Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima jurnalis yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda memasuki hari ketujuh, yang merupakan batas akhir masa pencarian standar sesuai regulasi Basarnas. Namun, upaya penyisiran terhambat oleh kondisi cuaca ekstrem, terutama kabut tebal yang menurunkan jarak pandang hingga di bawah 300 meter di sekitar kawasan perairan Gunung Anak Krakatau.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Banten, Polairud, TNI AL, dan relawan nelayan lokal terus mengerahkan armada kapal penyelamat meski gelombang laut mencapai ketinggian 2,5 hingga 4 meter. Keberadaan kelima awak media yang sedang melakukan liputan investigasi lingkungan maritim tersebut hingga kini masih belum menemukan titik terang.
Kronologi Insiden dan Titik Terakhir Kontak
Berdasarkan rekaman komunikasi radio dan laporan pelabuhan, rombongan jurnalis tersebut menaiki kapal motor sewaan dari Dermaga Cikoneng menuju gugusan pulau di Selat Sunda sebelum cuaca buruk melanda. Berikut rekam jejak insiden tersebut:
- Jumat Pukul 06.30 WIB: Kapal motor bertolak dari pelabuhan dengan membawa 5 jurnalis dan 2 kru kapal menuju area perairan barat Banten.
- Jumat Pukul 14.15 WIB: Kontak radio terakhir mengabarkan bahwa kapal mengalami mati mesin di tengah cuaca mendung gelap dan ombak besar.
- Jumat Pukul 16.00 WIB: Sinyal darurat Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) sempat terdeteksi singkat sekitar 12 mil laut barat laut Pulau Sangiang sebelum akhirnya hilang total.
"Faktor visibilitas menjadi kendala paling krusial hari ini. Kabut pekat menyelimuti permukaan air sejak dini hari, membuat pantauan visual maupun penggunaan drone termal menjadi sangat terbatas," ujar Kepala Kantor SAR Banten dalam keterangan resminya.
Fokus Penyisiran dan Temuan Bukti Lapangan
Penyisiran pada hari terakhir difokuskan pada sektor selatan dan barat daya dari koordinat perkiraan hilangnya kapal. Pola arus laut Selat Sunda yang kuat mengarah ke Samudra Hindia, memperluas radius area pencarian hingga lebih dari 450 mil laut persegi.
- Pengerahan 3 unit kapal patroli kelas utama (KN SAR) dan perahu karet RIB.
- Penggunaan teknologi sonar bawah air untuk memetakan anomali dasar laut.
- Penyebaran maklumat pelayaran kepada kapal-kapal kargo dan nelayan yang melintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I.
Hingga siang hari, tim SAR baru menemukan beberapa serpihan pelampung dan jeriken bahan bakar yang diduga kuat milik kapal korban, namun tanda-tanda keberadaan para penumpang belum dapat dipastikan.
Evaluasi dan Potensi Perpanjangan Operasi
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, operasi pencarian standar berlangsung selama 7 hari. Namun, otoritas SAR menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh bersama pihak keluarga korban dan asosiasi jurnalis sebelum memutuskan penghentian atau perpanjangan operasi selama 3 hari ke depan jika ditemukan petunjuk baru yang signifikan.
Comments (0)