BOGOR — PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengumumkan penutupan sementara akses pada peron 4 dan 5 di Stasiun Bogor mulai akhir pekan ini. Langkah tersebut merupakan bagian dari proyek revitalisasi bertahap yang bertujuan memperluas kapasitas dan meningkatkan kenyamanan stasiun utama di lintas selatan Jabodetabek itu. Penumpang diharapkan menyesuaikan pola perjalanan mereka karena seluruh aktivitas naik-turun kereta akan dipusatkan pada peron lain yang tetap beroperasi.
Penyesuaian Operasi Harian
Selama fase penutupan yang direncanakan berlangsung hingga awal Agustus mendatang, hanya peron 1, 2, dan 3 yang melayani penumpang. Manajemen telah menyiapkan rekayasa pola operasi untuk mencegah penumpukan, termasuk percepatan waktu berhenti dan penambahan petugas pengarah di titik-titik rawan. “Kami meminta pengguna jasa tiba lebih awal dan mematuhi arahan di lapangan,” ujar juru bicara KCI dalam keterangan tertulis. Jumlah penumpang harian di Stasiun Bogor yang mencapai sekitar 80 ribu orang pada jam sibuk menjadi alasan utama mengapa pengaturan ulang arus ini sangat krusial. Penutupan bersamaan dua peron sekaligus diharapkan mampu memangkas total durasi proyek tanpa harus mengganggu pelayanan secara terus-menerus selama berbulan-bulan.
Cakupan Revitalisasi dan Target Kapasitas
Revitalisasi kali ini mencakup penggantian struktur atap peron yang mulai mengalami korosi, perluasan ruang tunggu, serta pemasangan sistem informasi penumpang berbasis digital. Kontrak pekerjaan juga meliputi perbaikan lantai peron dengan material antislip demi keselamatan saat musim hujan. Data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian menunjukkan bahwa tingkat okupansi Stasiun Bogor pada jam puncak telah menembus 120 persen dari kapasitas awal, sehingga pengembangan infrastruktur sisi selatan stasiun menjadi prioritas. Setelah rampung, kapasitas tampung peron 4 dan 5 diproyeksikan naik sekitar 35 persen, sejalan dengan penambahan frekuensi perjalanan KRL dari 44 menjadi 52 perjalanan per jam di lintas Bogor—Jakarta Kota.
Dampak pada Pola Perjalanan Penglaju
Bagi ribuan penglaju yang menggantungkan mobilitas harian pada rute ini, penutupan sementara berpotensi memperpanjang waktu tunggu, terutama pada kedatangan kereta dari arah Manggarai atau Jakarta Kota. Analisis simulasi operasi yang dilakukan KCI menunjukkan lonjakan kepadatan di peron 3 yang kini harus menampung penumpang dari dua peron yang ditutup. Untuk mengantisipasi hal itu, KCI menerapkan pengendalian antrean berbasis pembagian zona warna di area concourse. Penumpang akan diarahkan menuju titik tunggu yang disesuaikan dengan jadwal kereta melalui aplikasi KRL Access. Selain itu, PT KAI Commuter menambah puluhan petugas keamanan dan pelayanan untuk memperlancar pergerakan di jam sibuk pagi dan sore. Sejumlah pengguna jasa menyambut baik transparansi jadwal yang disampaikan lewat papan digital dan pengumuman bersuara di stasiun.
Mitigasi dan Alternatif Transportasi
Guna mengurangi beban Stasiun Bogor, KCI bersama Dinas Perhubungan Kota Bogor mengoperasikan bus pengumpan tambahan dari Terminal Bubulak dan Baranangsiang menuju stasiun-stasiun sekitar seperti Stasiun Cilebut dan Bojonggede. Penumpang yang biasanya naik dari Bogor diimbau mempertimbangkan kedua stasiun alternatif itu selama masa konstruksi. Tarif integrasi bus-kereta tetap diberlakukan tanpa kenaikan, dengan komitmen bahwa selisih biaya operasional bus akan ditanggung oleh pemerintah daerah melalui skema subsidi angkutan massal. Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor menyatakan bahwa koordinasi lintas instansi terus diperkuat agar gangguan terhadap mobilitas warga dapat diminimalkan. Evaluasi harian akan dilakukan untuk menyesuaikan jumlah armada bus sesuai realisasi volume penumpang.
Progres dan Harapan Jangka Panjang
Proyek revitalisasi ini merupakan bagian dari modernisasi 16 stasiun di lintas Bogor yang dibiayai melalui pinjaman lunak Jepang dan APBN. Selain peron, Stasiun Bogor juga akan dilengkapi eskalator baru, lift tambahan, serta area komersial terpadu yang ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada semester pertama tahun depan. Pengamat transportasi dari Universitas Indonesia menilai bahwa meskipun penutupan sementara menimbulkan ketidaknyamanan, langkah tersebut adalah konsekuensi logis dari pembangunan yang dilakukan tanpa penghentian total layanan. “Metode konstruksi night shift dan segmental memang memakan waktu lebih lama, tapi mempertahankan operasional stasiun yang hidup adalah opsi termahal sekaligus paling manusiawi bagi penglaju,” ujarnya. Dengan rampungnya revitalisasi, Stasiun Bogor diharapkan mampu melayani pertumbuhan penumpang yang diprediksi mencapai 10 persen per tahun hingga 2030, sekaligus menjadi wajah baru transportasi publik di kawasan penyangga ibu kota.
Comments (0)