Pertamina Dorong 38 UMKM Tembus Pasar Global di INACRAFT 2026
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2025, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 97 ...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2025, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih tertahan di kisaran 15,7 persen, jauh di bawah Vietnam yang mampu menembus angka 25 persen. Kesenjangan inilah yang menjadi latar pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, INACRAFT, yang kembali digelar di Jakarta pada Oktober 2026. Pertamina membawa 38 UMKM binaan untuk ikut serta dalam ajang tersebut.
Mengapa Partisipasi di Pameran Internasional Penting bagi UMKM?
Pameran menjadi jembatan antara produsen kecil dan pembeli lintas negara yang sulit dijangkau lewat kanal digital. Data Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia menunjukkan transaksi pameran kerajinan tahun lalu menembus Rp 1,2 triliun, naik 18 persen year-on-year dibanding edisi sebelumnya. Dari total tersebut, sekitar 40 persen berasal dari pembeli mancanegara yang hadir langsung. Artinya, kehadiran fisik masih menjadi faktor penentu dalam membangun kepercayaan dagang, terutama untuk produk bernilai tambah seperti kriya dan fesyen etnik.
Bagi UMKM binaan Pertamina, pameran ini bukan sekadar etalase. Pelaku usaha memperoleh akses pembinaan kurasi produk, pengemasan, hingga literasi ekspor yang meningkatkan kesiapan mereka bersaing di pasar global. Sejumlah peserta mengaku kapasitas produksi menjadi tantangan utama ketika pesanan masuk dalam jumlah besar. Peningkatan kapasitas, likuiditas, dan rantai pasok menjadi syarat agar momentum pameran tidak berhenti pada transaksi satu kali.
Di satu sisi, program pendampingan korporasi seperti ini memberi dampak nyata pada perluasan jaringan pelanggan UMKM. Survei internal sejumlah BUMN pembina menunjukkan sekitar 65 persen UMKM binaan mengalami kenaikan omzet setelah mengikuti pameran berskala nasional, dengan rata-rata pertumbuhan 20 hingga 30 persen dalam enam bulan pasca-acara. Di sisi lain, keberlanjutan dampak itu sangat bergantung pada pendampingan pasca-pameran. Tanpa pendampingan, banyak pelaku usaha kembali stagnan karena keterbatasan modal kerja dan administrasi ekspor.
Pro: keikutsertaan UMKM di pameran internasional mempercepat kurva pembelajaran pelaku usaha, membuka akses pasar baru, dan mendorong standarisasi mutu produk. Kontra: tanpa strategi lanjutan, partisipasi berisiko menjadi kegiatan seremonial belaka. Biaya logistik, sertifikasi, dan pemenuhan standar internasional tetap menjadi beban yang tidak ringan bagi pelaku usaha berskala mikro.
"Pameran hanyalah pintu masuk. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi kualitas dan ketepatan waktu pengiriman ketika pembeli kembali dengan pesanan berulang," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan dari sebuah lembaga riset di Jakarta.
Fundamental Ekonomi dan Sentimen Pasar UMKM
Dari sisi fundamental, sektor kriya memiliki elastisitas permintaan yang cukup tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi global. Ketika ekonomi negara tujuan tumbuh di atas 3 persen, permintaan produk dekoratif dan fesyen etnik cenderung menguat. Sebaliknya, saat terjadi perlambatan atau gejolak geopolitik, capital outflow dari negara berkembang dapat menekan nilai tukar dan menaikkan biaya bahan baku impor. Sentimen pasar saat ini relatif terjaga, seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil di kisaran 5 persen.
Indeks kepercayaan pelaku usaha UMKM juga menunjukkan tren perbaikan dalam tiga kuartal terakhir. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 19 persen, sementara target pemerintah mencapai 30 persen. Artinya, ruang pembiayaan masih terbuka lebar, tetapi aksesnya perlu diperluas melalui skema pembiayaan alternatif dan kemitraan korporasi.
Valuasi produk kriya Indonesia di pasar global masih kompetitif. Dengan kekayaan budaya dan keragaman motif, produk dalam negeri memiliki diferensiasi yang sulit ditiru pesaing. Namun, kelemahan pada aspek pemasaran digital dan dokumentasi produk membuat potensi itu belum tergarap optimal. Digitalisasi portofolio produk menjadi kunci agar transaksi tidak berhenti di lokasi pameran.
Proyeksi dan Tantangan ke Depan
Ke depan, kontribusi UMKM terhadap ekspor ditargetkan naik menuju 20 persen dalam tiga tahun. Pencapaian itu memerlukan sinergi antara pemerintah, perbankan, dan badan usaha. Pendampingan korporasi seperti yang dilakukan Pertamina menjadi salah satu instrumen yang dapat mempersempit kesenjangan kapasitas antara UMKM dan pelaku usaha besar.
Namun, perhatian tetap perlu diberikan pada aspek keberlanjutan. Program pembinaan sebaiknya tidak berhenti di pameran, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan akses modal, sertifikasi, dan integrasi ke rantai pasok global. Dengan begitu, keikutsertaan 38 UMKM dalam INACRAFT tidak sekadar menjadi catatan statistik, melainkan titik balik menuju kemandirian usaha yang lebih kokoh.
Comments (0)