Orang Belanda Bertemu Kuntilanak di Jawa, Ini Reaksi Tak Terduganya
Di tengah rimba kisah mistis Nusantara, sebuah catatan lama milik warga Belanda bernama Augusta de Wit kembali mencuat dan memantik diskusi. Pasalnya, ia bukan sekadar mengaku melihat penampakan kunti...
Di tengah rimba kisah mistis Nusantara, sebuah catatan lama milik warga Belanda bernama Augusta de Wit kembali mencuat dan memantik diskusi. Pasalnya, ia bukan sekadar mengaku melihat penampakan kuntilanak di Pulau Jawa pada awal abad ke-20, tetapi juga menunjukkan reaksi yang sama sekali tidak lazim—sesuatu yang bahkan membuat arwah itu sendiri kebingungan.
Jejak Perempuan Penulis di Tanah Koloni
Augusta de Wit dikenal sebagai perempuan Belanda yang gemar melakukan perjalanan dan menulis. Pada masa itu, ia menjelajahi berbagai pelosok Hindia Belanda untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat, alam, serta kepercayaan lokal. Salah satu lawatannya membawanya ke sebuah desa terpencil di Jawa, di mana malam-malam sunyi masih dihuni oleh cerita-cerita yang membuat bulu kuduk berdiri.
Menurut catatan pribadinya, insiden itu terjadi ketika ia bermalam di sebuah pendapa beratap rumbia. Udara malam begitu lembap, bulan separuh menggantung di langit, dan hanya suara jangkrik yang memecah keheningan. De Wit mengisahkan bahwa sekitar pukul dua dini hari, ia terbangun dan memutuskan untuk duduk di serambi, menikmati ketenangan sebelum pagi tiba.
Tak disangka, di situlah semuanya dimulai.
Sosok Melayang di Bawah Pohon Asam
Dalam pandangan mata yang masih setengah mengantuk, de Wit melihat sesosok perempuan bergaun putih panjang melayang di bawah pohon asam yang rindang. Rambutnya terurai menutupi wajah, dan gerakan pakaiannya seperti tersentuh angin padahal dedaunan di sekitarnya diam. Sontak, gambaran klasik tentang kuntilanak—makhluk halus yang dipercaya bersemayam di pohon-pohon besar dan kerap menampakkan diri kepada manusia—langsung terlintas.
Awalnya, de Wit menduga itu hanyalah ilusi atau bayangan cahaya rembulan yang menipu mata. Namun, saat sosok itu perlahan-lahan bergeser mendekat ke arah pendapa tanpa menghasilkan bunyi langkah kaki sedikit pun, menyadari bahwa apa yang dilihatnya bukan hal yang bisa dijelaskan dengan logika sederhana. Sosok itu berhenti sekitar sepuluh meter dari tempatnya duduk, seolah sedang mengamati.
Di titik inilah, naluri manusia pada umumnya akan menjerit, melarikan diri, atau setidaknya membaca doa. Tapi de Wit tidak.
Reaksi Tak Terduga: Sapaan Hangat pada Arwah
Alih-alih dihantui rasa takut, de Wit justru disergap oleh rasa penasaran yang begitu besar. Dengan suara tenang dan intonasi yang selembut mungkin, perempuan Belanda itu memberanikan diri untuk menyapa kuntilanak tersebut. “Apakah Anda memerlukan bantuan? Mengapa Anda sendirian di luar pada jam selarut ini?” tanyanya seperti sedang berbicara kepada seorang tamu malam yang tersesat.
Kata-kata itu seketika mengubah suasana. Sosok kuntilanak yang semula diam dan menyeramkan mendadak berhenti melayang. Bahkan, dari kejauhan de Wit merasa melihat ekspresi kebingungan pada wajah yang sebelumnya tersembunyi di balik rambut itu. Hantu yang seharusnya menakuti justru tampak kikuk karena tidak disikapi dengan ketakutan. Beberapa detik kemudian, sosok itu berputar pelan, lalu menghilang begitu saja ditelan bayangan pohon asam—tak kembali lagi sepanjang malam.
Setelah kejadian itu, de Wit tidak serta-merta percaya bahwa ia telah menghalau makhluk gaib. Ia lebih melihatnya sebagai sebuah interaksi singkat antara dua entitas yang sama-sama tidak memahami satu sama lain, tetapi gagal karena bahasa teror tidak dipergunakan. Rasa ingin tahunya tentang sisi spiritual masyarakat Jawa justru semakin besar.
Keheranan Warga Lokal dan Tafsir Antropologis
Keesokan harinya, setelah de Wit menceritakan pengalaman itu kepada beberapa penduduk desa, reaksi yang muncul adalah ketercengangan. Banyak yang tidak menyangka bahwa kuntilanak akan bereaksi seperti itu. Menurut kepercayaan setempat, kuntilanak biasanya akan terus mengganggu hingga korbannya ketakutan atau bahkan pingsan. Jika ia pergi tanpa sebab yang jelas, artinya ada “kekuatan lain” yang tidak biasa.
Keberanian de Wit yang tenang dan sikapnya yang penuh empati dianggap sebagai respons yang langka. Seorang tokoh adat setempat bahkan berkomentar bahwa mungkin roh itu tidak terbiasa disapa dengan nada iba, sehingga kebingungan dan memilih mundur. Ini sekaligus menjadi pelajaran bahwa ketakutan kadang hanya sebuah reaksi terprogram, dan jika dipatahkan, yang menakutkan bisa kehilangan kuasanya.
Sejarah yang Membuka Dialog Antarbudaya
Cerita Augusta de Wit bukan sekadar legenda mistis biasa. Ia adalah jendela kecil yang memperlihatkan bagaimana benturan budaya dan cara berpikir bisa menghasilkan tafsir yang berbeda terhadap fenomena supranatural. Di satu sisi, pengalaman ini meneguhkan kepercayaan lokal bahwa alam gaib nyata adanya. Di sisi lain, ini memperkenalkan pendekatan baru yang lebih rasional dan humanis—bahwa tidak semua yang tidak diketahui harus ditakuti, kadang bisa ditanya.
Warisan kisah ini hingga kini masih diceritakan di kalangan peneliti cerita rakyat dan penggemar sejarah kolonial. Ia mengingatkan kita bahwa di antara deretan perjumpaan antara Timur dan Barat, ada satu momen unik di bawah pohon asam pada malam jumat kliwon yang berakhir bukan dengan jeritan, melainkan dengan sebuah pertanyaan sopan. Dan siapa sangka, hantu pun bisa kaget.
Baca juga:
Comments (0)