Pocong dan Kemelut Ekonomi, Teror yang Berulang

Di tengah gejolak ekonomi yang kembali memukul daya beli masyarakat, publik diramaikan oleh kemunculan fenomena gaib yang seolah datang bersamaan: teror pocong. Laporan warga tentang penampakan sosok ...

Pocong dan Kemelut Ekonomi, Teror yang Berulang

Di tengah gejolak ekonomi yang kembali memukul daya beli masyarakat, publik diramaikan oleh kemunculan fenomena gaib yang seolah datang bersamaan: teror pocong. Laporan warga tentang penampakan sosok berbalut kain kafan yang melompat-lompat di malam hari bukan sekadar cerita seram lokal, melainkan cerminan psikologis yang telah tercatat dalam siklus krisis negeri ini. Bukan kali pertama, kemunculan hantu pocong justru mencuat ke permukaan saat Indonesia berada di persimpangan ekonomi yang sulit.

Akar Historis di Masa Kritis

Jauh sebelum media sosial menjadi katalis, sejarah mencatat pola serupa. Pada puncak krisis moneter 1998, ketika nilai tukar rupiah ambruk hingga menyentuh Rp16.000 per dolar AS dan inflasi melonjak di atas 70%, cerita tentang pocong di perkampungan pinggiran kota dan desa-desa merebak luas. Tahun 2005, saat pemerintah menaikkan harga BBM hingga 126% yang memicu gelombang demonstrasi massal, laporan mistis kembali terdengar. Begitu pula pada tahun 2008, di tengah imbas krisis keuangan global yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga titik terendah 1.111 poin, teror pocong kembali viral dari mulut ke mulut. Pola ini memperlihatkan bahwa sosok pocong bukan melulu entitas gaib, melainkan penanda keresahan kolektif yang berulang setiap kali fundamental ekonomi terguncang.

Data Indikator dan Kegelisahan Sosial

Untuk menempatkan fenomena ini dalam kerangka yang lebih terukur, mari kita tilik sejumlah indikator makro yang tengah menekan psikologis publik akhir-akhir ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, tingkat kemiskinan per September 2025 masih berada di angka 9,03%, setara dengan 24,9 juta penduduk, sementara rasio gini stagnan di 0,381 yang menandakan ketimpangan belum terurai. Di sisi lain, indeks keyakinan konsumen (IKK) Bank Indonesia terus merosot ke level 118,7 pada Desember 2025, turun 5,2 poin secara month-to-month, mengindikasikan bahwa rumah tangga kian pesimistis terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan. Tekanan harga pangan yang membuat inflasi volatile food menyentuh 6,7% year-on-year pada kuartal awal 2026 turut mengoyak rasa aman masyarakat lapisan bawah. Di satu sisi, penurunan daya beli ini menciptakan trauma ekonomi, tetapi di sisi lain ia membuka ruang bagi mekanisme koping irasional—termasuk mengalihkan kecemasan pada teror mistis yang diwariskan lintas generasi. Psikolog sosial menyebut fenomena ini sebagai moral panic yang muncul saat masyarakat kehilangan kendali atas nasib ekonominya.

Pro dan Kontra: Antara Mistisisme dan Sensasi Media

Perdebatan tentang akar teror pocong di masa sulit terbelah dalam dua perspektif. Pendukung teori korelasi ekonomi-mistis berpendapat bahwa tekanan ekonomi menurunkan pertahanan logis masyarakat. Sebuah studi dari Lembaga Survei Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan bahwa 42% responden dari kelompok berpendapatan rendah mengaku lebih rentan percaya pada cerita gaib ketika kondisi keuangan keluarga memburuk. Hal ini menjelaskan mengapa viralitas pocong kerap berasal dari kawasan padat penduduk berpenghasilan minim yang terdampak paling awal oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Di sisi lain, kelompok skeptis menyoroti peran media dan platform digital. Mereka menilai, algoritma media sosial yang mengamplifikasi konten berbau sensasional justru menciptakan efek viral tanpa hubungan kausal langsung dengan pergerakan ekonomi. Kontra: angka kemiskinan ekstrem di Indonesia sebenarnya mengalami penurunan tipis dari 1,5% menjadi 1,3% pada paruh pertama 2026, dan pertumbuhan ekonomi masih bertengger di 5,0%. Jika indikator agregat membaik, mengapa teror mistis justru marak? Jawabannya bisa jadi terletak pada ketimpangan antara pertumbuhan PDB dan pemerataan lapangan kerja, di mana mayoritas masyarakat tetap merasakan kesulitan di sektor informal.

Likuiditas Ketakutan dan Proyeksi ke Depan

Dari sudut pandang pelaku pasar, modal asing yang terus keluar akibat ketidakpastian global—tercatat terjadi capital outflow bersih sebesar Rp12,3 triliun dari pasar obligasi sepanjang bulan pertama 2026—menambah beban psikologis investor ritel. Meskipun fundamental makro seperti rasio utang terhadap PDB yang terjaga di 39% dan cadangan devisa yang masih solid di level 138 miliar dolar AS mampu menopang stabilitas sistem keuangan, sentimen pasar jangka pendek tetap dibayangi volatilitas. Tidak berlebihan jika teror pocong diartikan sebagai representasi metaforis dari “hantu” likuiditas yang terus membayangi pelemahan konsumsi domestik. Proyeksi BPS menunjukkan bahwa tanpa stimulus fiskal baru, konsumsi rumah tangga hanya akan tumbuh 4,7% pada 2026, melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam ruang ketidakpastian inilah, mitos dan kenyataan bertaut kembali. Masyarakat tidak hanya menghadapi defisit anggaran rumah tangga, tetapi juga defisit harapan yang diwadahi dalam bentuk ketakutan yang nyata sekaligus tak kasat mata—persis seperti kemunculan pocong di ujung gang saat malam semakin larut.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User