Sep 14, 2026
Nasional

Penyelam Perempuan Haenyeo di Jeju Beralih Menjadi Penjaga Terumbu Karang

Di balik deburan ombak Selat Korea yang menghantam tebing basal Pulau Jeju, sebuah pergeseran ekologis besar tengah berlangsung di bawah permukaan laut. Pa

Penyelam Perempuan Haenyeo di Jeju Beralih Menjadi Penjaga Terumbu Karang

Di balik deburan ombak Selat Korea yang menghantam tebing basal Pulau Jeju, sebuah pergeseran ekologis besar tengah berlangsung di bawah permukaan laut. Para Haenyeo—komunitas penyelam perempuan legendaris Korea Selatan yang mampu menyelam bebas hingga kedalaman puluhan meter tanpa tabung oksigen—kini terpaksa mengubah tradisi ratusan tahun mereka. Perubahan iklim global yang ekstrem telah memorak-porandakan lanskap bawah laut, mengubah mereka dari pemburu hasil laut menjadi benteng terakhir pelindung terumbu karang.

Investigasi lapangan menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di sekitar Pulau Jeju meningkat sekitar 2,5 kali lebih cepat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu laut global selama lima dekade terakhir. Pemanasan cepat ini memicu fenomena penggurunan laut atau whitening (getnogeum), di mana padang alga dan rumput laut musnah digantikan oleh hamparan batu kapur tandus serta invasi spesies subtropis.

Kronologi Perubahan: Krisis Ekosistem Menuntut Aksi Cepat

Transformasi peran para penyelam tradisional ini tidak terjadi dalam semalam. Data observasi maritim dan catatan komunitas nelayan Jeju mencatat tahapan kritis berikut:

  1. Periode 2010–2015: Penurunan Drastis Hasil Tangkapan — Komunitas Haenyeo mulai mendapati kelangkaan abalone, teripang, dan rumput laut cokelat (*Ecklonia cava*) yang menjadi mata pencaharian utama mereka akibat naiknya suhu perairan.
  2. Periode 2016–2020: Ekspansi Karang Subtropis dan Bulu Babi — Terumbu karang keras tropis dan populasi bulu babi pemakan alga meledak secara tak terkendali, memicu pemutihan ekosistem dasar laut lokal.
  3. Periode 2021–Sekarang: Pembentukan Satgas Restorasi Laut — Menghadapi ancaman kepunahan ekosistem, para Haenyeo secara resmi bermitra dengan lembaga riset kelautan untuk melakukan pembersihan hama laut, pemantauan karang, dan penanaman kembali bibit alga pelindung.
"Kami yang paling tahu setiap jengkal dasar laut Jeju karena kami menyelam setiap hari tanpa mesin. Lautan kami kini sakit, airnya menghangat, dan batu-batu karang memutih. Jika kami tidak melindunginya sekarang, tidak akan ada yang tersisa untuk generasi mendatang," tutur salah seorang penyelam senior di Seogwipo.

Menyelamatkan Warisan UNESCO dari Dampak Pemanasan Global

Tradisi Haenyeo yang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2016 kini menghadapi ujian ganda: populasi penyelam yang mayoritas telah berusia di atas 65 tahun dan degradasi habitat yang kian parah. Dalam aktivitas patroli harian, para penyelam melakukan serangkaian intervensi konservasi terarah:

  • Pembersihan Bulu Babi Berlebih: Mengangkat ribuan koloni bulu babi penjelajah yang memangsa habis spora rumput laut alami.
  • Pencatatan Spesies Asing: Mendokumentasikan kemunculan biota laut invasif dan memetakan zona pemutihan karang lunak khas Jeju.
  • Transplantasi Karang dan Alga: Menanam blok substrat buatan guna memulihkan rantai makanan bagi biota pesisir.

Langkah penyelamatan ini membuktikan bahwa kearifan lokal yang dipadukan dengan data sains kelautan dapat menjadi model mitigasi perubahan iklim berbasis komunitas yang paling efektif di garis depan krisis lingkungan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User