Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 yang mengguncang Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 14 Desember 2021 menelan setidaknya tujuh korban jiwa dan merusak ratusan bangunan. Di tengah kondisi itu, anak-anak menjadi kelompok paling rentan. Mereka bukan hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga menyimpan guncangan psikologis yang kerap tidak terlihat. Kehadiran relawan Pertamina Peduli di wilayah terdampak pun menjadi harapan, khususnya lewat kegiatan trauma healing yang bertujuan menumbuhkan kembali keceriaan anak-anak penyintas.
Bermain dan Berinteraksi sebagai Jalan Pemulihan
Dalam kegiatan pemulihan psikososial itu, para relawan menghadirkan beragam permainan sederhana, sesi menggambar, hingga nyanyian bersama di ruang terbuka yang aman. Anak-anak diajak mengekspresikan perasaan tanpa paksaan, sementara suasana hangat dibangun agar mereka merasa diterima. Metode semacam ini bukan sekadar pengisi waktu. Sejumlah kajian psikologi bencana menunjukkan bahwa pendekatan bermain mampu menurunkan tingkat kecemasan, memperbaiki kualitas tidur, dan membangun kembali rasa percaya diri anak pascatrauma. Interaksi antarsejawat dalam permainan kelompok juga melatih anak untuk kembali membangun relasi sosial yang sempat terputus akibat bencana. Rutinitas harian yang tercipta lewat jadwal bermain yang teratur memberi rasa normal bagi anak-anak di tengah situasi yang serba berubah.
Para relawan tidak memaksa anak-anak bercerita tentang pengalaman mereka. Sebaliknya, mereka membiarkan setiap anak membuka diri dengan kecepatan masing-masing. Kesabaran semacam ini menjadi kunci, sebab anak yang mengalami tekanan psikologis biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali merasa aman. Kegiatan yang berlangsung secara bertahap ini juga melibatkan orang tua, sehingga pemulihan tidak berhenti di lokasi kegiatan, tetapi berlanjut di rumah masing-masing. Dengan begitu, dukungan emosional yang diterima anak menjadi lebih berkelanjutan.
Dua Sisi Pemulihan: Fisik dan Mental
Di satu sisi, bantuan fisik seperti logistik, hunian sementara, dan perbaikan infrastruktur menjadi prioritas utama dalam masa tanggap darurat. Kecepatan penyaluran bantuan menentukan seberapa cepat warga kembali menata kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, tanpa pemulihan mental yang memadai, bantuan fisik kehilangan separuh maknanya. Anak-anak yang masih dihantui ketakutan akan kesulitan kembali belajar dan bersosialisasi, sehingga dampak bencana berpotensi berlanjut jauh melampaui masa tanggap darurat. Para ahli menilai kombinasi keduanya sebagai pendekatan paling ideal untuk menekan dampak jangka panjang.
“Pemulihan anak-anak adalah investasi jangka panjang bagi masa depan wilayah ini. Ketika mereka kembali ceria, proses membangun kembali komunitas akan berjalan lebih cepat,” ujar koordinator relawan Pertamina Peduli di lokasi kegiatan. Pernyataan itu mencerminkan keyakinan bahwa pemulihan psikososial bukan pelengkap, melainkan bagian inti dari strategi penanganan bencana secara menyeluruh.
Dimensi Ekonomi Pemulihan Pascabencana
Dari sisi fundamental ekonomi, bencana kerap memicu penurunan aktivitas usaha mikro dan kecil di wilayah terdampak. Berdasarkan pengalaman penanganan bencana sebelumnya, tren pemulihan ekonomi lokal biasanya berjalan lebih lambat dibandingkan pemulihan fisik karena pelaku usaha kehilangan stok barang dan modal kerja. Likuiditas usaha kecil yang menipis membuat mereka sulit bangkit tanpa dukungan pembiayaan. Dalam skala kecil, kondisi ini menyerupai capital outflow: dana produktif meninggalkan wilayah terdampak, baik dalam bentuk kerugian aset maupun perpindahan konsumsi ke luar daerah. Pemulihan psikologis warga, termasuk anak-anak, pada akhirnya ikut menentukan seberapa cepat roda ekonomi lokal kembali berputar.
Kehadiran perusahaan seperti Pertamina dalam penanganan bencana juga dapat dibaca dari sisi tanggung jawab sosial dan lingkungan. Porsi anggaran program kemitraan yang dialokasikan untuk tanggap darurat menjadi salah satu indikator komitmen korporasi, setara dengan rasio pengeluaran sosial terhadap laba perusahaan. Meski sulit diukur langsung, valuasi dampak sosial dari kegiatan semacam ini dinilai positif oleh para pengamat karena membantu menekan biaya pemulihan yang harus ditanggung negara dalam jangka panjang.
Ke depan, proyeksi pemulihan kawasan terdampak sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, korporasi, dan masyarakat. Jika dukungan psikososial terus berlanjut seiring proses rekonstruksi fisik, indeks pemulihan wilayah diharapkan mengalami kenaikan secara bertahap. Namun, evaluasi berkala tetap diperlukan agar program tidak berhenti di tengah jalan. Pada akhirnya, keceriaan anak-anak yang kembali bersemi menjadi tolok ukur paling jujur dari keberhasilan upaya kolektif ini.
Comments (0)