Aug 24, 2026
Bisnis

Perry Warjiyo Mundur, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000

Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menciptakan gelombang kejut di pasar keuangan domestik. Di tengah amblasnya nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh level psikologis Rp18.000 pe...

Perry Warjiyo Mundur, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000

Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menciptakan gelombang kejut di pasar keuangan domestik. Di tengah amblasnya nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, langkah tersebut memicu pertanyaan tentang arah kebijakan moneter ke depan. Pengumuman mundurnya Perry dilakukan secara mendadak pada Senin sore, hanya beberapa jam setelah rupiah sempat diperdagangkan di posisi terendah baru.

Latar Belakang dan Momen Krisis Rupiah

Perry Warjiyo telah menjabat sebagai Gubernur BI sejak 2018 dan kembali terpilih untuk periode kedua pada 2023. Selama masa kepemimpinannya, ia dikenal dengan pendekatan stabilisasi melalui operasi moneter yang agresif dan program pendalaman pasar keuangan. Namun, tekanan terhadap rupiah yang terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir menjadi tantangan paling berat. Berdasarkan data pasar spot Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah ditutup pada level Rp17.965 per dolar AS pada sesi terakhir sebelum pengumuman mundur. Angka itu hanya berjarak 35 poin dari level psikologis Rp18.000, level yang terakhir kali terlihat pada krisis 1998.

Pelemahan terjadi di tengah penguatan dolar global yang dipicu oleh sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang menahan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi. Di sisi lain, Indonesia menghadapi defisit transaksi berjalan yang melebar hingga 1,2 persen dari produk domestik bruto pada triwulan kedua, didorong oleh penurunan harga komoditas ekspor andalan seperti batu bara dan minyak sawit. Kondisi itu mempersempit ruang gerak BI untuk mempertahankan rupiah tanpa mengorbankan cadangan devisa yang terus tergerus dari posisi tertinggi US$146 miliar pada awal 2024 menjadi US$131 miliar per akhir Oktober 2025.

Kebijakan yang Menimbulkan Polemik

Dalam beberapa kesempatan, Perry mengambil langkah-langkah nonkonvensional, termasuk intervensi ganda di pasar spot dan pasar obligasi, serta menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate secara bertahap dari 5,75 persen menjadi 6,25 persen pada semester pertama 2025. Meskipun upaya itu sempat menahan laju pelemahan, investor asing tetap mencatatkan arus keluar modal bersih (net capital outflow) dari portofolio surat berharga negara sebesar Rp32 triliun dalam tiga bulan terakhir. Pasar mulai mempertanyakan efektivitas strategi tersebut karena beban suku bunga tinggi justru memperlambat kredit perbankan dan menekan pertumbuhan ekonomi domestik yang pada triwulan ketiga hanya tumbuh 4,8 persen secara tahunan, lebih rendah dari ekspektasi 5,1 persen.

Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai mundurnya Perry tidak semata akibat tekanan nilai tukar. Ada spekulasi bahwa hubungan antara BI dan pemerintah sempat memanas terkait beban biaya stabilisasi rupiah yang membebani neraca bank sentral. Perry sendiri dalam konferensi pers terakhirnya sempat menegaskan bahwa "independensi BI adalah fondasi utama" dan menolak anggapan bahwa kebijakan moneter harus disubordinasikan pada pembiayaan fiskal. Namun, kenyataan bahwa rupiah terus melemah membuat kritik terhadap kebijakannya semakin tajam, baik dari pelaku pasar maupun kalangan DPR.

Dampak Pascapengunduran Diri

Pengumuman mundurnya Perry langsung direspons pasar dengan volatilitas tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 1,7 persen sebelum memangkas penurunan menjadi 0,9 persen setelah adanya klarifikasi bahwa transisi akan berjalan mulus. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 8 basis poin menjadi 7,35 persen, mencerminkan peningkatan persepsi risiko. Rupiah sendiri sempat melemah tipis ke level Rp17.988 per dolar AS dalam perdagangan non-deliverable forward (NDF) offshore, tetapi kemudian stabil di sekitar Rp17.950 setelah koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan.

Proses suksesi kini menjadi perhatian. Dewan Perwakilan Rakyat akan segera menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon pengganti yang diusulkan Presiden. Nama-nama seperti Deputi Gubernur Senior saat ini, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, hingga mantan pejabat senior BI yang kini berada di sektor swasta muncul dalam bursa spekulasi. Diperkirakan, gubernur baru akan dihadapkan pada dilema yang sama: menstabilkan rupiah tanpa mengorbankan momentum pemulihan ekonomi.

Proyeksi dan Ekspektasi Pasar

Analis menilai bahwa mundurnya Perry bisa menjadi titik balik jika gubernur baru mampu merumuskan bauran kebijakan yang lebih akomodatif terhadap pertumbuhan. Sebagian pelaku pasar berharap ada pelonggaran moneter yang terukur begitu inflasi inti kembali ke kisaran sasaran 2,5±1 persen. Namun, risiko capital outflow masih membayangi, terutama karena imbal hasil riil Indonesia yang semakin tipis di mata investor global. Dalam jangka pendek, stabilitas akan sangat bergantung pada sinyal awal yang disampaikan oleh pejabat BI dan kemampuan koordinasi dengan otoritas fiskal untuk mengelola persepsi risiko.

Mundurnya Perry Warjiyo meninggalkan warisan berupa fondasi kebijakan makroprudensial yang kuat, tetapi juga catatan pahit: rupiah yang terkapar di ambang Rp18.000. Bagi pelaku pasar dan masyarakat, transisi ini menjadi momen penuh kewaspadaan, menanti apakah bank sentral akan kembali menemukan titik keseimbangan antara independensi dan kebutuhan mendesak menjaga nilai mata uang nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User