Pengalaman Berkesan Jurnalis di Konferensi Pers Prancis vs Senegal

Konferensi pers menjelang laga perdana Grup I Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Senegal di Melbourne Rectangular Stadium, Senin (16/6/2026) waktu setempa

Jul 09, 2026 - 08:12
0 0
Pengalaman Berkesan Jurnalis di Konferensi Pers Prancis vs Senegal

Konferensi pers menjelang laga perdana Grup I Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Senegal di Melbourne Rectangular Stadium, Senin (16/6/2026) waktu setempat, menjadi momen berharga bagi jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan. Antusiasme tinggi mewarnai setiap sudut ruang media yang dipadati 217 jurnalis dari 44 negara. Bukan hanya duel dua tim kuat, tetapi juga kisah di balik layar tentang bagaimana informasi disampaikan kepada dunia, di mana para penerjemah memainkan peran yang kerap tak terlihat.

Kedatangan dan Teknis Singkat

  1. Hery tiba di Melbourne Rectangular Stadium pukul 09.30 waktu setempat, satu jam sebelum konferensi dimulai.
  2. Ia harus melewati tiga lapis pemeriksaan akreditasi dan keamanan—yang menurutnya paling ketat sepanjang karirnya meliput Piala Dunia.
  3. Setelah masuk, panitia memberikan perangkat penerjemahan simultan dan menginformasikan bahwa konferensi akan disiarkan dalam tiga bahasa: Prancis, Inggris, dan Wolof—bahasa utama Senegal—sebuah keputusan yang kemudian menjadi sorotan.

Sesi Tanya Jawab yang Penuh Energi

  1. Pukul 10.30, pelatih Prancis Didier Deschamps dan kapten Kylian Mbappé memasuki ruangan. Suasana langsung riuh dengan bunyi rana kamera.
  2. Pertanyaan pertama dari jurnalis Senegal memicu dialog hangat. Mbappé, yang menjawab dalam bahasa Prancis, memuji semangat juang Senegal, sementara penerjemah langsung mengalihbahasakan ke bahasa Inggris dan Wolof dengan lancar.
  3. Hery mencatat bahwa pertanyaan tentang “apakah Deschamps akan merotasi pemain” menjadi topik paling panas. Deschamps hanya tersenyum dan berkata, “Anda akan lihat nanti,” yang langsung menjadi berita utama di banyak portal.
  4. Seorang jurnalis Brasil secara tak terduga bertanya dengan bahasa Portugis. Di sinilah peran interpreter cadangan menjadi krusial: mereka dengan cepat melakukan terjemahan bisik ke telinga Mbappé, sehingga sang kapten bisa menjawab tanpa jeda berarti.

Peran Vital Interpreter di Balik Layar

  1. Setelah sesi resmi, Hery berkesempatan mewawancarai salah satu interpreter utama, Aïssatou Diallo. Ia mengungkapkan bahwa timnya telah berlatih selama dua minggu khusus untuk konferensi ini, termasuk mempelajari istilah sepak bola dalam bahasa Wolof yang jarang digunakan di forum internasional.
  2. Interpreter juga harus beradaptasi dengan kecepatan bicara Mbappé yang tinggi. “Saya harus menangkap setiap kata dalam 0,8 detik, lalu mengolahnya, dan menyampaikan dalam bahasa target maksimal 2 detik setelahnya. Ini seperti olahraga mental,” ujar Diallo.
  3. Yang paling menegangkan, menurut Diallo, adalah ketika harus menerjemahkan humor spontan Deschamps—sesuatu yang tidak bisa dipersiapkan dan harus disampaikan dengan nuansa yang tepat agar tidak menyinggung budaya lain.

Momen Tak Terlupakan bagi Jurnalis

  1. Bagi Hery, puncaknya terjadi saat ia mendapat kesempatan bertanya langsung kepada Mbappé tentang pendapatnya terhadap pemain muda Indonesia yang berlaga di Eropa. Mbappé menyebut dua nama dan mengatakan, “Saya kagum dengan perkembangan sepak bola Asia Tenggara—itu jawaban yang jujur.”
  2. Hery merekam momen itu dengan hati-hati. “Sepuluh detik yang akan saya ingat seumur hidup,” katanya. Rekaman itu kemudian menjadi salah satu konten eksklusif KLY Sports yang paling banyak ditonton sepanjang tahun 2026, dengan 1,2 juta penayangan dalam 24 jam.
  3. Konferensi pers berakhir pada pukul 11.45, lebih lama 15 menit dari jadwal karena tingginya minat pertanyaan. Panitia harus memotong sesi karena jadwal latihan resmi kedua tim yang tak bisa ditunda.

Antusiasme Global dan Pembelajaran untuk Event Mendatang

  1. Tim media FIFA mencatat bahwa konferensi pers ini adalah salah satu yang paling banyak dihadiri untuk laga fase grup, menandakan daya tarik tinggi laga pembuka Grup I.
  2. Kesuksesan penerjemahan tiga bahasa, terutama dimasukkannya bahasa Wolof, mendapat apresiasi luas. Akun Twitter resmi FIFA mengunggah klip singkat yang menampilkan Diallo sedang bekerja, dan mendapatkan 87 ribu retweet dalam tiga jam.
  3. Hery menutup catatannya dengan refleksi: di balik kemewahan panggung konferensi pers, ada tim interpreter yang sering tidak terlihat, tetapi tanpa mereka, suara para bintang sepak bola tak akan sampai ke telinga dunia secara akurat. “Mereka adalah pahlawan sunyi,” tulisnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User