INACRAFT 2026 dan Dinamika Ekonomi Kriya Nusantara
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, dengan subsektor kriya menem...
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, dengan subsektor kriya menempati posisi terbesar kedua setelah kuliner. Pameran INACRAFT 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center hingga 11 Oktober 2026 menjadi salah satu barometer penting untuk membaca arah industri kerajinan tanah air. Ajang tahunan ini bukan sekadar etalase estetika, melainkan cermin dari kekuatan fundamental sektor kriya yang menyerap lebih dari 3,7 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.
Pro: Kriya sebagai Penopang Ekonomi Berbasis Komunitas
Di satu sisi, geliat INACRAFT 2026 menunjukkan tren positif yang konsisten. Nilai ekspor produk kriya nasional pada periode Januari–Agustus 2026 tercatat mengalami kenaikan sekitar 6,2 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data Badan Pusat Statistik. Angka ini melampaui pertumbuhan ekspor nonmigas secara keseluruhan yang hanya tumbuh 3,1 persen pada rentang waktu yang sama.
Kekuatan sektor kriya terletak pada struktur produksinya yang padat karya dan tersebar merata. Berbeda dengan manufaktur besar yang terpusat di kawasan industri, kriya tumbuh dari sentra-sentra kecil di Yogyakarta, Bali, Jepara, hingga Nusa Tenggara. Artinya, likuiditas yang berputar di pameran seperti INACRAFT langsung mengalir ke lapisan ekonomi paling bawah. Setiap transaksi di stan pameran berpotensi menghidupkan rantai pasok pengrajin, penyedia bahan baku, hingga jasa logistik lokal.
"Kriya adalah sektor yang paling tahan guncangan karena basisnya komunitas. Ketika permintaan global melemah, pengrajin bisa beralih ke pasar domestik dengan cepat," ujar seorang ekonom industri kreatif dalam diskusi panel ekonomi kreatif nasional.
Pemerintah sendiri memproyeksikan nilai transaksi INACRAFT 2026 menembus Rp 350 miliar, naik dari capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 310 miliar. Proyeksi ini didukung oleh sentimen pasar yang membaik, terutama setelah pemulihan daya beli kelas menengah pasca-2024. Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia per September 2026 berada di level 124,5, masih di zona optimistis.
Kontra: Tantangan Struktural yang Belum Terselesaikan
Di sisi lain, di balik gemerlap pameran, sektor kriya menghadapi persoalan fundamental yang tidak bisa diabaikan. Pertama, akses pembiayaan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, penyaluran kredit usaha rakyat untuk sektor kreatif hanya mencapai sekitar 4,3 persen dari total portofolio KUR nasional. Rasio ini jauh dari proporsi kontribusi sektor terhadap PDB yang mencapai 7,8 persen, menandakan adanya kesenjangan pendanaan yang signifikan.
Kedua, ancaman capital outflow di sektor hilir. Produk kriya Indonesia masih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi, lalu diolah dan diberi nilai tambah di luar negeri. Akibatnya, margin keuntungan terbesar tidak dinikmati pengrajin lokal. Valuasi produk kriya Indonesia di pasar global kerap kali jauh lebih rendah dibandingkan produk serupa dari negara lain yang sudah memiliki branding kuat.
Ketiga, regenerasi pengrajin menjadi persoalan serius. Survei internal menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen pengrajin aktif berusia di atas 45 tahun. Tanpa intervensi, dalam satu dekade ke depan sektor ini berpotensi kehilangan tenaga terampil dalam jumlah besar. Generasi muda cenderung memandang kriya sebagai pekerjaan dengan pendapatan tidak pasti, bukan sebagai karier yang menjanjikan.
Membaca Sinyal Pasar di INACRAFT 2026
Dari kacamata analis, INACRAFT 2026 perlu dibaca sebagai indikator sentimen jangka pendek, bukan ukuran kesehatan sektor secara menyeluruh. Lonjakan transaksi di lantai pameran memang menggembirakan, namun keberlanjutannya bergantung pada sejumlah faktor struktural. Apabila pemerintah mampu mendorong hilirisasi kriya, memperluas akses pembiayaan berbasis aset intelektual, dan membangun kanal ekspor digital yang terintegrasi, maka tren pertumbuhan 6,2 persen bisa berlanjut menjadi pola jangka panjang.
Sebaliknya, jika persoalan pendanaan dan regenerasi tidak segera diatasi, pameran semegah apa pun hanya akan menjadi perayaan musiman tanpa dampak fundamental. Indeks pembangunan ekonomi kreatif menunjukkan disparitas antarwilayah yang masih lebar, dengan Jawa dan Bali mendominasi lebih dari 70 persen total transaksi kriya nasional. Pemerataan menjadi kata kunci berikutnya.
Pada akhirnya, kemewahan visual yang tersaji di Jakarta International Convention Center sepanjang pekan ini adalah cermin dari potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap. Pasar melihat peluang, tetapi pelaku usaha menanti kepastian kebijakan. Di antara dua kutub itu, arah industri kriya Nusantara akan ditentukan oleh konsistensi eksekusi, bukan sekadar kemegahan etalase.
Comments (0)