasilkan pengembalian sosial jauh lebih tinggi dibanding intervensi yang bersifat karitatif. Tren ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan pariwisata berkelanjutan yang menempatkan masyarakat sebagai pemilik manfaat utama, bukan sekadar penonton.
Ke depan, fundamental ekonomi Mandalika akan sangat ditentukan oleh tiga hal: konsistensi kalender event, kualitas infrastruktur pendukung, dan kapasitas pelaku usaha lokal dalam menjaga standar layanan. Sentimen pasar terhadap destinasi ini masih positif, tetapi sentimen saja tidak cukup. Diperlukan eksekusi jangka panjang, pengukuran dampak yang transparan, dan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan mitra korporasi.
Dengan demikian, program pengembangan homestay dan energi desa di Mandalika layak dibaca sebagai langkah awal yang strategis, sekaligus pengingat bahwa keberlanjutan sebuah destinasi wisata bertumpu pada seberapa besar manfaatnya benar-benar mengalir ke masyarakat setempat.
Comments (0)