Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2026, ekonomi Nusa Tenggara Timur pada triwulan II-2026 tercatat tumbuh 3,9 persen year-on-year, didorong menggeliatnya sektor konstruksi dan transportasi pascagempa. Namun, di balik angka makro tersebut, ada tenaga kerja garda terdepan yang menopang pemulihan: para operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang tetap melayani masyarakat di tengah guncangan.
Valentinus Jantur (39) adalah salah satunya. Sejak pukul 07.00 WITA, ia berdiri di sisi dispenser SPBU di Ruteng, Kabupaten Manggarai, melayani pengendara yang antre mengisi bahan bakar. Pria yang akrab disapa Jantur ini menolak memilih di antara dua tanggung jawab yang menempel di pundaknya: tetap menjalankan tugas di SPBU dan memastikan keluarganya aman serta tercukupi di rumah.
Dua Tanggung Jawab di Pundak Seorang Operator
Rumah Jantur di pinggiran Ruteng ikut merasakan dampak getaran. Dindingnya retak, sebagian atap bergeser, dan keluarganya sempat mengungsi ke rumah kerabat selama beberapa hari. Setelah kondisi dinyatakan aman, mereka kembali, tetapi pekerjaan perbaikan belum tuntas hingga kini. Setiap hari ia membagi waktu: pagi hingga sore berkutat di depan dispenser, lalu malam harinya menambal retakan dinding atau mengantar anak-anak ke sekolah dengan sepeda motor tua.
Bagi Jantur, pekerjaan di SPBU bukan sekadar mencari nafkah. Dalam situasi darurat seperti pascagempa, stasiun pengisian bahan bakar menjadi salah satu simpul logistik yang menentukan. Ambulans, truk bantuan, hingga kendaraan dinas pemulihan bergantung pada pasokan bahan bakar yang terus mengalir. Karena itu, ia memilih tetap masuk kerja meski di tengah kekhawatiran akan gempa susulan. Setiap gemuruh kecil yang terasa membuatnya berhenti sejenak, memastikan kondisi aman, lalu melanjutkan tugasnya kembali.
Di Satu Sisi, SPBU Menjadi Penopang Pemulihan
Di satu sisi, kehadiran SPBU yang tetap beroperasi penuh memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan. Penyaluran bahan bakar di wilayah NTT pada semester I-2026 tercatat mengalami kenaikan sekitar 8,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring meningkatnya mobilitas warga dan masuknya peralatan rekonstruksi. Antrean kendaraan di SPBU Ruteng sepanjang pekan-pekan pertama pascagempa menjadi semacam indeks aktivitas ekonomi yang sedang bangkit kembali.
Para pelaku usaha mikro di sekitar Ruteng mengaku bergantung pada kelancaran pasokan ini. Pengemudi ojek dan angkutan umum, misalnya, baru bisa kembali mencari penghasilan setelah bahan bakar tersedia. Dengan kata lain, mobilitas yang stabil merupakan prasyarat fundamental bagi bangkitnya sektor usaha kecil yang menjadi penopang utama perekonomian daerah. Tren kenaikan permintaan ini, menurut catatan lapangan, masih berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya.
Di Sisi Lain, Beban di Bahu Operator Meningkat
Di sisi lain, beban yang dipikul operator tidaklah ringan. Jam kerja cenderung lebih panjang karena permintaan melonjak, sementara jumlah petugas di lokasi masih terbatas. Kelelahan fisik ditambah tekanan psikologis akibat trauma gempa membuat pekerjaan ini menuntut daya tahan ekstra. Jantur mengakui, pengeluaran rumah tangganya ikut membengkak: rasio belanja kebutuhan pokok terhadap pendapatan bulanan menjadi lebih besar, sementara pendapatan yang ia terima tetap. Ia pun harus menahan diri untuk tidak mengambil cuti, sebab setiap hari libur berarti layanan berkurang di tengah kebutuhan yang justru meningkat.
Kondisi itu membuat likuiditas rumah tangganya menipis. Uang yang biasanya dialokasikan untuk tabungan kini tersedot untuk material perbaikan rumah dan kebutuhan anak-anak. Jantur hanya bisa berharap pemulihan berjalan cepat, sebab semakin lama masa pemulihan, semakin besar pula beban yang harus ia tanggung seorang diri. Ia juga sadar, keluhan pribadi tak boleh mengganggu pelayanan, sebab warga yang antre pun sedang berada dalam situasi yang sama-sama sulit.
Proyeksi Pemulihan dan Peran Garda Terdepan
Para pengamat menilai keberlanjutan layanan dasar seperti bahan bakar menjadi penentu arah pemulihan ekonomi daerah. Seorang pengamat ekonomi yang memantau wilayah NTT menuturkan, pemulihan fisik boleh jadi berjalan cepat, tetapi pemulihan ekonomi hanya akan terjadi apabila aktivitas masyarakat kembali normal, dan itu mustahil tanpa pasokan energi yang stabil. Menurutnya, fundamental ekonomi daerah sebenarnya cukup kuat, namun daya tahannya diuji oleh seberapa cepat infrastruktur dan layanan publik pulih.
Proyeksi permintaan bahan bakar di kawasan ini diperkirakan terus tumbuh seiring mengalirnya dana rekonstruksi. Sentimen pasar terhadap ekonomi daerah mulai membaik, dan sejumlah pelaku usaha mulai mempertimbangkan kembali portofolio investasinya di sektor pariwisata dan perdagangan. Meski demikian, jika pemulihan berjalan lambat, kekhawatiran capital outflow — keluarnya dana investasi dari daerah — dapat menguat dan menekan valuasi aset lokal. Karena itu, menjaga layanan dasar tetap hidup bukan sekadar urusan operasional, melainkan bagian dari strategi pemulihan secara keseluruhan.
Jantur sendiri tidak terlalu memikirkan angka-angka proyeksi itu. Baginya, ukuran pemulihan yang paling nyata adalah ketika antrean di SPBU kembali normal dan keluarganya bisa tidur tanpa dihantui kekhawatiran. Dua tanggung jawab itu tetap ia pikul setiap hari, sembari berharap Ruteng segera pulih dan masyarakatnya kembali menjalani hidup seperti sedia kala.
Comments (0)