Sep 22, 2026
Bisnis

Penjarahan Istana Yogyakarta Tewaskan Arta, Sultan Dibuang ke Penang

Yogyakarta, 20 Juni 1812 – Kota Yogyakarta gempar. Pasukan bersenjata menyerbu pusat kekuasaan Kesultanan Yogyakarta dan menjarah seluruh kompleks keraton. Dalam operasi yang berlangsung kurang dari...

Penjarahan Istana Yogyakarta Tewaskan Arta, Sultan Dibuang ke Penang

Yogyakarta, 20 Juni 1812 – Kota Yogyakarta gempar. Pasukan bersenjata menyerbu pusat kekuasaan Kesultanan Yogyakarta dan menjarah seluruh kompleks keraton. Dalam operasi yang berlangsung kurang dari 24 jam, perpustakaan, arsip penting, serta kekayaan keraton raib. Peristiwa ini sekaligus mengakhiri kekuasaan Sultan Hamengkubuwono II yang diturunkan paksa dan dibuang ke Pulau Penang.

Serangan Mendadak di Jantung Keraton

Kesaksian para abdi dalem yang selamat menyebutkan, serangan dimulai pada pagi buta saat sebagian besar penghuni keraton masih terlelap. Ratusan serdadu mengepung perbentengan keraton, memaksa gerbang utama didobrak. Suara tembakan saling sahut-menyahut mewarnai suasana. Perlawanan prajurit keraton yang minim persenjataan modern tak mampu membendung gempuran. Dalam waktu singkat, pasukan penyerbu berhasil menguasai sejumlah titik vital, termasuk kediaman sultan dan bangsal penyimpanan pusaka.

“Mereka seperti sudah mengetahui seluk-beluk keraton. Target pertama adalah perpustakaan dan ruang arsip,” ujar seorang saksi yang enggan disebut namanya. Manuskrip-manuskrip kuno beraksara Jawa, catatan silsilah raja-raja Mataram, hingga salinan Babad Tanah Jawi yang tersimpan rapi di perpustakaan istana diangkut tanpa sisa. Diduga, koleksi ini akan dibawa ke pusat kolonial sebagai bagian dari rampasan perang.

Harta Benda Ludes

Selain aset budaya, kerugian material juga sangat fantastis. Peti-peti berisi uang tunai dalam berbagai mata uang—rix-dollar, gulden Belanda, hingga koin emas ducat—hilang dari perbendaharaan. Seorang mantan pejabat keuangan keraton memperkirakan nilai uang yang dijarah mencapai setara 50.000 gulden, jumlah yang sangat besar pada masa itu. Emas batangan, perhiasan berlian, dan perlengkapan upacara berlapis emas juga diangkut. Tidak ada satu pun lemari penyimpanan pusaka yang tersisa utuh.

Kerugian semakin parah karena penjarahan juga dilakukan terhadap barang-barang pribadi sultan. Mahkota, keris pusaka, serta koleksi kain songket yang menjadi simbol kedaulatan Yogyakarta lenyap. Beberapa di antaranya kini dikabarkan telah dimuat ke atas kapal yang bersandar di pelabuhan Semarang untuk selanjutnya dibawa ke luar Jawa. “Ini bukan sekadar perampokan, melainkan pembersihan identitas,” ujar seorang analis sejarah keraton.

Sultan Dilengserkan, Dibuang ke Penang

Puncak dari tragedi ini adalah pemakzulan Hamengkubowo II. Setelah keraton sepenuhnya dikuasai, sultan ditangkap dan dipaksa menandatangani dokumen turun takhta. Ia kemudian dibawa ke kapal yang langsung berlayar menuju Pulau Penang, tempat pembuangan para penentang kolonial. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak karena Hamengkubuwono II dikenal sebagai penguasa yang cukup disegani dan memiliki hubungan diplomatik yang rumit dengan kekuatan-kekuatan asing.

Sumber di dalam keraton menyebutkan, pemakzulan ini dilakukan bukan semata-mata karena serangan militer, tetapi juga akibat manuver politik internal. Pangeran Adipati, putra mahkota yang lebih kooperatif dengan pihak penyerbu, segera diumumkan sebagai penerus takhta dengan gelar Hamengkubuwono III. Langkah ini diyakini sebagai upaya penyerbu untuk menciptakan pemerintahan boneka agar Keraton Yogyakarta tidak lagi menjadi pusat perlawanan.

Luka Batin yang Abadi

Penjarahan Istana Yogyakarta pada 20 Juni 1812 meninggalkan luka batin yang mendalam bagi masyarakat. Bukan hanya kehilangan harta, melainkan juga penodaan terhadap simbol keagungan peradaban Jawa. Perpustakaan yang musnah menyimpan karya-karya yang tidak mungkin digantikan. Generasi mendatang akan kesulitan melacak akar sejarahnya sendiri akibat peristiwa ini.

Saat ini, aktivitas di alun-alun utara keraton lumpuh total. Para pedagang dan rakyat yang biasa memadati pasar tidak lagi beraktivitas karena khawatir akan terjadi penjarahan susulan. Tangis para permaisuri dan kerabat keraton yang kehilangan segalanya masih terdengar hingga ke pelataran luar. Sementara itu, dari kejauhan, kapal yang membawa Hamengkubuwono II semakin menjauh, meninggalkan keratom yang runtuh dan masa depan yang tidak pasti.

“Hari ini, kami tidak hanya kehilangan raja, tetapi juga sebagian jiwa kami,” ujar seorang sesepuh desa dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu mungkin akan menjadi epitaf bagi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Yogyakarta.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User