Pendiri Gudang Garam: Rutin Ziarah Gunung Kawi, Berujung Miliarder

Di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kompleks pemakaman yang telah berusia lebih dari satu abad menyimpan kisah-kisah spiritual yang diyakini banyak kalangan pebisnis Tionghoa sebagai ...

Pendiri Gudang Garam: Rutin Ziarah Gunung Kawi, Berujung Miliarder

Di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kompleks pemakaman yang telah berusia lebih dari satu abad menyimpan kisah-kisah spiritual yang diyakini banyak kalangan pebisnis Tionghoa sebagai pembawa keberuntungan. Ribuan peziarah datang saban tahun, namun hanya segelintir nama yang kemudian benar-benar mencatatkan diri sebagai pemilik kekayaan kelas wahid. Salah satu di antaranya—yang paling menonjol—adalah pendiri pabrik rokok terbesar di Indonesia, seorang pria yang melekatkan ritual ziarahnya pada denyut nadi bisnis sejak era 1950-an.

Sosok itu adalah Surya Wonowidjojo, atau akrab disapa Tjoa Ing Hwie, pendiri PT Gudang Garam Tbk. Lahir di Fujian, Tiongkok, pada 1923 silam, ia merantau ke Kediri saat usia remaja. Mulanya bekerja pada pabrik rokok milik kerabat, Surya muda mengamati seluk-beluk industri kretek yang ketika itu masih berupa industri rumahan. Pada 1958, dengan modal seadanya, ia mendirikan merek rokok sendiri yang kelak menjadi legenda. Namun, di balik keputusan-keputusan bisnisnya yang tajam, ada satu kebiasaan yang terus dijalankannya tanpa putus: berziarah ke makam Eyang Jugo di Gunung Kawi.

Ritual yang Menjadi Pondasi Mental

Gunung Kawi bukan sekadar lokasi wisata religi. Bagi sebagian pengusaha Tionghoa, kompleks makam ini merupakan pusat energi spiritual yang dipercaya mampu memberikan kejernihan pikiran dan petunjuk arah. Surya Wonowidjojo disebut-sebut sebagai peziarah paling loyal. Sumber-sumber di lingkungan keluarga besarnya menceritakan, pada masa-masa sulit—entah itu saat harga cengkeh meroket atau ketika bersaing sengit dengan merek lain—Surya akan menyempatkan diri menempuh perjalanan berjam-jam dari Kediri ke Malang hanya untuk bermeditasi dan berdoa di depan pusara Eyang Jugo.

Kedekatannya dengan Gunung Kawi bukan gimik. Kesaksian dari sopir pribadinya yang mengabdi puluhan tahun mengungkapkan bahwa frekuensi kunjungan bisa mencapai dua kali sebulan, terutama pada masa awal perusahaan berdiri. Ia biasa datang tengah malam, menghindari keramaian, lalu duduk bersila hingga subuh. Ritual ini terus bertahan bahkan setelah Gudang Garam menjelma menjadi perusahaan publik dengan ribuan karyawan.

Dari Pabrik Kecil Menuju Kekaisaran Kretek

Tak banyak yang menyadari bahwa di balik kebiasaan spiritual itu, Surya menjalankan strategi bisnis yang terukur. Di satu sisi, tradisi ziarah memberinya ketenangan; di sisi lain, ia sangat rasional dalam membaca pasar. Pada 1960-an, saat merek-merek lain masih berkutat pada kemasan sederhana, Gudang Garam meluncurkan varian Surya—rokok kretek filter premium yang langsung merebut segmen menengah atas. Keputusan ini diambil tak lama setelah sebuah ritual panjang di Gunung Kawi.

Angka membuktikan lompatannya. Kapasitas produksi yang semula hanya 50 juta batang per tahun pada 1958 melesat menjadi lebih dari 50 miliar batang pada awal 1990-an. Ketika perusahaan melakukan penawaran umum perdana pada 1990, sahamnya langsung diburu investor. Valuasi pasar Gudang Garam kini mencapai lebih dari Rp 60 triliun, menjadikannya salah satu emiten konsumer dengan bobot terberat di Bursa Efek Indonesia.

Kekayaan yang Mengalir ke Generasi Berikutnya

Rutinitas ziarah Surya Wonowidjojo bukan hanya melahirkan ketangguhan mental pribadi, tetapi juga mewarnai budaya keluarga besarnya. Setelah ia wafat pada 1985, kendali perusahaan beralih ke putranya, Susilo Wonowidjojo, yang tetap meneruskan tradisi ke Gunung Kawi. Hasilnya, konsistensi itu turut menjaga kesinambungan bisnis. Majalah Forbes secara rutin menempatkan keluarga Wonowidjojo dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Pada 2024, total kekayaan bersih mereka diperkirakan menembus 14 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp 220 triliun—sebuah lompatan dari posisi sebelumnya yang sempat tergerus pandemi.

Angka ini menimbulkan dua cara pandang. Di satu sisi, keberhasilan Surya menunjukkan bahwa kombinasi antara olah batin dan olah strategi dapat berpadu secara menguntungkan. Sebagian analis menyebut keberhasilannya tak lepas dari kemampuan membaca permintaan pasar yang tumbuh pesat pascakemerdekaan. Di lain pihak, muncul pandangan kritis: bahwa narasi spiritual tidak boleh menutupi realitas bahwa kesuksesan Gudang Garam juga ditopang oleh kebijakan cukai yang akomodatif bagi produsen besar pada masa Orde Baru serta keterlibatan politik yang halus namun terstruktur.

Pelajaran dari Sebuah Perjalanan Ziarah

Terlepas dari kontroversi tersebut, jejak Surya Wonowidjojo menunjukkan bahwa kepercayaan personal—jika dijalankan dengan komitmen—dapat membentuk karakter dan ketahanan seorang entrepreneur. Ia datang ke Gunung Kawi bukan untuk meminta kekayaan secara instan, melainkan untuk mencari pencerahan atas pilihan-pilihan sulit yang mesti diambil. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan tercatat membawa pulang pesan untuk lebih mementingkan kesejahteraan karyawan, yang kemudian diwujudkan melalui kebijakan perumahan dan layanan kesehatan internal perusahaan sejak 1970-an.

Para pebisnis muda yang ingin meniru langkahnya pantas mencermati bahwa yang membuat ritual ziarah itu bermakna bukanlah lokasinya, melainkan kesungguhan merefleksikan bisnis secara mendalam. Pada akhirnya, Gunung Kawi hanyalah latar. Aktor utamanya tetaplah seorang pria yang berani mengeksekusi ide dengan disiplin tinggi, sembari menjaga ruang hening di tengah hingar-bingar industri rokok yang kian padat. Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tak semua formula kesuksesan bisa dikuantifikasi—sebagian berbentuk keyakinan yang terus dipupuk hingga mengakar.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User