Pengusaha Dorong Gubernur BI Baru Jaga Stabilitas Rupiah

Keputusan Perry Warjiyo mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu respons hati-hati dari kalangan dunia usaha. Para pelaku industri dan asosiasi pengusaha menyuarakan hara...

Jul 28, 2026 - 09:36
0 0
Pengusaha Dorong Gubernur BI Baru Jaga Stabilitas Rupiah

Keputusan Perry Warjiyo mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu respons hati-hati dari kalangan dunia usaha. Para pelaku industri dan asosiasi pengusaha menyuarakan harapan bahwa transisi kepemimpinan di bank sentral akan berlangsung mulus dan, yang terpenting, figur pengganti mampu melanjutkan tugas berat menavigasi rupiah di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya reda. Mereka menekankan, kredibilitas dan independensi BI menjadi taruhan utama demi menjaga kepercayaan pasar.

Peta Tantangan Moneter Saat Ini

Berdasarkan data Bank Indonesia per 12 Maret 2025, nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp15.820 per dolar Amerika Serikat, terdepresiasi 2,3% secara year-to-date. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS menyusul ekspektasi penundaan pemangkasan suku bunga The Fed serta ketegangan geopolitik yang mendorong aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang. Cadangan devisa Indonesia per akhir Februari 2025 tercatat sebesar 138,4 miliar dolar AS, menurun tipis dari posisi Januari yang sebesar 139,1 miliar dolar AS. Inflasi inti masih terkendali di level 3,1% year-on-year, tetapi inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) sempat menyentuh 6,8% akibat gangguan pasokan komoditas hortikultura. Di saat yang sama, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami tekanan dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 6,9%, mencerminkan meningkatnya persepsi risiko.

Harapan Kolektif dari Ruang Rapat Pengusaha

“Kami tidak ingin melihat gejolak di pasar keuangan hanya karena nama baru di Kantor Pusat BI,” ujar seorang pemimpin asosiasi pengusaha kepada media. “Yang penting, gubernur baru memahami bahwa stabilitas rupiah bukan sekadar angka bursa, melainkan napas bagi kegiatan ekspor-impor, biaya bahan baku, dan rencana ekspansi usaha.” Pernyataan ini menggema di tengah persiapan transisi. Shinta Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menyampaikan bahwa dunia usaha membutuhkan bank sentral yang mampu merespons dinamika global dengan kebijakan yang terukur dan antisipatif. “Kami berharap pengganti Pak Perry memiliki ketajaman membaca tekanan eksternal, karena pergerakan rupiah sangat sensitif terhadap sentimen suku bunga AS, harga komoditas, dan aliran dana asing. Kebijakan yang terlalu reaktif atau justru terlalu hati-hati bisa berdampak pada biaya pendanaan usaha,” ungkapnya. Para pengusaha juga menginginkan komunikasi kebijakan yang transparan agar pelaku pasar dapat melakukan perencanaan bisnis tanpa kejutan yang mengganggu likuiditas.

Dua Sisi Koin Transisi Kepemimpinan

Di satu sisi, pasar dan pengusaha memiliki keyakinan fundamental bahwa transisi di BI tidak akan menimbulkan diskontinuitas kebijakan moneter. Institusi bank sentral dipandang telah memiliki kerangka kerja yang kuat, mulai dari kerangka kerja penargetan inflasi (Inflation Targeting Framework) hingga bauran kebijakan moneter dan makroprudensial. Gubernur baru tidak akan memulai dari nol; seluruh sistem dan Sumber Daya Manusia BI tetap solid. Likuiditas perbankan saat ini juga tergolong longgar, dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada di atas 25%, sehingga fondasi intermediasi cukup kuat. “Secara kelembagaan, BI sudah memiliki koridor yang jelas. Siapa pun penggantinya, asalkan tetap independen dan profesional, pasar akan segera menyesuaikan diri,” tulis seorang analis ekonomi senior dalam catatannya.

Di sisi lain, sentimen jangka pendek tidak bisa diabaikan. Sejarah menunjukkan bahwa setiap pergantian pucuk pimpinan bank sentral, terutama di negara dengan fundamental yang masih perlu diperkuat, kerap diiringi volatilitas nilai tukar. Kekhawatiran muncul jika figur pengganti dianggap kurang memiliki pengalaman menghadapi tekanan eksternal yang berat, seperti ketika rupiah sempat menyentuh level psikologis di atas Rp16.000 pada triwulan IV 2024 lalu. Pengusaha di sektor tekstil dan produk kimia yang ketergantungan impornya tinggi terhadap bahan baku mengaku sangat rentan terhadap perubahan kurs yang tiba-tiba. “Biaya produksi kami bisa membengkak 5–7% hanya karena depresiasi rupiah 200 poin dalam seminggu. Itu langsung menggerus margin,” ujar seorang pengusaha garmen di Bandung. Dengan demikian, ketidakpastian seputar gaya komunikasi dan respons kebijakan gubernur baru berpotensi memicu capital outflow dalam volume kecil hingga menengah sebelum kredibilitas terbangun.

Ekspektasi Pasar dan Proyeksi ke Depan

Sejumlah analis memperkirakan bahwa calon pengganti Perry Warjiyo harus segera menyusun strategi untuk menjaga aliran portofolio asing, khususnya di pasar Surat Berharga Negara (SBN), yang porsinya sekitar 14,5% dari total kepemilikan. Kejelasan arah kebijakan intervensi valas dan koordinasi dengan pemerintah dalam operasi moneter menjadi poin krusial. Pengusaha berharap Gubernur BI baru juga mampu memperdalam pasar keuangan domestik dan terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral (Local Currency Settlement) agar ketergantungan pada dolar AS berkurang. “Di tengah suku bunga acuan yang saat ini di posisi 6,0%, ruang untuk melonggarkan moneter sebenarnya terbatas jika rupiah masih labil. Jadi, gubernur baru harus pintar-pintar menyeimbangkan antara mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas,” kata seorang ekonom dari lembaga riset independen. Transisi ini, jika dikelola dengan baik, diyakini akan menjaga kepercayaan pasar dan memastikan bahwa dunia usaha dapat melanjutkan rencana investasi dan ekspansinya tanpa hambatan nilai tukar yang tak terduga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User